
Aku masih sibuk mencari-cari temote tivi yang tak kunjung kutemukan dan ketika aku bangkit ternyata remote tivi berada dibawah tubuhku sedari tadi tergeletak diatas sofa.
"Mandilah dulu sana! sebentar lagi sarapanmu datang."
"Bagaimana saya bisa mandi kalau tuan muda masih ada disini? apa tuan muda mau melihat saya mandi lagi?!!"
Jawabku ketus sambil memencet tombol off pada remote tivi yang kupegang.
'Tok,tok,tok!'
Suara ketukan pada pintu yang terbuka lebar dan ternyata seorang pelayan.
"Permisi nona,tuan muda maaf mengganggu saya hanya mengantar sarapan milik nona Maura atas perintah tuan muda."
Ucap seorang pelayan berdiri didepan pintu.
"Taruh sarapannya dimeja,lalu pergilah!"
Kata mas Rio dengan nada datar dan wajah dingin seperti ketika berada disekolah.
"Baik tuan muda."
Pelayan meletakkan sarapan yang dibawanya dimeja yang ada dihadapanku dengan sangat hati-hati bahkan hampir tanpa menimbulkan bunyi sedikitpun.
"Terima kasih.....!"
Ucapku padanya sambi menyuguhkan senyum sebagai tanda terima kasihku atas layanan yang diberikan untukku.
"Sama-sama nona,saya permisi."
Lalu pelayan tersebut meninggalkan kami berdua saja dikamar.
"Cepat makan lah,lalu mandi!"
__ADS_1
"Baik tuan muda.....!"
Jawabku kesal.
"Berhenti memanggilku dengan sebutan itu! telingaku sakit rasanya mendengarmu memanggilku dengan panggilan itu!"
"Kenapa?"
"Kamu tidak dengar tadi aku bilang apa!"
"Iya,iya......galak sekali,ini kan bukan disekolah kenapa bersikap seperti itu juga saat dirumah?"
Aku mulai menyuapkan makanan kemukutku sesuap demi sesuap.
"Anda sudah sarapan? sini makan bersama saya sekalian!"
"Tidak perlu menawariku,itu saja mungkin kamu masih kurang!"
"Enak saja! memangnya saya serakus itu!"
"Enak saja!"
Ucapku sambil mengunyah makanan didalam mulutku.
"Kalau makan jangan sambil bicara,tidak sopan!"
Aku hanya bisa melotot kearah mas Rio alias sang tuan muda sebagai tanda protesku karena sejak tadi dialah yang mengajakku bicara dan kini justru aku yang disalahkan.
"Setelah ini mandilah!"
"Baiklah!"
Jawabku sambil menyuapkan sarapan pagiku kedalam mulutku sendiri.
__ADS_1
Sedangkan mas Rio pergi meninggalkan kamarku bagitu saja tanpa mengatakan apa-apa lagi,segera aku berjala menuju pintu dan menutupnya rapat-rapat.
Setelah menghabiskan sarapan pagiku,segera aku bergegas untuk mandi supaya tubuhku ini terasa segar.
Gemercik air yang keluar dari shower melalui tubuhku jatuh kelantai kamar mandi,wanginya sabun mandi khas aroma bunga mawar yang membuat pikiranku terasa rilex.
Setelah mandi aku segera mengemakan pakaian serta hijabku,baru saja aku selesai mengenakan hijab pasminaku terdengar suara pintu kamarku diketuk dari luar.Aku segera berjalan cepat membuka pintu kamar dan ternyata mama yang kini telah berdiri didepan pintu kamarku.
"Masuk ma!"
Ajakku sambil menggandeng lengan mama serta membawanya masuk kedalam kamarku.
"Bagaimana tidurmu semalan sayang?"
Tanya mama sambil duduk bersamaku disofa dekat jendela.
"Awalnya Rara tidur pulas ma karena merasa capek,tapi......."
"Kenapa?"
"Setelah tengah malam Rara terbangun dan susah untuk tidur lagi,entah sampai jam berapa Rara baru tertidur di sofa ini."
Aku berusaha bercerita sambil memukul-mukul pelan sofa yang sedang kami duduki sekarang saat bercerita dengan mama.
"Kenapa? lapar? atau ada yang kamu pikirkan?"
Tanya mama padaku.
"Entahlah ma! kalau lapar sih tidak ma,kan sebelum tidur sudah makan."
"Lalu,apa yang sedang mengganggu pikiranmu sayang?"
Tanya mama lagi sembari membelai kepalaku yang telah terbungkus hijab berwarna lilac.
__ADS_1
Aku tidak mungkin mengungkapkan tentang perasaan raguku untuk meneruskan perjodohan ini,meski aku merasa sepertinya begitu banyak hal yang ditutup-tutupi dariku.
BERSAMBUNG......