
Aku segera turun namun tak kulihat sosok mas Rio maupun kak Aldi ketika aku sampai dibawah,justru tante Sarah yang bergegas segera menghampiriku setelah menyadari keberadaanku lalu menarik lenganku untuk duduk di sofa depan tivi di ruang tengah rumah ini.
"Sayang sekarang kan sudah malam,kamu menginap saja ya disini ya? besok pagi biar Rio yang antar kamu pulang."
"Maaf tante saya pulang saja."
Jawabku sambil celingukan mencari sosok pak Mario alias mas Rio,namun tak kunjung nampak batang hidungnya.
"Yaudah ngga papa,tapi sabar dulu ya tunggu Rio pulang dari mini market sebentar ya."
"Iya tante."
Jawabku sambil melirik jam dinding yang menggantung di atas tivi.
Tak perlu menunggu lama ternyata mas Rio datang juga dengan membawa bungkusan dengan logo khas mini market.
Aku begitu terkejut ketika sempat terlihat olehku isi dari bungkusan yang mas Rio bawa,ternyata isinya adalah pembalut wanita.
"Ini mam,nggak tau bener atau nggak habisnya banyak banget macemnya jadi bingung milihnya."
Ucapnya sambil menyodorkan bungkusan plastik pada maminya.
"Terima kasih ya sayang,sekarang tugas kamu antarkan calon menantu mama kembali pada orang tuanya dengan selamat dan utuh tanpa kurang apapun!"
"Iya mam.Kami pamit ya mam."
" Iya tante Rara pamit pulang dulu,tante istirahat ya.Assalamu'alaikum."
"Walaikum salam...kalian hati-hati ya dijalan."
Kami kembali menoleh kearah belakang,aku hanya tersenyum kearah tante Sarah yang juga tersenyum kearah kami berdua meninggalkannya.
"Perlu di pasangkan lagi nggak seatbeltnya?"
Tanya mas Rio sambil memasang seatbelt miliknya.
__ADS_1
"Tidak perlu,saya bisa sendiri."
Jawabku.
Mas Rio langsung melajukan mobil milik papanya kejalan raya yang masih ramai karena kebetulan ini malam minggu.
Sepanjang perjalanan kami hanya saling diam karena sepertinya sudah tidak ada lagi hal yang harus kami bicarakan.
Kupalingkan wajahku kearah kaca agar aku bisa lebih keluasa melihat kearah luar karena aku benar-benar canggung ketika mas Rio beberapa kali melihat kearahku,aku sangat tidak nyaman dengan pandangan matanya.
"Kenapa?"
Tanya mas Rio tiba-tiba menanyakan hal yang tidak aku mengerti.
"Apa?"
Tanyaku balik karena tak paham dengan apa yang dia tanyakan.
"Kenapa!"
"Apanya yang kenapa?"
Tanyanya sambil memandang kearahku.
"Emang aku kenapa?"
"Kenapa liat keluar terus menerus? kamu nggak nyaman sama aku,atau mau coba keluar?"
"Nggak."
Sepertinya mas Rio bisa membaca ketidak nyamananku ketika dekat dengannya,apalagi harus berduaan dalam satu mobil kayak gini .
"Kamu dekat sama aku saja nggak nyaman apalagi kalau nanti kita menikah! kamu terpaksa menerima lamaran orang tuaku?"
Aku hanya mengangguk pelan takut akan menyakiti perasaannya atau bahkan membuatnya marah.
__ADS_1
"Kamu......kamu!'
Mas Rio menghentikan laju mobilnya di tepi jalan dekat sebuah taman.
"Kan mas Rio sendiri yang bilang kalaunsetelah kita menikah nanti,kita boleh pisah kalau sampai dalam satu tahun diantara kita tidak ada perasaan saling cinta!"
Aku mengingatkan kembali perkataannya beberapa waktu lalu.
"Sudah tidak berlaku!"
"Hah! benarkah? kenapa? bukankah mas Rio sendiri yang bilang begitu?"
Aku menggelengkan kepala,heran dengan sikapnya yang plin plan.
"Karena kamu memang cucu dari keluarga anggara,bukan cucu angkat jadi semua kesempatanmu untuk memilih sudah tidak berlaku!"
"Kok gitu?!"
"Kenapa! nggak terima?"
"Tapi......"
"Nggak ada tapi-tapian!"
"Jadi......"
"Iya!"
"Aku belum selesai mengajukan
pertanyaan!"
Gerutuku kesal.
BERSAMBUNG.....
__ADS_1