Belum Berakhir

Belum Berakhir
Bab. 33. Kekesalan Twins Senja dan Jingga


__ADS_3

Senja sangat bersyukur karena ada orang yang baik membantunya, walaupun Senja tidak mengenal orang tersebut yang paling penting adalah dia tertolong dan terselamatkan hingga ke kampusnya sebelum dosen killer masuk ke kelasnya.


Senja turun dari mobil berwarna putih itu dengan bernafas lega, karena bisa sampai dengan selamat di kampusnya walaupun sebelumnya banyak adegan tak terduga yang terjadi.


"Alhamdulillah, makasih banyak Paman Lutfi sudah antarin saya sampai di kampus," ucapnya Senja dengan tersenyum manis.


Lutfi Khaer tersenyum membalas senyumannya Senja keponakannya sendiri yang belum dibongkar identitasnya itu.


"Kamu itu anak baik jadi pantas saja mendapatkan bantuan dari Paman, tapi semua yang paman lakukan ini untuk kamu tidak gratis loh," ucapnya Lutfi dengan wajah seriusnya.


Senja melototkan matanya saking terkejutnya mendengar perkataan dari mulutnya Lutfi adik bungsu dari papanya Leo Carlando Zain Khalid Pratama yang sungguh panjang namanya hehe.


"Tidak gratis!" Beonya Senja dan Adicandra bersamaan.


Keduanya kebingungan plus keheranan mendengar perkataan dari pamannya itu.


"Paman kata Bu guru Sasmita menolong orang itu harus tanpa pamrih tidak boleh menunggu atau mengharapkan imbalan apapun dari orang yang kita tolongin," ucapnya Chandra yang sedikit kesal dengan sikap pamannya tersebut.


"Paman ini sepertinya sama saja dengan dosen reseh dan menjengkelkan yang hanya numpang lewat,setor muka dan ceramah saja bukannya nolongin malah ngacir duluan," gerutunya Senja yang menatap jengah Lutfi.


Luthfi langsung terpingkal-pingkal mendengar suara kedua keponakannya itu.


Lutfi menepuk pundaknya Candra, "Ya elah kalian ini serius banget sih, jangan terlalu serius kali, hidup ini butuh diselingi dengan bercanda juga kali, sekali-kali justkidding juga biar hidup lebih berwarna-warni seperti indahnya pelangi dan bunga-bunga yang bermekaran di taman," kelakarnya Luffy.


"Bercandanya tidak garing!" Ketusnya Senja.


"Cantik-cantik jangan suka cemberut dan mukanya ditekuk seperti itu, entar kadar kecantikannya kamu hilang loh," Lutfi kembali terkekeh melihat reaksinya Senja.


"Paman kalau bercanda mulu dan gak mutu seperti ini,kapan Candra sampai di sekolah!?" ketusnya Candra anak berusia sepuluh tahun lebih itu.

__ADS_1


Lutfi menggaruk tengkuknya yang tidak gatal itu, "Iya baiklah, Paman hanya minta balas budinya dengan nomor hp kamu karena mungkin kedepannya kita akan terus saling berkaitan jadi boleh kah Paman minta nomor ponselnya Senja Starla Zain," imbuhnya Lutfi sambil mengulurkan tangannya ke arah Senja yang berisi hp.


Senja tanpa ragu segera mengambil ponsel dari dalam genggaman tangannya Lutfi. Kemudian segera menekan beberapa digit angka nomor hpnya tersebut.


"Sudah yah Paman saya ke kampus dulu takutnya terlambat lagi," ujarnya Senja yang setelah berpamitan langsung ngacir dan kabur dari hadapannya Lutfi.


Lutfi hanya tersenyum simpul menanggapi sikap dari keponakan keduanya itu," kamu memang putrinya Abang Leo sikap kalian memang sama anak bapak sama-sama terkadang judesnya selangit, sedangkan Candra walau kamu bukan anak kandungnya Abang Leo tapi kamu sudah menjadi bagian dari anggota keluarga besarnya Khalid Pratama," Lutfi mengelus puncak rambutnya Candra.


Senja segera berjalan cepat ke arah kelasnya,ia tidak ingin mendengarkan perkataan tak bermutu dari asisten dosennya yang sering pedes melebihi pedisnya bon cabe level sepuluh.


"Ya Allah semoga saja aku belum terlambat jika tidak pasti dapat omelan juga amarah yang berujung dengan hukuman," gumamnya Senja.


Senja semakin mempercepat langkahnya menuju ke arah dalam kelasnya yang kebetulan hari itu berada di lantai tiga gedung dibagian barat.


Nafasnya memburu ngos-ngosan karena berlari kencang, ia memegangi pintu ruangan kelasnya dengan tersenyum lega karena dugaannya mengaggap jika dosennya pak Kabir belum datang.


"Alhamdulillah belum terlambat," cicitnya Senja yang masih bisa kedengaran hingga ke telinga beberapa teman kelasnya termasuk dosennya.


"Siapa yang bilang kamu belum terlambat," sanggahnya Kabir dosen yang cukup disegani, ditakuti oleh semua mahasiswa mahasiswi yang diajarnya itu.


Dengan wajah dingin dan tidak bersahabat itu, Kabir berjalan ke arah Senja yang tidak jadi duduk. Peluh keringat bercucuran membasahi pipinya Senja saking capek dan lelahnya berlarian.


"Kamu lihat jam tidak?" Tegasnya Kabir.


Senja segera melihat ke arah jam tangannya yang melingkar di pergelangan tangan kanannya itu. Senja membelalakkan matanya saking terkejutnya melihat jamnya yang sudah menunjukkan pukul delapan pas, pertanda dia sudah terlambat sekitar setengah jam lamanya.


"Maaf Pak saya…" ucapannya terpotong karena segera disela oleh Kabir.


"Kamu Bapak hukum, kamu silahkan duduk tapi kamu harus kerjakan tugas halaman 123 yang seratus soal itu dan setor tugasnya hari ini juga sebelum jam tiga sore!" Tegas Kabir yang tidak ingin dibantah lagi.

__ADS_1


"Tapi Pak," lirihnya Senja.


Kabir semakin mengikis jarak mereka berdua, dengan berbisik di telinganya Senja dengan mengarahkan pandangannya ke sekeliling ruangan sebelum berbicara.


"Atau kamu temani saya malam ini untuk bertemu dengan kedua orang tuaku, pilih mana yang kamu suka, saya tunggu jawabannya sebelum pelajaran saya disini usai," cicit Kabir kemudian segera berjalan ke arah mejanya itu.


Senja terduduk kembali ke atas kursinya dengan lemah, lelah, lesu dan lunglai tak bertenaga serta tak berdaya.


"Ya Allah… kenapa sih pak Kabir memilih saya untuk menemaninya lagi, padahal kan banyak mahasiswi yang lebih cantik, seksi dan pintar dari saya, kalau saya datang ini yang ketiga kalinya saya menemaninya,"


Senja tidak ada pilihan lain lagi dengan berat hati dan terpaksa dia menuruti perkataan dari perintah mutlak harus diikuti dan dituruti keinginannya jika tidak semester ini bisa-bisa gagal.


Kabir diam-diam memperhatikan apa yang dilakukan oleh Senja termasuk perubahan dalam sikap dan raut wajahnya Senja.


"Kamu sudah dikenal oleh papi dan Mami kalau hari ini ajak perempuan lain bisa-bisa dapat masalah lagi yang akan berujung aku dilarang ngajar disini dan kesempatan untuk bertemu denganmu pasti semakin tipis gadis kecilku,"


Di Tempat lain tepatnya di dalam sebuah rumah berlantai dua cukup besar dan terbilang mewah Itu. Dua orang perempuan beda usia sedang adu argumentasi.


"Mama kenapa harus saya sih yang gantiin Mama untuk ikut arisan, bukannya Senja yang biasanya pergi menemani Mama!? Lagian kenapa juga Mama enggak ikut bareng Jingga ke sana!" Ketusnya Jingga anak sulungnya Aliya dengan Leo.


Aliyah duduk di ujung ranjangnya Jingga," sayang putrinya Mama, hari ini di toko Mama banyak barang baru datang, jadi Mama harus turun tangan langsung untuk mengecek barang-barang itu, Mama tidak ingin kecelongan lagi seperti bulan lalu, jadi Mama mohon kali ini saja kamu gantiin Mama yah Nak," bujuknya Alia yang memang kali ini untuk pertama kalinya tidak bisa menghadiri acara arisan bersama teman-teman masa sekolahnya dulu yang memperlihatkan wajah memelasnya.


Jingga tidak mungkin tega melihat wajah sedih mamanya itu dengan berat hati ia pun mengiyakan perkataan dari mulut mamanya itu.


"Baiklah Jingga akan pergi, tapi ingat ini untuk pertama kalinya yah, saya tidak mau terus menerus menghadiri arisannya Mama," ketus Jingga.


"Alhamdulillah, putrinya Mama memang the best lah, kalau gitu kamu siap-siap sana Mama sudah siapkan gaun tercantik untuk kamu pakai ke sana, Mama enggak mau kamu kesana dengan persiapan asal-asalan kau harus tampil cantik hari ini walau anakku sudah cantik dari orok," ucapnya Alia yang akhirnya berhasil juga dengan rencananya tersebut.


Jingga menatap jenuh ke arah lemari tepatnya pakaian yang akan dipakainya yaitu gaun selutut berwarna peach blossom. Padahal ia paling malas untuk berpakaian feminim.

__ADS_1


"Aku harus segera mengirim chat ke nomor jeng Sintia jika putriku siap ke arisan agar putranya juga dipaksa datang,"


__ADS_2