
Setelah acara makan malam selesai, kedua keluarga kembali membicarakan soal rencana pernikahan Yasmin dan pak Frans yang memang mendadak dan harus segera dilaksanakan secepatnya.
Keempat keluarga besar sedang berkumpul usai makan malam di keluarga Wijaya, pasalnya selain keluarga Wijaya, keluargaku dan kedua orang tua Yasmin turut hadir pula keluarga dari mas Aldi yakni mertua kak Reina yang juga sudah termasuk sebagai keluarga Wijaya karena mereka juga besan disini.
Jadi malam ini adalah malam pertemuan antar besan dan calon besan untuk membicarakan rancana pernikahan.
Akhirnya semua sepakat jika pernikahan Yasmin dan pak Pras akan dilaksanakan di keluarga Yasmin, yakni di kota tempat keluarga Yasmin tinggal saat ini. Mengingat beberapa bulan lagi akan dilaksanakan pesta pernikahanku dan mas Rio di keluarga Wijaya maka pernikahan Pak Pras tidak mungkin digelar juga di keluarga Wijaya.
Bukan karena pak Pras dianggap bukan dari anggota keluarga Wijaya, melainkan keluarga ini mempercayai bahwa dalam satu keluarga tidak diperbolehkan menikahkan putra atau putri mereka sebelum berjarak dalam kurun waktu kurang lebih satu tahun lamanya, atau salah satu rumah tangga dari mempelai tidak akan langgeng dan kami semua menghormati kepercayaan keluarga ini.
Akhirnya hari yang ditentukan akan segera tiba, seluruh keluarga Wijaya beserta para besannya pergi ketempat dimana Yasmin tinggal untuk acara pernikahan yang akan dilaksanakan tiga hari lagi.
Yasmin telah dibawa pulang oleh kedua orang tuanya sehari setelah acara pertemuan di acara makan malam untuk membahas soal hari baik untuk dilaksanakan pernikahan antara Yasmin dan juga pak Pras.
Hari ini pak Pras duduk di depan namun kali ini bukan di bangku kemudi, melainkan disebelahnya sudah ada sopir yang siap mengemudikan mobil yang kami tumpangi.
"Apa yang sedang kau pikirkan Pras? " tanya mas Rio membuyarkan lamunan pak Pras hingga ia sontak tergagap panik karena terkejut.
"I.. Iya tuan muda, ada apa? " tanyanya balik dengan suara gugup dan terbata.
"Apakah kau merasa gugup? Hah!" tanya mas Rio lagi namun seperti dengan nada mengejek kali ini.
Aku melotot seketika kearah mas Rio yang seolah tak paham keadaan, karena malah bercanda seperti barusan padahal juga tidak lucu menurutku.
__ADS_1
"Mas! " ucapku dengan nada menekan.
"Apa sayang?" tanya mas Rio santai seolah tak paham kode dariku.
"Ingat kata kata yang dulu pernah kau ucapkan padaku Pras, saat dimana aku juga sedang dalam posisi sepertimu sekarang, " ucap mas Rio kini dengan nada serius.
Aku penasaran dengan kalimat yang akan mas Rio ucapkan selanjutnya, atau mungkin pak Pras yang akan melanjutkan kemana arah obrolan mereka nantinya. Namun ternyata penantian ku sia sia belaka, karena keduanya kini hanya saling diam.
"Baik tuan muda, terima kasih. " ucap pak Pras tiba tiba memecah keheningan yang ada.
Hah?! Apa!! Hanya itu yang keluar dari mulutnya yang dingin seperti pintu kulkas, dan mas Rio juga hanya diam tak melanjutkan obrolannya lagi? Ah, padahal aku sudah sangat penasaran sekali apa yang di ucapkan pak Pras disaat mas Rio berada di posisi sekarang saat itu. Gumamku sendiri dalam batin sambil melirik kearah mas Rio lalu kembali kearah pak Pras yang hanya diam namun diam diam menahan tawa saat melihat ekspresiku lewat kaca di depan kemudi.
"Kenapa Ra? Penasaran ya pasti, hehehe" ledek mas Rio sambil melihat wajahku dengan begitu dekat seolah meledek karena tau apa yang sedang ku pikirkan sekarang.
Deg!
Entah ada apa denganku kali ini, bukankah sudah beberqpa bulan ini aku menjadi istri mas Rio dan selama ini pun kami sudah begitu dekat karena telah menyatu menjadi suami istri yang seutuhnya dan sesungguhnya. Namun entah mengapa tatapan mata mas Rio barusan membuatku salah tingkah dan jantung ini berdebar begitu kencang hingga rasanya mau copot.
Rasa ini..... Perasaan ini, sama persis seperti saat pertama kali mas Rio dengan lekatnya memandang mataku.
Aku hanya bisa menundukkan wajah memerah karena merasa malu dengan tatapan wajah suamiku. Entah apa yang terjadi padaku kali ini, mungkinkah aku kembali jatuh cinta padanya? Kenapa bukankah aku sudah mengakui perasaanku selama ini. Aneh sungguh diriku saat ini.
Perjalanan panjang yang melelahkan membuatku tanpa sadar terlelap di bahu mas Rio yang kokoh menopang ku. Memang dari kota mas Rio menuju kota tempat tinggal Yasmin kami menaiki pesawat pribadi milik keluarga Wijaya, namun perjalanan dari bandara menuju hotel terdekat dengan tempat tinggal Yasmin masih lumayan jauh yakni sekitar kurang lebih satu setengah jam dengan mengendarai mobil pribadi.
__ADS_1
Aku mengucek mataku saat mas Rio membangunkan ku dengan lembut, saat ku buka mata ternyata sudah ada di depan lobi hotel tempat kami akan menginap.
"Kita sudah sampai ya mas? " tanyaku memastikan bahwa aku memang benar benar bangun dari mimpi indahku bertemu idolaku yang seorang penyanyi K-Pop terkenal tak hanya di negaranya yang mendapat julukan negeri ginseng itu, namun juga digilai para kaum hawa di negeri ini termasuk pula aku hehehe.
"Iya sayang ayo turun" ajaknya sambil menuntunku turun dari mobil yang kini salah satu pintu tempat dimana seharusnya aku keluar telah terbuka lebar.
Kaki ku segera menapaki lantai lobi hotel dengan di gandeng mesra oleh mas Rio lalu mas Rio menerima kunci yang di serahkan oleh resepsionis hotel kepada pak Pras tadi.
Sesampainya di kamar hotel segera ku bersihkan diriku yang terasa penat setelah menempuh perjalanan jauh, lalu merebahkan diri diatas kasur empuk khas hotel berbintang.
"Istirahatlah dulu sayang, karena nanti malam kita harus berkunjung ke rumah Yasmin. " ucap mas Rio lirih berbisik ke telingaku yang tak mengenakan hijab karena baru saja keluar dari kamar mandi.
Aku hanya menjawab dengan anggukan kecil, lalu mas Rio meninggalkanku dan berjalan cepat munuju kamar mandi.
Aku hanya melihatnya dan menggeleng pelan melihat tingkah suamiku sampai melihat punggungnya menghilang dibalik pintu kamar mandi.
Ku rebahkan tubuhku diatas kasur sambil kumainkan ponsel pintar ku untuk membalas beberapa chat salah satunya dari Medina yang besok baru akan menyusul kami kemari.
Tak sadar rasa kantuk mulai menggelayuti mata dan menguasai diriku hingga tanpa ragu mata ini mulai terpejam dan terlelap dalam mimpi.
Aku terbangun saat merasakan ada sesosok tangan menyentuh pipi, leher lalu mulai menuruni jenjang leherku perlahan menuju gundukan kenyal di area dadaku.
Sontak aku tersentak kaget lalu membuka mata dan hendak beringsut mundur. Mataku terbelalak saat mataku menatap sosok yang tak asing tengah menggerayangi tubuhku.
__ADS_1
BERSAMBUNG