
Kak Roi masih menahanku di kantin,aku sudah berkali-kali menjelaskan alasanku tidak mau berpacaran,namun dia masih tetep saja kekeh mau menungguku untuk merubah jawabanku.
"Maaf kak,aku tinggal dulu ya?!"
Pamitku sambil bangkit dari duduk.
"Aku antar kamu ke kelas ya?"
Kak Roi menawarkan diri untuk mengantarku ke kelas.
"Hmmm,boleh."
Kami berjalan menuju kelasku,padahal ruang kelasnya berbeda arah dari kelasku.Dan lagi bukankah harusnya kelas duabelas dalam satu minggu ini harusnya diliburkan?karena kelas sepuluh dan kelas sebelas sedang ada ujian kenaikan kelas.
"Maura,nanti pulang sama siapa?"
"Sudah ada yang jemput kak."
"Kakak kamu?"
"Bukan,sopir."
"owh."
"Kakak bukanya hari ini harusnya kelas dua belas libur ya?"
"Hehehe,iya tapi aku pengen ketemu kamu dan mau bilang hal yang tadi ke kamu sebelum aku lulus dan nggak bisa ketemu kamu lagi.Biar nggak ada penyesalan."
"Emang udah yakin lulus?"
Godaku padanya.
"Harus yakin lah,harus berusaha!"
Jawabnya sambil mendekat kearahku.
"Kak,jangan deket-deket!"
__ADS_1
"Hehehe,iya maaf."
"Hari ini kakak berangkat cuma buat ketemu aku aja gitu?!"
"Sebenernya nggak juga sih,sebenarnya hari ini ada latihan cuma nggak jadi karena captain malah sedang sakit."
"Owh....oiya kelas aku udah deket kak,sampai sini aja ya?!"
"Oke,oiya boleh aku minta nomor kamu?"
Aku tersenyum,tak ada alasan untuk tidak memberikan nomorku padanya.Kudiktekan nomorku padanya lalu segera di ketik di papan tombol smart phone miliknya.
"Terima kasih ya Maura."
Aku hanya tersenyum dan kami berpisah,lalu sama-sama berjalan menuju kelas masing-masing.
Sesampainya di depan kelas,Medina dan Jesi nampak sedang menungguku.
"Dari mana neng?"
Tanya Medina dengan nada kesal.
Kata Jesi menggodaku sambil menyenggol lengan Medina.
Aku hanya diam sambil tertunduk tanpa sepatah katapun.
"Guys,aku ketoilet dulu ya."
Jesi berpamitan sambil berlalu meninggalkanku dan Medina di koridor depan kelas.
"Ra,kamu tadi nggak di apa-apain sama kak Roi kan?"
Tanya Medin sambil memutar bolak balik tubuhku.
Sedangkan aku hanya tersenyum melihat tingkah salah satu sahabatku ini.
"Tenang saja Din,aman kok."
__ADS_1
"Tadi kak Roi ngapain ngajakin kamu ke kantin? tadi aku liat kalian duduk di pojokan,aku mau nyamperin tapi dilarang sama Jesi."
"Mmmmm,tadi kak Roi........nembak aku."
"Terus?!"
"Yaudah,cuma gitu aja."
"Kamu terima?"
"Nggak,aku sudah bilang nggak mau pacaran."
"Trus,dia gimana?"
"Dia bilang gak papa kalau aku nggak mau pacaran,tapi dia bilang nggak akan rela kalau ada cowok lain yang mau deketin aku."
"Maksudnya gimana?"
"Entah."
Jawabku sambil mengangkat kedua bahuku.
Jesi muncul dari arah toilet,berjalan kearah kami dengan dengan tergesa-gesa.
"Kenapa Jes? kayak habis dikejar setan aja kamu!"
Tanya Medina,aku juga merasa penasaran dengan sikap aneh Jesi sekembalinya dari toilet.
"Nggak papa,santai aja."
Aku dan Medina hanya diam sambil saling pandang dengam ekspresi bingung.Diantara kami bertiga Jesi memang agak berbeda,aku merasa banyak hal darinya yang dia sembunyikan.
Manurut desas-desus dari beberapa para penggosip yang terkadang ucapan dan perkataan mereka dengan mudah terbawa angin hingga beterbangan kemana-mana membuat siapapun dengan mudah mendengarnya,ada yang bilang Jesi itu bukan perempuan baik-baik.Tapi berita seperti itu bukan hal yang harus membuatku dan Medina menjauh darinya,kami juga nggak mau membahasnya lagi lebih jauh langsung padanya karena pernah suatu waktu Medina mencoba membahas rumor tentangnya namun dia berusaha mengalihkan pembicaraan.
Jam pelajaran kedua hari ini juga telah usai,saatnya kami pulang.
Jesi sudah di jemput oleh sopir pribadinya,sedangkan aku masih menunggu jemputan di temani oleh Medina.
__ADS_1
Saat kami sedang asik bercanda sambil aku menunggu jemputan tiba-tiba datang kak Roi mengagetkan kami dengan berdehem.
Bersambung.....