
"Assalamu'alaikum.....!"
Salam segera kuucapkan saat bibik membukakan pintu untukku dan kulangkahkan kakiku memasuki pintu rumah.
"Waalaikum salam,"
Kudengar jawaban salam mama dari arah dalam yang segera ku hampiri kearah sumber suara mama yang sedang duduk santai bersama Jesika di depan tivi.
"Kami sudah pulang Ra?"
Tanya Jesi berbasa basi padaku.
"Iya Jes,maaf ya semalam aku tidak ikut pulang bersamamu."
Aku hendak menjelaskan padanya namun dia langsung mendekat dan memelukku.
"Iya Ra aku ngerti kok,mamamu sudah cerita tentang kamu dan tunanganmu yang bernama Rio itu.Kok kamu tega sih Ra,nggak pernah cerita-cerita sama aku dan Medina!"
Jesi yang awalnya nampah bahagia menyambut kedatanganku dan dengan antusias bercerita tentang apa yang dia ketahui tentangku dan mas Rio kini dalam sekejap tiba-tiba saja berubah kesal.
"Mama tinggal dulu,kalian ngobrol saja dulu ya!"
Mama berusaha memberi kami ruang dan waktu untuk berdua.
"Ra! kapan-kapan kenalin tunangan kamu itu ya!"
Pinta Jesi padaku yang seketika membuatku terkena serangan panik dadakan.
"Ng......gimana ya Jes,soalnya......mas Rio itu......"
Belum juga aku menyelesaikan kalimatku pak Pras datang menghampiri kami untuk mengantarkan barangku yang tertinggal di dalam mobil.
"Permisi nona Maura,maaf saya mengganggu waktun anda.Ini barang anda sepertinya tertinggal di mobil."
Ucapnya sambil menyodorkan sebuah bingkisan terbungkus kertas kado dengan rapi.
"Barang saya? sepertinya bukan pak!"
Jawabku menerima lalu menimbang-nimbang kotak yang masih terbungkus rapi ditanganku.
"Maaf nona saya permisi angkat telfon dari tuan muda dulu."
Ucapnya sambil berjalan meninggalkanku berdua dengan Jesi.
"Apaan itu Ra? yang dimaksud tuan muda itu.....Rio?"
Tanya Jesi sambil memandang kearah kotak yang masih ku pegang,meski penasaran tapi aku tidak berani membukanya dihadapan Jesika.
"Entah lah Jes,seperti kado."
Jawabku dengan penasaran dan terus membolak-balikkan benda yang ada di tangan kananku ini.
"Coba buka Ra! aku jadi ikut penasaran tau!"
Aku menuruti permintaan Jesi dan segera membuka pembungkusnya dengan hati-hati,ternyata dibalik bungkus tersebut masih ada lagi pbungkus dari kertas kado yang lain beserta sepucuk surat yang isinya berbunyi
'Cukup buka pembungkus pertama saja dulu,jangan serakah untuk segera membukanya semua ya! untuk buka bungkus selanjutnya pastikan kamu sedang berada di dalam kamar dan sendirian,ok!'
__ADS_1
Sebenarnya aku begitu penasaran dengan isinya,namun aku tidak mau melanggar peraturannya karena bisa saja dia akan marh dan menghukumku nanti.
"Iiiiih,kok gitu sih Ra? buka lagi aja gak apa-apa,lagian dia nggak lihat ini kok!"
Jesi berusaha membujuk dan memprovokasiku,daaaaan aku kembali mengikuti permintaannya.
Segera kubuka pembungkus kedua,dan lagi-lagi masih ada lagi pembungkus yang lain dan sepucuk surat lagi dan itu berarti sudah dua pucuk surat yang berisi,
'Dasar bandel,sudah dibilang jangan serakah untuk membuka semuanya sekarang! Jangn buka lagi atau aku akan menghukummu!'
Aku begidik ngeri dengan surat ancaman yang ini,Jesika ikut melotot melihatku sambil memandangi sekitar ruangan.
"Ra,jangan-jangan dia sudah menyadap dan memasang kamera di sekitar ruangan ini.Seperti yang dilakukan pak Mario saat kita menjebak Roi semalam,kamu ingat kan Ra?"
Aku jadi ikut memandang kesekitar bahkan sampai kelangit-langit dan juga dibelakang tivi memastikan tidak ada apaapun yang bisa digunakan untuk mengintai kami.
"Sepertinya aman Jes!"
Ucapku pada Jesi yang ikut mencari sesuatu yang tak kami ketahui dan tidak kami temukan.
"Kalian sedang cari apa?"
Tanya kak Rendi yang tiba-tiba saja datang mengejutkan kami berdua.
"Lagi cari signal kak,he'eh cari signal hehehe....!"
Ucapku dengan sembarang karena panik.
"Itu signalnya ada di kolong meja!"
Ucap kak Rendi mengoda kami sambil menunjuk kearah kolong meja dan dengan bodohny kami berdua segera mengikuti arahan kak Rendi untuk melihat kekolong meja.
Tanya kak Rendi melihat tingkah kami.
"Mana kak? nggak ada!"
Jawabku sambil berdiri setelah berjongkok melihat kekolong meja yang dimaksud kak Rendi.
"Kalian tadi pagi belum pada mandi ya? ngigo sampe siang gini."
Kak Rendi merebahkan dirinya di sofa panjang depan tivi.
"Enak aja belum mandi,bahkan aku sudah mandi dua kali tau!"
Lalu dengan cepat segera kututup mulutku dengan kedua tanganku sendiri setelah menyadari kesalahan dalam ucapanku tadi.
"Iya,iya......"
Kata kak Rendi sambil bangkit.
"Pasti karena ulah suamimu kan?"
Bisiknya saat dia dekat denganku lalu segera berlari menaiki anak tangga untuk menuju kamarnya.
"Iiiiih....kakak! nyebelin!"
Teriakku pada kak Rendi yang sudah lolos.
__ADS_1
"Apa sih Ra.....? kalian ini selalu saja seperti itu!"
Mama datang menghampiri kami sedangkan kak Rendi sudah tak lagi terlihat batang hidungnya dan Jesika hanya tersenyum melihatku yang sedang bertengakar dengan kak Rendi seperti tikus dan kucing.
"Kakak tuh ma...." Jawabku kesal sambil memanyunkan bibirku lalu kembalu duduk bersama Jesika.
Baru saja tanganku hendak meraih kotak kado yang diberikan mas Rio untukku di atas meja yang kini sudah kosong,hanya tinggal menyisakan gelas berisi minuman dan toples berisi camilan yang baru saja mama letakkan.
"Lho! kotakku yang tadi disini mana ma?"
Tanyaku sambil melihat kembali kekolong meja dan tak juga kutemukan.
Aku segera berlari menuju tangga dan dengan cepat menaikinya.
"Kak Rendi......awas itu punyaku! jangan dibuka dulu....!"
Teriakku sambil berlari menuju keatas.
"Pelan-pelan sayang,awas nanti jatuh!"
Teriak mama yang melihatku menaiki tangga sambil berlari.
Baru saja aku mau mengetuk pintu kamar kak Rendi,tiba-tiba saja pintu kamarnya terbuka dengan sendirinya.Kulihat kak Rendi sedang membuka bajunya dan melemparkannya kesembarang arah,sepertinya dia sedang kesal.
Aku baru saja mau nyelonong masuk tapi kudengar kak Rendi memanggil nama mas Rio dengan kesal dan terdengar memakinya.
Aku masih diam mematung didepan pintu kamarnya saat kak Rendi berbalik badan kearah pintu.
"Ra,kamu.....sejak kapan disitu?"
Tanyanya menghampiriku kearah pintu dan membukanya lebar-lebar masih dengan bertelanjang dada.
"Maksud kakak apa?"
Tanyaku pelan masih mematung ditempatku berdiri sedari tadi.
"Kakak,cuma........"
"Kembalikan kotak milikku dari mas Rio yang kakak ambil dari atas meja tadi!"
Ucapku tanpa memberi kak Rendi kesempatan untuk menjelaskan apapun.
"Ra,dengerin kakak dulu!"
"Tidak perlu kak! mas Rio itu suamiku sekarang dan kudengar kakak memakinya tadi saat tidak ada dia,"
Kubiarkan air mataku meleleh membasahi pipi dan hijab yang masih kukenakan sejak pulang dari rumah mas Rio tadi.
"Ra....kakak sedang berusaha merelakanmu,tapi......hati kakak masih terasa sakit ketika melihat kalian!"
Kak Rendi berusaha menjelaskan,namun aku masih tidak perduli kudorong tubuhnya yang menghalangi pintu dan aku dengan marah menerobos masuk kedalam kamarnya saat kulihat kotak yang kumaksud ada di atas meja kamarnya segera ku sambar dan keluar dari kamarnya dengan cepat.
"Berusahalah untuk Dewasa kak!"
Begitulah kata terakhir yang kuucapkan padanya sebelum aku benar-benar keluar dari pintu kamarnya.
Kak Rendi masih memanggil namaku berusaha untuk mencegahku pergi dan mendengarkan penjelasan padaku,namun tak lagi kugubris.
__ADS_1
BERSAMBUNG......