
Mataku terbelalak seolah tak percaya saat melihat wallpaper pada layar tampilan hape milik mas Rio.
Fotonya sedang mengenakan setelan jas tadi malam saat kami melangsungkan acara pesta tadi malam,sedang bersanding denganku.
Ya,foto kami saat acara pesta tadi malam dijadikan wallpaper di tampilan layar pada hapenya.Namun hanya wajah dia sendiri saja yang terlihat jelas sedangkan aku sedang berdiri membelakanginya.
Foto tersebut memang sengaja diambil saat kami berpose saling membelakangi dan aku memamerkan cincin tunangan kami yan semalam di pasangkan oleh mami di jari manisku.
Mas Mario segera merebut kembali hape miliknya yang sempat berada di tanganku.
"Sabar! nanti juga kukirim!"
Aku hanya bisa mengalah sambil memanyunkan bibirku karena kesal.
"Pras,langsung kerumah ya!"
Perintah mas Rio pada pak Pras yang sedang mengemudikan mobil menuju kearah pulang kekediaman keluarga Wijaya.
"Baik tuan muda."
Jawabnya dengan patuh.
"Kita tidak kehotel dulu mas?"
Tanyaku.
"Tidak perlu! semua barang-barangmu sudah ada yang membereskan!"
Jawab mas Rio.
"Pras,setelah mengantar kami langsung bereskan barang-barangmu nanti malam ikutlah denganku!"
"Maksudnya saya ikut tuan muda?"
"Ya,tugasmu sekarang adalah menjaga kemanapun dia pergi!"
"Menjaga? atau mengawasiku! Lagi pula sepertinya aku belum terlalu memerlukan pengawalan mas!"
"Sudah jangan membantah!"
Aku hanya bisa diam seribu bahasa karena memang dia adalah orang yang tidak suka dibantah.
Sesampainya dirumah mas Rio aku segera mandi dan kami menjalankan sholat maghrib berjamaah di sebuah mushola yang masih berada di samping bagian depan rumah mas Rio.
Karena yang lain sudah melaksanakan Sholat Maghrib terlebih dahulu sebelum kami sampai,jadi tinggal kami berdua yang belum menunaikan ibadah wajib.
Untuk pertama kalinya aku menjadi makmun dan dia menjadi imam dalam sholatku.
Setelah selesai sholat maghrib kami istirahat sejenak sedangkan yang lain mengemasi barang-barang dan bersiap untuk pulang kembali kerumah,kecuali aku.
__ADS_1
Selama tinggal disini aku benar-benar diperlakukan bak putri raja yang tidak diperbolehkan melakukan apapun,segala keperluanki sudah ada yang melayani.Bahkan untuk mengemasi barang-barang dan bersiap pulang pun sudah ada yang mengerjakan,aku hanya diminta duduk diam sambil mengawasi jika ada barang yang tertinggal.
Jika berlama-lama tinggal disini dengan perlakuan seperti ini,mungkin lama-lama aku akan menjadi semakin manja dan berubah menjadi pemalas karena apa-apa dilayani.
Setelah selesai sholat Isya' berjamaah kami makan malam bersama,lalu kami berangkat untuk kembali menuju kota tempatku tinggal sekaligus kota tempat mas Rio mengajar sebagai guru disekolahku.
Begitu patuhnya Pak Pras terhadap tuan mudanya hingga ikut serta bersama kami malam itu juga atas seizin nyonya besarnya yaitu mami.
Mama,nenek dan bu Sum pulang dalam satu mobil yang dikendarai oleh kak Rendi.Sedangakan aku dan mas Rio berada dalam satu mobil lain yang di kendarai oleh pak Pras dan papa serta ayah Doni tak lagi kujumpai setelah acara pesta pertunanganku malam itu.
Setiap kali kutanyakan pada mama dimana papa? mama hanya menjawab bahwa papa sedang ada urusan bisnis dengan om Dedi dan ayah Doni keluar kota.
Aku merasa begitu lelah,hingga rasa kantuk yang tak mampu lagi kutahan.
Mobil kami beriringan dengan mobil yang di tumpangi oleh keluargaku bagaikan pawai,ya pawai pengiring tuan putri dadakan yang akan kembali keasalnya.
Saat kubuka mataku dengan malas karena menahan rasa kantuk,tak kujumpai keberadaan mas Rio yang sedari tadi duduk di bangku sebelahku.
Kulebarkan mataku karena kini ada seorang pria yang tengah duduk di sebelah bangku pengemudi.
Saat kulihat dengan seksama ternyata pak Pras yang sedang tertidur dengan pulas di bangku depan sebelah mas Rio yang sedang mengemudi.
"Mas gantiin pak Pras nyetir?"
Tanyaku dengan suara parau.
Jawabnya tanpa menoleh kearah belakang dan lebih memilih fokus menyetir.
"Masih jauh ya?"
Tanyaku sambil melihat sekeliling yang tampak gelap dan hanya lampu-lampu jalan yang menerangi perjalanan kami.
"Sebentar lagi sampai,tidurlah lagi!nanti kubangunkan jika sudah sampai "
Jawabnya pelan membuatku terhipnotis oleh kata-katanya yang terdengar begitu lembut,tidak seperti biasanya yang menyebalkan.
Aku kembali terlelap karena rasa kantuk yang menggelayuti kelopak mataku tak mampu kulawan,saat kubuka kembali mataku kulihat mama sedang duduk disampingku berusaha membangunkanku.
"Mmmmh.....sudah sampai ya ma?"
"Iya,ayo bangun! lanjutkan tidurmu di kamar!"
Aku segera keluar dari mobil mas Rio dan berjalan ter seok-seok masuk kedalam kamar lalu duduk di sofa ruang tamu sambil meringkuk dengan kepala kusenderkan pada bahu sofa.
"Lho kok malah pindah tidur disini? bukannya dikamar!"
"Iya sebentar ma.....ngumpulin nyawa dulu!"
Jawabku dengan enggan.
__ADS_1
"Sebagian nyawamu tertinggal di dalam mobil tuh!"
Ledek kak Rendi sambil menunjuk kearah mas Rio yang sedang membantu menurunkan koper milikku.
Aku hanya terdiam sambil menutupi wajahku dengan bantal kecil yang ada disofa karena silau oleh cahaya lampu.
"Rio....sini bentar!"
Teriak kak Rendi lalu dengan cepat mas Rio melesat menuju ruang tamu mendekat kearah kak Rendi.
"Iya Ren! apa?"
"Calon istrimu tidak kuat menaiki anak tangga tuh! minta di gendong kayaknya! hahaha...."
Kulemparkan bantal kearah kak Rendi yang sedari tadi kugunakan menutupi wajahku.
"Ish,galaknya!"
Ledek kak Rendi lagi padaku sedangkan mas Rio mengabaikan kami dan melanjutkan memasukkan koperku kedalam.
"Dek,mau di gendong sama Rio atau sama kakak?"
Kak Rendi mengulurkan tangannya padaku,lalu kusambut lengannya dengan cubitan yang membuatnya mengaduh kesakitan.
"Sudah-sudah! kalian ini,tidak malu dilihat nak Rio begitu! Rendi,sudah jangan ledek adikmu terus seperti itu!"
Mama berusaha menengahi pertengkaran kami.
"Maaf ya nak Rio....mereka selalu seperti itu!"
Ucap mama sambil meletakkan minuman hangat untuk mas Rio dan juga yang lain.
"Iya tante tidak apa-apa."
"Ayo silahkan diminum mumpung masih hangat."
Mama berbasa basi menawarkan minum untuk mas Rio dan juga pak Pras.
Saat aku menaiki anak tangga dengan gontai masih terdengar dengan samar obrolan antara mama,kak Rendi,mas Rio dan juga pak Pras.
Sedikit kucuri dengar mas Rio membahas soal pak Pras yang mulai besok akan menjadi sopir pribadi sekaligus body guard untukku.
Setelah mengganti pakaian dengan piyama dan kulepas hijabku,lalu kurebahkan tubuhku diatas tempat tidurku yang nyaman.
Kupaksa tubuhku kembali bangkit karena lampu kamarku yang belum sempat kumatikan.
Kembali kurebahkan tubuh lelahku diatas twmpat tidur,kutarik selimut tebalku hingga menutupi hampir seluruh tubuhku lalu aku bersiap tidur.
BERSAMBUNG......
__ADS_1