Belum Berakhir

Belum Berakhir
Bab. 80. Menunggu Penilaian Dari Kabir


__ADS_3

"Aku akan berkompromi dengan pernikahanku ini tapi masalah yang satu itu maaf aku belum siap dan sanggup untuk melakukannya, aku masih muda dan cita-citaku belum tercapai saat ini,"


Semua orang terdengar bercanda senda gurau dengan satu dan lainnya setelah berbicara serius. Mereka kagum mendengar perkataan dari Kabir tentang perasaannya pada Senja.


"Kenapa pak Kabir meski berbicara terlalu berlebih-lebihan, bukan dia juga menikah denganku hanya karena terdesak dan terpaksa atas paksaan dan desakan serta tuntutan dari beberapa warga masyarakat yang menggrebek kami di pantai waktu itu kan, kalau aku dari pada di penjara dan demi kedua orang tuaku sehingga aku rela melakukan pernikahan tanpa cinta ini,"


Semua orang mengambil beberapa potong kue hasil buatan tangannya sendiri Senja. Tapi, semua mata tertuju pada Kabir Kasyafani Sanders. Semua orang menunggu bagaimana reaksinya setelah memakan kue buatan sendiri istrinya itu.


Semua orang yang hadir di dalam ruangan tengah sudah seringkali menikmati makanan apapun buatannya Senja. Tapi, berbeda dengan Kabir orang asing yang menikah dengan salah satu anggota keluarganya.


Kabir terdiam setelah suapan pertama, semua orang menantikan dan menunggu entah apa yang akan dikatakan oleh Kabir mengenai penilaian yang dilakukan oleh Kabir tentang hasil masakan kue puding cokelat dengan buah masakannya Senja. Tanpa terkecuali Senja sendiri yang harap-harap cemas dengan pendapat Kabir.


"Rasanya masih sama komposisi bahannya seimbang, tidak terlalu kemanisan, cokelatnya yang digunakan enggak pahit, tapi kenapa Kabir terdiam yah. Ya Allah semoga keponakanku berhasil kembali menyenangkan hati suaminya ini," harapnya Bu Aisyah.


Kabir yang terdiam dan masih mengunyah kue puding itu dengan tatapan mata yang sulit diartikan sehingga orang-orang beranggapan jika makanan buatan Senja kali ini tidak enak. Mereka pun bergantian mencicipi satu persatu kue tersebut.


"Alhamdulillah rasanya enak tidak seperti biasanya malahan rasa spesial karena cinta kasih sayang tulus banyak terdapat di dalam sini sehingga kuenya lebih nikmat, entah Kabir merasakan kue ini seperti apa," Jingga memperhatikan dengan lekat Kabir.


Semua orang kagum dengan rasa nikmat kuenya, mereka menunggu hasil penilaian dari Kabir langsung. Hingga Kabir tersenyum melihat raut wajah serius dari hampir keseluruhan orang yang duduk di hadapan Kabir yang menunggu untuk berbicara.

__ADS_1


Kabir pun tersenyum tipis sebelum angkat bicara dan memperhatikan tatapan mata yang berbeda-beda tertuju padanya.


"Ya Allah seperti ini kah rasanya ditatap langsung oleh beberapa orang yang menantikan penilianku langsung, memang aku akui istri kecilku jago masak, tapi tidak seperti ini juga arti tatapan mereka semua padaku,"


Kabir seperti sengaja mengulur waktu untuk belum berbicara langsung di hadapan semua orang. Ia ingin melihat reaksi dari anggota keluarga barunya dan mengarahkan pandangannya ke arah Senja yang sangat santai dan cuek saja.


Senja tidak berfikir ribet, baginya kalau suka dengan kue buatannya makan saja kalau tidak menyukainya tinggalkan atau buang jauh-jauh saja.


"Aku perhatikan dari semua orang yang hadir didalam sini, hanya istriku yang paling santai sedangkan yang lainnya sudah ketakutan, cemas dan juga khawatir jika kue Senja tidak enak di lidahku ini,"


"Ya Allah dosen yang terkenal killer tapi gantengnya selangit, kenapa meski lama banget beri komentarnya. Kamu tahu gak kami ini jujur saja cemas sekaligus gemes melihat anda pak dosen yang terhormat!" Celetuknya Zacky Zainal Arifin.


Zacky, Almairah, Bu Aliyah,Bu Sita Marsita, Lutfi serta kedua orang tuanya Senja Leo dan Aliyah menunggu dengan tidak sabar apa yang selanjutnya akan dikatakan oleh Kabir.


Kabir menekan tombol merah dilayar ponselnya kemudian m non aktifkan ponselnya tersebut karena hari ini ia tidak ingin diganggu mengenai masalah pekerjaannya apapun itu. Hari ini spesial khusus untuk bersama keluarga barunya.


"Sampai dimana tadi saya ngomongnya? Jujur sampai-sampai saya lupa ucapanku sendiri," candanya Kabir.


"Bapak Kabir yang terhormat tadi ngomong sampai tapi sungguh rasanya sangat… terus hpnya Senja pak Kabir berbunyi," ketusnya Amirah.

__ADS_1


Kabir kembali tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan dari kakak sepupunya Senja yang hanya terpaut beberapa hari saja. Senja segera bangkit dari posisi duduknya dan tidak menyukai suasana yang sudah tidak kondusif. Sebenarnya sedikit jengkel dengan sikapnya Kabir yang seperti mengulur waktu dan mempermainkan mereka semua.


Senja sama sekali tidak peduli dengan penilaian Kabir terhadapnya dan juga anggota keluarganya itu. Hingga ucapannya Kabir mampu menghentikan langkahnya Senja.


"Sungguh rasanya sangat enak dan mantap, jujur saja baru sekali ini aku menikmati puding buah yang dimasak dengan sepenuh dan setulus hati, kalau bisa aku berharap istriku kalau ada waktu senggang tolong kue puding dengan rasa apa pun itu bisa terhidang di atas meja khusus untukku," ungkapnya Kabir.


Perkataan Kabir diam-diam membuat Senja tersenyum tipis, dalam hatinya sangat bahagia karena tidak sia-sia rupanya ia bela-belain untuk memasak puding tiga macam hari ini.


Semua orang akhirnya bisa bernafas lega dan raut serta mimik wajah mereka kembali normal dan tidak nampak tegang lagi. Tidak seperti sebelum Kabir berbicara. Senja kembali melanjutkan perjalanannya itu menuju lantai atas dimana letak kamarnya berada.


Kabir hanya memandangi kepergian istrinya itu dengan tatapan matanya yang terus menerus memandangi kemanapun perginya Senja. Semua orang kembali bisa bercengkrama dengan santai dan betapa bahagianya mereka, karena apa yang sudah dibuatkan oleh Senja disukai oleh Kabir.


"Sukur alhamdulilah saya sejak tadi sudah yakin kalau Kabir akan menyukai masakannya Senja, saya saja tidak bisa buat puding seenak ini," pujinya Bi Sita neneknya Senja.


"Alhamdulillah adikku bisa membahagiakan suaminya dengan caranya sendiri. Walau mereka belum saling mencintai tapi aku bersyukur karena Senja sudah bertindak sebagai layaknya istri yang bertanggung jawab penuh terhadap perut suaminya, semoga saja kedepannya cinta mereka bisa timbul hingga tak terpisahkan," Jingga tersenyum simpul sambil menikmati kue buatan adiknya itu.


Aliya bersyukur karena dibayangannya dan prediksi perkiraan pernikahan putrinya tidak akan berjalan lancar. Mengingat sebelum hari akad nikahnya Senja menolak mentah-mentah rencana lamarannya.


Tetapi, sejauh ini semuanya berjalan lancar dan sesuai apa yang aku inginkan. Aku sangat bersyukur dan bahagia karena putriku perlahan-lahan bisa menjalankan pernikahannya dengan baik seperti layaknya pernikahan kebanyakan orang di luar sana.

__ADS_1


"Putriku menikah muda, tapi ia cukup sangat dewasa dan menjalankan tugasnya sebagai seorang istri, aku bangga padamu istriku karena kamu telah berhasil mendidik dan membesarkan kedua anak kembar kita dengan baik,"


__ADS_2