
Beberapa hari kemudian, kesibukan yang dijalani oleh Leo Khalid Pratama membuat dirinya sudah semakin jarang mengunjungi rumahnya Adinda. Walaupun rumahnya dengan Aliya itu hanya berjarak lima langkah dari rumahnya.
Leo melepas helm kerjanya karena sedang berada di lokasi proyek pembangunan. Dia dipercaya oleh bos sekaligus teman sekolahnya semasa putih abu-abunya dulu untuk mengawasi proyek pembangunan beberapa perumahan elit.
Leo menyeka peluh keringatnya yang bercucuran membasahi sekujur tubuhnya itu," hari ini cuacanya cukup panas saja, alhamdulilah selama bekerja di sini semua karyawan dan pekerja tidak pernah memberikan aku masalah ataupun menyulitkan pekerjaanku semoga kedepannya seperti ini,"
Leo berjalan ke arah parkiran dimana kendaraan roda duanya berada. Motor matic berwarna merah itu selalu menemaninya beraktifitas. Ia membuka sadel motornya dan dia melihat ada dua buah kotak makanan yang terdapat di dalamnya.
Kotak bekal makanan berwarna biru dan kuning. Yang kuning sudah jelas dari istri pertamanya yaitu Aliya dan istri keduanya dari Adinda. Ia kemudian membawa kedua bekal itu ke tempat peristirahatan yang sering dipakai pakai oleh pekerja konstruksi bangunan.
"Asyik yah punya dua istri jadi punya dua bekal makanan," candanya Arif teman kerja sekaligus sahabat baiknya yang menawarinya kerja disana.
Leo tidak menyangka jika rekomendasi pekerjaan yang ditawarkan oleh Arif bosnya adalah teman sekolahnya juga. Walaupun Arif teman smpnya sedangkan Daniel teman kuliah dan smanya itu. Leo baru saja duduk sebelum kedatangan Arif, Leo tersenyum simpul.
Leo melirik sekilas ke arah Arif, "Andaikan aku bisa aku hanya ingin memiliki satu saja Arif, tapi aku tidak mungkin mengkhianati kepercayaan bapakku kepadaku yang meminta menjaga dan melindungi Adinda semenjak kedua orang tuanya tiada, apalagi calon suaminya itu meninggal dunia," ungkapnya Leo dengan pasrah.
Arif menepuk pundaknya Leo sambil tersenyum tipis," berarti hanya kamu pria yang bekerja di sini mengeluh punya istri lebih dari satu dan menyesalinya, sedangkan mungkin kamu tidak mengetahui jika dari hampir tiga puluh persen pekerja disini itu punya istri banyak, kamu yang paling sedikit loh,tapi mereka santai dan begitu bahagianya," jelasnya Arif.
Leo menatap intens sahabatnya itu," aku sejak awal mengenal dan menikahi Aliya sedikitpun tidak pernah terbersit di pikiranku untuk menikah sampai dua kali dalam hidupku, aku hanya berharap Aliya tidak mengetahui jika aku sudah menikah lagi dalam keadaan terpaksa," ucapnya Leo dengan memelas.
__ADS_1
"Kamu itu termasuk pria yang beruntung, sedangkan aku satu saja kagak punya calonnya pun belum ada apalagi untuk punya dua istri, aku sih berharap kedepannya hanya satu istri saja sampai aku mati, hingga ke kehidupan berikutnya," Arif menatap jauh kedepan tapi tangannya membuka segel minuman air mineral kemasannya.
Mereka kemudian terdiam dengan pemikiran mereka masing-masing. Leo mulai menyantap makanannya itu satu persatu. Tapi, entah kenapa ia tidak berselera melihat makanan yang dibuatkan oleh Adinda. Perempuan yang sejak lahir selalu dimanja oleh kedua orang tuanya,bahkan memegangi pisau seumur hidupnya jarang sekali, apalagi untuk masak.
Arif yang melihat kejadian tersebut dimana Leo sama sekali tidak menyentuh bekal berwarna birunya itu dengan merk T itu. Bekal kotak kuning hanya ada tempe bacem, tahu mendoan,udang goreng tepung, sayur tumis cah kangkung dan juga sambal terasinya lebih nikmat disantap oleh Leo.
Sedangkan kotak berwarna kuning itu ada ayam goreng geprek, sayur sup ayam, sambal dan lalapannya lengkap. Tetapi, tidak membuat Leo tergugah selera makannya.
"Leo,kok kotak ini gak kamu buka,ada apa?" Tanyanya Arif yang mulai kepo dan penasaran dengan sikap dari rekan kerjanya itu.
Leo menghentikan suapan makanannya itu," aku lebih suka makanan yang dimasak dengan sepenuh hati dari tangan istriku, murah meriah dan tentunya bergizi tinggi dari pada makanan yang dipesan dari warung yang jelas-jelas makanannya enak dan mahal," terangnya Leo yang kembali mencocol udang tepungnya dengan sambal.
Arif bergegas berjalan menuju tempat kerang air yang bersiap sudah untuk membersihkan tangannya untuk bersiap makan, tanpa persetujuan terlebih dahulu dari Leo.
"Kalau kamu suka, silahkan ambil saja saya sudah cukup kenyang dengan makanan buatannya Aliya,kalau kamu mau besok bisa ambil lagi, tapi tidak pakai gratis," candanya Leo.
Arif terkekeh mendengar candaannya Leo,"masalah itu gampang kok yang paling penting kamu memberikan aku makanan setiap hari sehingga aku tidak perlu repot-repot memesan makanan dari warung atau lewat online," ujarnya Arif yang sebenarnya memiliki rencana dan tujuannya sendiri dengan meminta bekal tersebut.
"Alhamdulillah kalau seperti itu padahal aku hanya bergurau saja, tapi aku yakin kepala pengawas tidak mungkin kekurangan uang," Leo kembali berkelakar.
__ADS_1
Waktu terus berlalu tanpa disadari kehamilan Adinda sudah masuk bulan kesembilan. Pekerjaan Aliya yang menulis novel lewat online pun sudah menghasilkan cuan dan pundi-pundi rupiah hanya dalam waktu tiga bulan.
Aliya yang sedang duduk bersantai di depan rumahnya sambil mengetik novel online yang sedang digarapnya itu. Notifikasi pesan masuk ke nomor ponselnya. Ia sama sekali tidak pernah bertanya masalah gaji ataupun kapan tanggal gajiannya sebagai penulis amatiran.
Tujuan awalnya setelah melihat banyaknya yang mengeluh lewat postingannya di sosial media,ia tidak ingin memiliki harapan yang tinggi, padahal awalnya berniat mencari pekerjaan sampingan untuk membantu suaminya bekerja menghasilkan uang tambahan sejak uang belanjanya dikurangi.
"Ada pesan masuk, aku aktifkan kuotaku dulu jangan sampai Jingga dan Senja sudah minta dijemput," Gumamnya.
Baru saja aktif, betapa banyaknya notifikasi pesan chat yang masuk ke dalam nomor hpnya itu. Seolah pesan itu berlomba ingin dibuka oleh Aliya.
Aliya satu persatu membuka pesan chat dari sahabatnya, betapa bahagianya setelah mengetahui jika teman-temannya sudah banyak yang gajian. Ia pun memeriksa aplikasinya novel onlinenya. Ternyata ia berhasil menarik gaji pertamanya sebagai penulis.
Kedua pasang matanya terbelalak melihat notifikasi sms bankingnya dengan nominal uang yang cukup banyak dan besar. Bahkan sudah melebihi dan melampaui uang bulanan dari suaminya itu.
Air matanya menetes membasahi pipinya," alhamdulilah makasih banyak ya Allah akhirnya aku juga bisa kembali merasakan punya penghasilan sendiri dan ini sungguh nominalnya banyak tiga kali dari uang yang diberikan mas Leo biasanya," cicitnya Alia yang sesekali menyeka air matanya saking bahagianya itu.
Aliya menulis beberapa novel langsung dibeberapa platform berbayar. Semuanya hari ini baru dia periksa hasilnya. Ia termasuk orang yang tidak percaya diri jadi hanya menulis yang dikerjakannya tanpa banyak membuka fitur lain di dalam aplikasi tersebut.
Dengan petunjuk dari teman-temannya yang selalu baik dan ada untuk memberikan dia masukan, petunjuk dan cuga tips ampuh dan jitu sehingga hasilnya sekarang bisa dinikmatinya.
__ADS_1
"Kalau begini aku sudah punya tabungan untuk biaya sekolah dan pendidikannya anakku untuk masa depannya kelak, alhamdulilah juga suamiku sudah tiga bulan bekerja uang bulanannya juga tidak berkurang lagi seperti beberapa bulan sebelumnya."