
Aku sendiri yang sedang asyik bersama beberapa adek-adek panti jadi kepo alias penasaran,kupertajam pendengaran telingaku dibalik jilbab yang kukenakan.
"Kamu kenapa?"
"Saya jadi iri dengam mereka tante,meski dalam keadaan seperti ini tapi mereka terlihat sangat bahagia dan tidak kesepian seperti saya."
Jawabnya dengan masih sesenggukan di hadapan mama.
Agak terlihat lebay memang,seorang anak dari pasangan pengusaha kaya raya dan seorang pejabat daerah merasa kesepian dan merasa tidak sebahagia anak panti?
Hati serta pikiranku terasa seperti sedang bertempur karen hal ini,ya begitulah kehidupan terkadang kita menginginkan kehidupan orang lain yang sebenarnya tidak diinginkan olehnya sendiri dan justru mereka mungkin menginginkan kehidupan lain seperti yang kita miliki saat ini.
Satu yang harus kita lakukan saat ini adalah bersyukur atas apa yang Tuhan kita berikan,karena tak ada kehidupan yang sempurna didunia ini.
Melihat adek-adek dipanti sering membuatku kasihan mereka disini tanpa orang tua dan kehidupan mereka bergantung pada para donatur serta diluar sana masih banyak lagi saudara-saudara kita yang kekurangan bahkan untuk makan sehari-hari saja belum tentu mereka cukup sedangakan orang seperti kak Rosa yang hidupnya bergelimang harta nyatanya malah merasa kesepian.
Aku merasa bersyukur dengan apa yang Allah berikan padaku.Aku memiliki keluarga yang utuh,segala kebutuhanku tercukupi dan tak pernah kekurangan apapun serta memilihi keluarga yang sayang sama aku meski kadang kakakku bertingkah menyebalkan tapi dia juga paling depan ketika aku dalam masalah.
Aku dan kak Rendi memang sering berantem karena dia memang sangat usil padaku tapi tak perlu waktu lama kami akan akur kembali,memang seperti inilah saudara kalau nggak pernah berantem nggak rame kata mama.
Sejak kecil sering kali aku ngambek atau menangis karena tingkahnya yang sering menggodaku,tapi aku juga tak bisa jauh darinya.
Seperti saat kak Rendi memutuskan untuk kuliah ke luar negeri,aku menangis sejadi-jadinya saat melepas keberangkatannya di bandara padahal saat itu aku masih SD.
__ADS_1
"Maura sekarang sudah besar ya....kelas berapa?"
Sapa bu Ratih,yang aku tau bu Ratih ini adalah kepala panti asuhan ini.
"Iya bu,sekarang Rara sudah masuk SMA."
Jawabku sambil tersenyum ramah.
Kulihat papa masuk dan mendekat kearah mama,sepertinya memberi kode untuk mengajak pulang.Lagipula hari sudah mulai sore.
Tak lama setelah itu kami berpamitan untuk pulang.
Aku dan mama ikut pulang bersama papa,sedangkan kak Rendi harus mengantar kak Rosa pulang dengan mobil yang tadi kami naiki saat berangkat berbelanja.
"Hah! ba...per?"
Mama bertanya dengan mimik wajah bingung.
"Iya ma,banget-banger laper! hehehe."
Aku cengengesan sedangkan papa hanya tersenyum-senyum kearah mama,lalu kami tertawa bahagia bersama.
"Bentar coba mama terlfon bibi dirumah dulu ya....."
__ADS_1
"Ok mam."
Kembali ku sandarkan kepalaku ke sandaran jok mobil,sambil ku nikmati alunan musik didalam mobil yang semakin lama sayup-sayup suaranya semakin tak terdengar lagi olehku.
"Sayang,bibi dirumah masak ayam goreng kesukaan kamu.....lho malah sudah tidur pa."
Sambil menengok kearah belakang melihat putri cantiknya yang sudah terlelap dalam tidurnya dengan keadaan terduduk di dalam mobil.
"Mungkin dia kecapekan ma,kan seharian ini jadwal terbangnya padat ma."
"Jadwal terbang? papa lebay deh."
"Hehehehe."
"Hah....nggak kerasa ya pa,sudah besar Maura kecil kita sekarang.Mama jadi teringat saat itu...."
"Ssssst,udah ma jangan di lanjutkan lagi."
"Hmmmm baiklah."
Kembali dilihatnya putri cantiknya masih tertidur dengan lelap bak putri tidur dinegri dongeng.
Bersambung.....
__ADS_1