
Aku tersentak, langkah kakiku seketika terhenti.
Degup jantungku tiba-tiba saja terasa begitu cepat,rasa takut menggelayut.
Entah kenapa suaranya terdengar seperti sedang marah padaku saat memanggil untuk menghentikanku tadi.
"Kamu bilang apa tadi?"
"Cari Samuel? kangen!"
Aku hanya terdiam tak bergeming saat dia melihat wajahku begitu dekat.
"Berhati-hatilah dengan perkataanmu,atau kau akan menyesalinya!"Entah ini peringatan atau sebuah ancaman buatku.
Meski aku masih bingung apa maksudnya,apakah dia cemburu?
Lagipula kenapa dengan Samuel? masa iya dia cemburu pada saudaranya sendiri,kalau memang benar dia cemburu pada Samuel berarti..........?
Aku membatin bertanya dalam hati pada diriku sendiri.
"Jangan berfikir kalau aku cemburu! buang jauh-jauh pikiran kotormu terhadapmu!"
Hah! dia tau aku membatin? Apa dia bisa dengar isi hati orang lain? Kenapa dia bisa tau apa yang sedang kufikirkan!
Hebat sekali dia,sekaligus menakutkan!
"Kenapa diam saja! kamu mau menginap dirumahku!"
Suara mas Mario makin menjauh,dan ternyata dia sudah berada di depan pintu hendak keluar.Dengan buru-buru aku berlari kecil mengikutinya untuk segera keluar.
"Tungguin dong!"
"Kenapa melihatku seperti itu?"
Tanyaku saat mata mas Mario memandangku dengan tatapan tajam,lalu segera menuju mobil karena merasa salah tingkah dengan pandangan aneh nya padaku.
__ADS_1
Mas Mario segera menutup serta mengunci pintu rumahnya dan bergegas menyusulku menuju mobil.
"Kalung itu.....?"
Mas Rio kembali menatapku dengan tatapan penuh tanya dan seolah curiga padaku.
"Kalung? oh! ini pemberian mami kamu tadi."
Kataku sambil memegang liontin berwarna merah yang menggelantung di kalung yang ku pakai.
"Mami yang memberikannya padamu?!"
"Iya,tidak percaya?"
"Bukannya nggak percaya!"
"Cuma nggak nyangka aja diberikan secepat itu!"
Gumamnya dengan pelan namun terdengar jelas oleh telingaku.
"Mas? mami Sarah itu ......."
Kuhentika pertanyaanku,aku takut jika pertanyaanku ini akan menyinggung perasaannya yang justru akan membuatnya marah.
"Kenapa!"
Tanyanya dengan penasaran.
"Nggak apa-apa kok,tante sarah itu baik banget sama aku."
Aku berusaha mengalihkan pembicaraan agar dia tak mempertanyakan lagi perkataanku barusan.
"Hemh,tentu saja semua keluargaku baik padamu.Bukankah kamu ini calon istriku!"
"Iya ya!"
__ADS_1
Tiba-tiba hape mas Mario berdering,segera di tempelkannya earphone wireless ketelinganya.
"Halo,Iya....!"
"Sudah,baru saja mereka berangkat."
"Iya,iya...kapan balik? ada yang cariin kamu ini!'
"Hah? bukan! udah dulu,aku lagi nyetir!"
Mas Mario melepaskan earphone wireless dari telinganya.
"Siapa mas? Samuel ya?"
"Bukan urusan kamu!"
Jawabnya ketus.
"Memangnya saya tidak boleh tau? saya kan calon istrinya mas Mario!"
Dia hanya diam tak menggubrisku dan lebih memilih fokus menyetir.
Aku segera merogoh hape dari dalam tasku,ternyata begitu banyak balasan chat dari Yasmin dan Laura.Ku acuhkan orang yang sekarang berada di sampingku.
Meski sudah tertinggal jauh dari apa yang mereka obrolkan saat ini aku berusaha menyesuaikan.
Kami saling kenang masa-masa dimana ketika kita masih bersekolah ditempat yang sama dulu serta saling ledek satu sama lain dengan berbagai lelucon hingga membuatku senyam-senyum sendiri bahkan terkadang tertawa terbahak-bahak.
Tanpa kusadari mas Mario yang duduk berada tepat disampingku beberapa kali melihat kearahku.
Sesekali kulirik kearahnya yang nampak sedang fokus menyetir.
Terlalu lama bermain hape membuat mataku digelayuti rasa kantuk,meski beberapa kali menguap namun aku masih mencoba menahan agar tidak ketiduran karena jarak kerumah seharusnya sudah tidak jauh lagi.
BERSAMBUNG......
__ADS_1