
Aku memintanya untuk menyingkir dari pintu kamar mandi,karena aku juga harus segera mandi karena tubuhku kini sudah sangat dingin.
Bukannya menyingkir,mas Rio justru malah mendekat kearahku.Aku beringsut mundur karena tak mau kejadian demi kejadian akan kembali terualang.
"Menyingkirlah mas,aku sudah kedinginan karena terlalu lama menunggumu selesai mandi."
Aku mendorongnya dengan kesal,namun dia malah mencekal lenganku.
"Itu salahmu!"
Ucapnya dengan tak tau malu melemparkan kesalahannya padaku.
Bukankah dia yang memulainya,kenapa justru menyalahkanku.
Gumamku dalam hati hingga dia tak mampu mendengar ucapanku.
"Apa salahku?"
Tanyaku sambil berusaha meronta agar di melepaskan pegangan di tanganku.
"Karena aku harus menyelesaikannya sendiri didalam sana!"
Aku hanya diam berusaha mencerna kata-katanya,meski ku tetap tak paham karena ilmuku belum samapai pada level itu.
"Lain kali jangan biarkan aku bertindak sejauh itu,jika akhirnya tetap akan ku tolak juga!"
Ucapnya sambil tangannya dengan kasar melepaskan cekalan ketanganku.
"Aduh.....sakit!"
Ucapku sambil memegang pergelangan tanganku denan satu tangan yang lain.
"Maaf,mana yang sakit?"
Tanyanya sambil menyentuh tanganku.
"Aku sudah memperingatkanmu tadi,tapi kamu seperti kesetanan karena sudah di kuasai oleh hawa nafsumu mas!"
"Maaf....aku kira kamu akan menyerahkannya,"
Jawabnya sambil mengelus tanganku yang sudah tidak sakit lagi.
"Tidak,sampai masalahmu dengan Jesika selesai."
Aku seperti memberinya angin segar karena saat mendengar ucapanku nampak senyum sumringah mengembang di bibirnya.
"Benarkah? aku akan menagih janji itu!"
Ucapnya dengan senang,tak lagi terlihat kekesalan diwajahnya seperti saat aku meninggalkannya keluar dari kamar mandi bahkan sampai dia selesai mandi.
__ADS_1
Aku menutup mulutku dengan kedua tanganku sendiri,menyesal akan perkataan yang sempat kuucapkan padanya.
Kenapa dengan mudahnya aku mengucapkan itu,bagaimana jika dia benar-benar akan menagih janji itu.
Ini sungguh tidak adil,saat dia berjanji justru tidak bisa menepati janjinya.Sedangkan saat aku berjanji dia pasti akan selalu menagihnya bahkan saat waktunya belum tiba sekalipun.
Satu minggu berlalu sejak kasus Jesika mulai mencuat ke publik,entah siapa yang menyebarkan gosipnya.
Harusnya ini bisa menjadi rahasia pihak sekolah yang tak seharusnya dengan mudah menjadi konsumsi para penggosip untuk disebar luaskan.
Saat itu hanya aku dan kak Ana,petugas kesehatan di UKS yang mengetahuinya.
Aku percaya kak Ana tidak mungkin menyebar luaskan kabar ini,apa lagi aku.Bahkan aku belum kembali masuk sekolah saat gosip itu sudah mulai di bicarakan disekolah.
Mas Rio dengan terpaksa di hentikan sementara oleh pihak sekolah selama satu minggu ini sejak namanya disebut-sebut sebagai orang yang menghamili Jesi.
Setiap pagi dia berangkat dari rumah mama seperti biasa namun perjalanannya bukan tertuju kesekolah,namun kerumahnya agar kedua orang tuaku tidak curiga.
Hari ini setelah pulang sekolah Medina berencana mengajakku mengunjungi Jesika dirumahnya,namun aku beralasan jika aku tidak enak pada pak Pras yang nantinya tidak bisa sholat Jum'at karena harus mengantarkanku kerumah Jesika.
Namun Medina tak mau tau,dia tetap merengek dan memaksaku untuk ikut dengannya kerumah Jesika sepulang sekolah nanti.
"Kalau begitu,biarkan saja pak Prasmu itu tetap bisa sholat Jum'at dan kita kerumah Jesi sendiri naik motorku saja!"
Usul Medina yang mulai ambil keputusan seenaknya sendiri,namun aku tak kuasa untuk menolaknya.
"Nanti aku coba izin ke orang tuaku dulu ya Din!"
Sepulang sekolah aku segera menelfon mama untuk meminta izin mampir kerumah Jesika bersama Medina dan mama dengan mudah memberi izin,namun aku tidak yakin jika mas Rio akan memberiku izin.
Setelah mendapat izin dari mama,aku beralasan ke toilet sebentar pada Medina sebenarnya untuk menelfon mas Rio guna meminta izin darinya.
Berkali-kali kucoba menghubunginya namun tak sekalipun dia menjawab,aku hanya bisa mengirim pesan yang juga tak kunjung diangkat.
Ku hubungi pak Pras untuk pulang lebih dulu jika ia akan melaksanakan sholat Jum'at,karena aku akan mampir kerumah Jesika bersama Medina.
Pak Pras segera menelfon seseorang namun sepertiny dia senasib denganku,seperti sedang menghubungi makhluk terpenting didunia ini.Bahkan dia saja saat ini sedang menganggur dan tidak mengajar karena kasus yang saat ini menimpanya,gerutuku dalam hati.
"Kenapa? tidak diangkat ya? hahaha,bahkan aku sudah menghubunginya sebelum dirimu Frans!"
Ledekku padanya yang sedang nenyembunyikan kekesalannya padaku.
"Maaf nona,saya tetap tidak bisa meninggalkan nona sendirian! saya tetap akan mengantarkan nona kemanapun."
Ucapannya nampak seperti sedang menahan kekecewaan.
"Baiklah antarkanku segera kerumah Jesika!"
Ucapku dengan gaya mas Rio sekarang sambil menahan tawa dihadapannya.
__ADS_1
"Baik nona,"
Dengan cepat pak Pras membukakan pintu mobil untukku dan segera melajukan mobil dengan pelan mengikuti laju sepeda motor Medina dari belakang.
"Carilah masjid terdekat,sepertinya pak Pras belum terlambat!"
Ucapku padanya saat mobil berhenti di depan rumah Jesika dan pak Pras baru saja hendak membuka pintu mobil untuk dirinya sendiri turun.
"Tapi nona.....!"
Jawabnya sepertinya dia begitu patuh pada tuan mudanya untuk terus menjagaku dan tunduk pada apapun perintahku sesuai keinginan nyonya besarnya.
"Pergilah! aku aman disini.Setelah selesai cepatlah kembali."
"Terima kasih nona,tapi....."
Dia nampak ragu meninggalkan tugasnya untuk menjgaku,namun aku berusaha meyakinkan bahwa aku baik-baik saja.
"Baik lah,jika ada apa-apa segera hubungi saya nona!"
Ucapnya sambil bergegas pergi memburu waktu,sedangkan aku dengan santai bersama Medina melenggang menuju pintu rumah Jesi.
Medina menunjukkan jarinya untuk memencet tombol pada bel rumah Jesi,tak perlu waktu lama segera terbuka dan muncullah seorang pelayan yang bekerja dirumah Jesi.
"Selamat siang non,mau bertemu nona Jesi ya?"
Tanyanya pada kami dan segera kami jawab dengan mengiyakan pertanyaannya.
Kami dipersilahkan masuk dan menunggu diruang tamu sambil pelayan memberi tahukan kedatangan kami pada Jesi.
"Maaf nona-nona,non Jesi sedang istirahat dikamar saya tidak berani mengganggunya karena takut non Jesi marah saat istirahatnya terganggu."
Ucap pelayan rumah Jesi memberi tahukan padaku dan Medina.
Seketika kami saling pandang saat mendengar ucapan pelayan pada kami.
"Yasudah bi tidak apa-apa,kamu pulang saja! tapi nanti jika Jesi sudah bangun tolong sampaikan padanya jika Medina dan Maura datang mengunjunginya ya,"
Ucap Medina pada pelayan sambil berpamitan mengajakku segera pergi dari rumah Jesi.
Aku membonceng sepeda motor matic milik Medina keluar dari komplek perumahan mewah tempat Jesi dan keluarganya tinggal.
"Stop Din!"
Ucapku tatkala teringat pak Pras yang sedang mencari masjid terdekat untuk melaksanakan ibadah Sholat Jum'at tadi.
Bahkan aku juga tidak tau dia pergi kemasjid yang mana,jika aku pergi meninggalkan rumah Jesi pasti dia akan kebingungan mencariku kerumah Jesi.
Segera kukirimkan pesan untuknya jika aku telah meninggalkan rumah Jesi bersama Medina,kuminta untuk segera menghubungiku segera setelah selesai melaksanakan ibadah Jum'atnya.
__ADS_1
BERSAMBUNG.....