Belum Berakhir

Belum Berakhir
Bab. 229


__ADS_3

Jihan setelah mengganti pakaiannya,dia segera berjalan cepat ke arah luar. Dia takut terlambat bertemu dengan Kaisan Al-ayyubi calon suaminya itu.


Aku tidak boleh gagal, aku harus bisa meyakinkan Pak Kaisan untuk segera membatalkan pernikahan kami.


Senja yang melihat putrinya terburu-buru pergi, hendak bertanya kepada putri bungsunya itu tapi kalah cepat dengan laju kakinya Jihan Yuanni Ulli.


"Jihan, putriku kamu mau kemana?" Teriakannya Senja.


Jihan hanya mengankat tangannya dan berteriak pula membalas pertanyaan dari mamanya itu.


"Aku mau keluar sebentar dulu Moms," Jihan mempercepat langkahnya menuju ke arah pintu keluar.


"Astauhfirullah aladzim kebiasaan banget deh, kalau tergesa-gesa pasti sudah lupa berpamitan dengan baik padaku," keluhnya Senja yang kembali menghempaskan tubuhnya ke atas sofa.


Zania Mirzani, Icha Khaerunisa, Naysila serta Vania Larissa hanya menatap Senja tak percaya dengan sikapnya Senja yang terlalu baper dengan sikap dari putri bungsunya itu.


"Kesalnya ditahan yah Bu, entar kulitnya berkeriput loh kalau keseringan ngomel-ngomel," cibirnya Vania Larisa.


"Iya nih,ga jelas banget masa anaknya berpamitan seperti itu dipermasalahkan," cercanya Zania.


"Biasa ibu-ibu yang bakal dapat mantu seperti ini sikapnya, maklumi sajalah," sahutnya Naysila.


"Taraa… untuk mendinginkan hati dan otak yang ngebul kayaknya minum es buah ini akan meredakan hati yang bergelora bergejolak kepanasan," ucapnya Jingga sambil membawa nampan yang berisi beberapa gelas terisi es buah buatannya.


"Mbak Jihan memang selalu the best deh memikirkan nasib emak-emak kepanasan," ujarnya Vania Larissa yang segera membantu kakak iparnya itu.


"Kalian ngerumpi saja kerjanya, untungnya ada aku yang bantuin Mbah Jingga jikalau tidak pasti Mbak Jingga bakal kerepotan di dapur seorang diri," timpalnya Hana Aerin yang membawa makanan yang belum sempat dibawa oleh Jingga.


"Pak Ardy apa mobilku sudah siap?" Tanyanya Jihan ketika berada di pos security.


Pak Ardi yang sedang menikmati secangkir kopi hangat dengan kue kering sebagai pelengkapnya segera menyimpan cangkir kopinya itu ke atas meja.


"Sudah siap Non Jinan," balasnya Pak Ardi yang saking terburu-burunya menjawab pertanyaan dari anak majikannya itu sehingga tidak bisa mengenali Jihan dengan baik.

__ADS_1


"Makasih banyak yah mang Ardi, bonusnya akhir bulan yah mang," ucapnya Jihan yang selalu bercanda mengenai bonus yang sering kali Jihan berikan kepada supir pribadinya itu.


Jihan segera meraih kunci mobilnya yang diberikan oleh pak Ardi ke dalam tangannya itu.


"Kalau berbicara bonus itu Nok Jihan, berarti yang tadi itu adalah Non Jihan," cicitnya pak Ardi sambil menepuk jidatnya karena kali ini kembali tidak mengenali anak kembar majikannya.


Jihan hanya terkekeh melihat sikapnya Pak Ardi yang salah kaprah dengan cucu kembar pemilik rumah megah itu.


"Tadi pagi Non Delila dengan Non Dania yang tidak bisa aku bedakan, sekarang Non Jinan dan Jihan, gini nih akibatnya kalau majikan kami kembar," sungutnya Pak Ardi.


Jihan segera melajukan kendaraannya ke arah jalan protokol kota London siang hari menuju sore itu. Dia berharap agar rencananya kali ini berjalan sukses dan lancar seperti yang sering dia kerjakan.


"Bismillahirrahmanirrahim, bantu aku yah Allah, semoga saja Pak Kai menyetujui usulanku ini jika aku sudah jujur padanya," Jihan penuh harap rencananya berhasil mulus.


Sedangkan Kaisan baru saja memasuki area kafe tersebut sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat tersebut mencari keberadaan gadis muda yang telah mengajaknya bertemu untuk pertama kalinya.


Kaisan segera memilih meja yang letaknya paling bagus dan ternyaman yang ada di dalam kafe tersebut.


"Aku akan mengirim chat agar Jihan mengetahui jika aku sudah menunggunya di sini," Kaisan merogoh saku celananya dan mencari keberadaan ponselnya itu.


Kaisan spontan berdiri dari duduknya itu sambil melambaikan tangannya ke arah Jihan yang mengarahkan penglihatannya mencari pria yang telah melamarnya.


Kaisan berdiri dari duduknya dan berjalan menyambut kedatangan Jihan. Dia tersenyum sumringah melihat kedatangan perempuan yang sedari empat tahun lalu sudah disayanginya itu.


"Maaf pak saya terlambat, maklum macet," kilahnya Jihan.


"Macet!" Beonya Kai.


"Di depan jalan sana terjadi kecelakaan sehingga membuat perjalanan kami tertunda," jelasnya Jihan.


Keduanya pun berjalan beriringan dan memerhatikan suasana kafe yang cukup ramai dipadati pengunjung siang hari itu.


Suasananya cukup nyaman, pintar juga pak Kaisan mencari tempat yang nyaman untuk berbincang-bincang.

__ADS_1


Jihan mengangumi latar kafe tersebut yang mampu membuatnya nyaman dan tenang padahal baru dalam hitungan menit kedatangannya.


"Kamu mau pesan apa?" Tanyanya Kaisan yang mulai membuka percakapan diantara mereka.


"Tidak perlu Pak Kai, karena kedatanganku ke sini hanya untuk berbicara hal yang sangat penting dan tidak bisa aku tunda lagi," ucapnya Jihan yang to the poin.


Sedangkan di kediaman kakeknya Pak Septa Danu Triadji dan Raka Bumi Nasution.


"Mommy, Jihan mau ke mana? soalnya tadi aku lihat mobilnya melaju dengan kecepatan yang cukup tinggi." Ucapnya Gibran sambil mendudukkan tubuhnya ke atas salah satu sofa ruang tengah tepat disampingnya Tante Zania.


"Kalau enggak salah mau ke kafe X di jalan XX ada pertemuan khusus dengan temannya," jawab Senja.


"Kalau Jinan kemana Moms?" Tanyanya lagi Gibran Mahenza yang mulai menyendok es buah buatan khusus Aunty Jingga.


"Kalau Jinan baru saja ke dalam kamarnya Giska, mereka akan ke mall belanja kebutuhan persiapan pernikahannya Alif dengan Asminah," balasnya lagi Senja.


"Alhamdulillah nikmatnya es buah ini, ngomong-ngomong pasti yang buat es buahnya Aunty Jingga," pujinya Gibran sambil menebak yang pembuatnya.


"Kamu selalu saja mengenali rasa masakan buatannya Aunty, lidahmu memang jeli nak," sahutnya Jingga.


"Aku sudah tau sejak awal Aunty, karena yang bisa buat makanan selezat ini, hanya mommy Senja dan Aunty Jingga kalau yang lain pasti rasanya ndak seenak ini," ujarnya Gibran.


"Ya Allah… Kak Gib kau kalo ngomong selalu ada benarnya. Kalau mamaku masak nasi kuning saja kagak benar apalagi buat yang ginian," cercanya Iqbal putrinya Galang dan Hana.


"Mamiku juga pasti kagak mampu membuat minuman selezat ini, Iya kan Mi," Asriel Abrar mengangkat gelasnya yang sudah hampir tandas karena disantapnya begitu lahap.


"Hahaha, astaughfirullahaladzim kenapa anak-anak kami ini tidak pernah memuji masakan kami-kami ini," ucapnya sendu Hana yang berpura-pura marah.


"Aahh Tante Hana, ngelucunya enggak garing banget deh," timpalnya Raisa Andriana yang semakin membuat suasana ramai.


"Hahaha," suara tawa membahana di dalam ruangan tersebut.


Dua orang pasang suami istri memperhatikan apa yang mereka sedang lakukan.

__ADS_1


"Nikmat mana yang kami dustakan, kebahagiaan kalian adalah kebahagiaan kami sebagai orang tua kalian," cicitnya Pak Raka.


"Aku bersyukur suamiku, walaupun mereka hanya sahabatan,tapi kedekatan, kebersamaan, kekompakan, kasih sayang dan perhatian mereka satu sama lainnya begitu tulus hingga sudah terjalin lebih dari dua puluh tahun lamanya." sahut Bu Saskia Shopiah.


__ADS_2