
Aku masuk kedalam dapur,berusaha mencari sesuatu yang mungkin bisa kumakan atau setidaknya bisa kumasak meski sebenarnya aku tak yakin bisa memasaknya.
Kulihat dikulkas ada beberapa jenis sayur mayur,di frezer juga ada daging dan ayam.
Tapi aku tak tau harus memperlakukan mereka bagaimana,kubuka almari gantung yang ada di dapur satu persatu.
Taraa........! akhirnya aku menemukan mie instan di laci almari dapur,aku langsung segera mengeksekusinya sebisaku.
Kuletakkan panci berisi air diatas kompor yang sudah kunyalakan,kubuka bungkus mie instan lalu kumasukan begitu saja kedalam panci berisi air yang baru saja kuletakkan diatas kompor yang menyala.Sambil menunggu airnya mendidih dan mienya matang aku mengutak atik hapeku sampai aku lupa kalau aku sedang masak.
Ketika aku teringat dengan mie yang sedari tadi kumasak,segera aku melihatnya dan ternyata airnya sudah terlalu banyak yang menyusut hingga membuat mienya menjadi terlalu matang dan sangat lembek.
Karena sudah terlalu lapar akhirnya kumakan saja apa adanya meski rasanya sudah tak terlalu enak.
"Assalamu'alaikum.....!"
Suara mas Mario mengucap salam sambil nyelonong masuk begitu saja lalu duduk di kursi meja makan disampingku.
"Waalaikum salam,jawabku sambil meniup mie yang masih berasap.
"Itu.....mie?"
"Iya! emang mas nggak pernah liat mie?"
"Pernah sih,tapi.....bentukannya nggak kayak gitu!"
"Iya,tadi aku masak terlalu matang! mau coba?"
"Hmh! nggak ah!"
"Aku laper,jadi aku masak aja seadanya!"
"Emang bibi kemana?"
"Pulang kampung!"Kawabku sambil kembali menyuapkan mie dari mangkok kedalam mulutku.
__ADS_1
"Emang mienya enak?"
"Enggak!"
"Udah,nggak usah dihabisin nanti kita mampir cari makan!"
"Sayang,mienya mubazir!"
Mas Mario menungguiku sampai selesai makan,barulah kami berangkat.
"Pak Jo,kami berangkat dulu ya.....!"
Pamitku pada pak Jo,lalu memasuki mobil setelah mas Mario membukakan pintu untukku.
"Terima kasih!"
Ucapku padanya yang hanya diam tam menjawab atau memang aku yang tak mendengar jawaban darinya.
Mobil mas Mario langsung melaju atas kendali pemiliknya melewati jalan Raya yang lumayan ramai karena memang sudah mendekati weekend.
Tanyaku sambil menggeser-geser layar hapeku dengan jari jempolku.
"Bukannya tadi habis makan!"
Tanyanya sambi memandang kearahku.
"Masih laper!"
"Kamu badan kecil makannya banyak juga! kerjaanku kan cuma jadi guru gajiku juga tidak seberapa,kalau makanmu banyak gini aku takut nanti gajiku tidak cukup untuk biaya makan kita selama sebulan!"
"Ya minta makan mama lah!"
"Tidak bisa begitu dong! kalau kita sudah menikah seluruh kebutuhanmu adalah tanggung jawabku!"
"Kalau kita tinggal dirumah mama kan makan tinggal makan aja! ngapain repot?"
__ADS_1
"Hah! pola pikir kamu masih terlalu kekanak-kanakan!"
"Memang aku masih muda kan! mas dong yang usianya jauh lebih tua dari aku yang harusnya berfikir lebih dewasa!"
"Enak saja, nggak bisa gitu dong!"
"Bisa aja dong.....! kenapa nggak?"
"Ya kamu dong yang harusnya nurut sama suami,bukannya kamu yang ngatur-ngatur kayak gini!"
"Kok jadi nuduh aku!"Jawabku sewot.
"Siapa yang nuduh! memang kenyataannya gitu kan!"
"Enak aja! aku nggak pernah ngatur-ngatur kamu ya!"
Aku mengerutkan dahi sambil memandang tajam kearahnya.
Mobil berhenti disebuah cafe yang tak asing dengan papan logo bertuliskan R&r.
"Ayo turun! katanya tadi mau makan lahi?"
"Nggak jadi,udah nggak mood buay makan!"
"Kamu maunya apa sih.......? mau aku gendong turun,hah!"
Gertaknya padaku sambil membukakan pintu mobil untukku.
"Iya,iya aku turun! nggak usah di gendong,minggir aku mau lewat!"
"Yang sopan sedikit dong.....!"
"Maaf,permisi pak Mario saya mau lewat.Hehehehe....PUAS!"
Aku segera turun,mas Mario langsung menutup kembali pintu mobilny sambil menggerutu.Entah apa yang sikatakannya aku sudah pulai nggak memperdulikannya lagi,aku kesal lagi padanya padahal baru saja kami berdamai tadi tapi sekarang sudah berdebat lagi.
__ADS_1
BERSAMBUNG.....