
Keesokan harinya, meja makan setiap hari selalu ramai karena semua penghuni rumah mewah tersebut berkumpul untuk menyantap menu sarapan pagi mereka.
"Jinan, adikmu kenapa belum bangun untuk sarapan, apa tidak ada jam kuliahnya ini hari?" Tanyanya Bu Saskia Shopia.
Jinan menolehkan kepalanya ke arah neneknya sebelum menarik sebuah kursi untuk didudukinya.
"Jihan sepertinya masih di dalam kamar mandi Oma, mungkin masih lama," jawabnya Jinan.
"Giska dimana? Alif juga belum muncul, apa yang terjadi pada kalian semua, kenapa bermalas-malasan untuk ngampus," cercanya Bu Saskia.
"Kami datang Oma cantik," ucapnya Giska Inayah yang segera duduk di sampingnya Jinan dengan senyuman sumringahnya.
"Gibran entar sore sehabis pulang kampus, kamu antar Oma ke bandara yah Nak," pintanya Bu Saskia.
"Bandara Oma," beonya Delila.
"Iya, kebetulan insha Allah sore nanti temannya Oma datang dari Indonesia, pak supir kita katanya anaknya masuk rumah sakit jadi tidak ada yang bisa antar Oma," jelasnya Bu Saskia.
"Iya Oma," jawabnya singkat Gibran.
Ya Allah besok ulang tahunku, apakah mommy dan daddy enggak bisa datang ke London untuk merayakan bersama kami?
Gibran menghela nafasnya dengan cukup keras saking sedihnya karena ulang tahun ke 20 tahunnya, kembali hanya bersama adik dan sepupunya itu.
Setelah menyantap makanan masing-masing semua berangkat ke kampusnya. Jinan, Jihan, Ocean, Gibran, Giska Inayah, Raysa Adriana, Alif Naufal, Iqbal Rizanta, Delila dan Dania semuanya berangkat memakai mobil.
Kebetulan hari ini turun hujan, sehingga mereka memakai mobil. Ada empat mobil yang keluar dari bagasi mobil tersebut dirumah yang cukup besar dan mewah itu.
"Kalian harus rukun, bahagia bersama Nak. Memang semuanya bukan cucu kandungku hanya Delila,Dania dan Iqbal tapi bagiku kalian semua sama di hatinya Oma," ucapnya Bu Zaskia.
"Aku bersyukur dan senang melihat cucu-cucu kita akur istriku. Selama hampir empat tahun kita menetap di London alhamdulilah selama itu pula kehidupan kita semakin berarti dan berwarna," sahutnya Pak Raka Bumi Nasution.
Gibran satu mobil dengan Dania dan Delila sedangkan mobil satunya ada Ocean, Giska dan Jinan. Satunya lagi ada Alif, Jihan dan Raisa serta Iqbal. Mobil satunya terpaksa dikembalikan ke dalam carport, karena kebetulan bahan bakar bensinnya habis.
"Ish… mang Ardi kenapa sampai lupa sih ngisi bensinnya mobilku!" Kesalnya Jinan.
"Namanya juga manusia biasa, pasti akan melakukan kesalahan dan khilaf," timpalnya Oce seraya tetap mengemudikan mobilnya itu sendiri.
Jinan hanya memonyongkan bibirnya itu dengan mendengar perkataan dari paman mudanya.
Sedangkan di mobil satunya Dania membuka percakapan diantara mereka bertiga.
"Kak Gi, apa kakak sudah lama mengenal Ansel?" Tanyanya Delila.
Gibran menoleh sekilas ke arah adik sepupunya itu sebelum menjawab pertanyaan dari Delila. Dania yang sedari tadi menatap layar benda pipih yang berbentuk persegi panjang itu, mengarahkan pandangannya ke arah keduanya tanpa menimpali percakapan keduanya. Asril pun ikut melihat mereka melalui kaca spion.
"Kenapa memangnya kamu bertanya seperti itu?" Tanyanya balik Gibran.
__ADS_1
Gibran bukannya menjawab pertanyaan dari Delila Najida malah bertanya balik.
"Jika aku ditanya siapa orang yang paling aku benci di dunia ini, tentunya dia adalah orangnya," kesalnya Delila.
Asriel menatap sekilas ke arah Delila kemudian kembali membaca bukunya.
"Del, ingat benci dan cinta itu bedanya sangatlah tipis, hati-hati jika membenci seseorang jangan sampai esok hari dialah orang yang paling kamu cintai," imbuhnya Asriel.
Delila mengetuk beberapa kali kaca jendela mobilnya itu, "Ihh amit-amit jabang bayi deh!" Ketus Delila.
"Delila, wajar ngomong gitu kak Gib. Karena sejak tiga tahun yang lalu Ansel itu selalu saja gangguin Delila, sedangkan Delila begonya enggak mampu membalas perbuatannya Ansel n the gank," ujarnya Dania yang ikut menambahkan pembicaraan mereka.
"Sepertinya teman aku itu jatuh cinta padamu Del, karena hanya kamu perempuan yang diperlakukan seperti itu dan Ansel itu sebenarnya pria yang risih berdekatan dengan perempuan manapun," ungkapnya Gibran.
Delila menyandarkan kepalanya ke headboard mobilnya itu dengan menatap ke arah jalan yang dilaluinya itu.
Berbeda halnya dengan mobil mewah berwarna merah dikemudikan oleh Alif Naufal Azhar.
"Jih, kemarin waktu di mall, kenapa kamu lama banget di toiletnya apa yang terjadi padamu?" Tanyanya Raisa Andriana yang cukup penasaran hingga posisi duduknya diperbaiki dan menghadap ke Jihan.
Jihan segera mematikan layar ponselnya itu kemudian menjawab pertanyaan dari temannya sekaligus sepupunya itu. Raisa Andriana adalah putrinya Naysila dengan Ardian Putra.
Jihan pun mulai menceritakan apa yang terjadi tanpa ada yang ditutupi oleh Jihan," aku mendengar ada dua orang kekasih bertengkar hebat, terus entahlah kenapa aku malah kepo dan pengen banget mendengar apa yang keduanya lakukan dan katakan di dalam toilet umum."
"Apa jangan-jangan keduanya sedang anu, inikan London luar negeri masalah di seperti itu biasa terjadi," ucap Raisa.
"Memang itu tidak masalah bagi siapapun, hanya saja aku kasihan dengan nasib gadis malang itu, sudah hamil empat bulan tapi malah disuruh gugurkan kandungannya dan parahnya lagi kekasihnya itu sudah yang ketiga kalinya mengandung, tapi selalu saja digugurkan," kesalnya Jihan seraya meremas kertas yang kebetulan berada di dalam genggaman tangannya itu.
Alif mulai salah tingkah, panik, tangan dan kakinya gemetaran, keringat dingin bercucuran membasahi sekujur tubuhnya itu padahal sedang hujan deras di luar sana. Sehingga mobil yang dikendarainya melaju dengan kecepatan yang cukup tinggi.
"Astaughfirullahaladzim, Al. Pelankan mobilnya kenapa meski ngebut segala," teriak Raisa yang mulai takut.
Alif tersadar segera memelankan laju kendaraan mobilnya itu. Asriel Albar adalah putranya Galang Ramadan dan dokter Hana Aerin adik sepupunya Kabir Kasyafani dan Guntur Aswin.
"Terus aku melihat perempuan itu menangis tersedu-sedu di depan kaca cermin westafel dan aku lihat punggung pria yang keluar dari dalam toilet itu mirip banget dengan Alief baik dari segi pakaiannya, warna bajunya hingga bentuk postur tubuhnya sangat mirip," jelasnya Jihan panjang lebar.
Ciitt!!
Suara bunyi ban mobilnya yang dikemudikan oleh Alief itu yang berhenti tiba-tiba membuat ke-tiga orang penumpang tubuhnya maju ke depan hingga kepalanya terantuk ke dasbor dan jok mobil.
"Argh!!"jeritnya Jihan dan Raisa.
Asriel yang sedang fokus membaca bukunya terjatuh ke atas lantai mobil.
"Alif, apa yang terjadi padamu?"geram Jihan yang mengelus keningnya yang terbentur ke jok kursi yang di duduki oleh Asril.
"Allahu Akbar, apa yang terjadi padamu Alief Maulana putranya Om Hakim Rahman!" Kesal Asriel.
__ADS_1
Raut wajahnya Alif memucat saking takutnya ketahuan dan juga ketakutan jika rahasia terbesarnya terbongkar. Raysa dan Jihan memperbaiki posisi duduknya dan kembali mengarahkan tatapannya ke arah Alief sang pelaku.
"Ma-af a-nu a-ku tidak sengaja," sanggahnya Alief.
Ketukan di kaca jendela mobilnya itu kembali mengejutkan ke empatnya.
Tok… tok..
Seorang pria berjas lengkap keluar dari dalam mobil berwarna hitam itu. Mobil yang ternyata ketabrak oleh mobil mereka.
"Hey! Keluarlah kalian!" Teriak seorang pria muda yang memakai kacamata baca sambil memegangi payung hitamnya.
Raysa segera keluar dari dalam mobil tanpa memakai payung karena terlalu terburu-buru dan juga kaget.
"Maaf Pak, ada apa yah?" Tanyanya Raisa sembari mengarahkan tatapannya ke arah kap mobil bagian belakang mobil sang pria berpayung itu.
Pria itu ingin marah tapi tidak jadi melihat raut wajahnya Raisa yang terkena air hujan hingga seluruh hijabnya Raysa basah kuyup. Pria itu spontan memayungi Raisa.
Subhanallah cantiknya perempuan ini, apalagi memakai penutup kepala seperti gadis-gadis timur tengah.
"Maaf, lihatlah baik-baik ke sana, gara-gara ulahmu sehingga mobilku penyok," marahnya pria itu sembari memperbaiki letak kacamatanya.
Raysa melototkan matanya saking terkejutnya melihat mobilnya pria itu dan juga mobilnya yang rusak parah akibat perbuatannya Alif.
"Kami tidak sengaja Pak, saudaraku mengemudikan mobilnya karena tidak melihat kondisi jalan dengan baik gara-gara hujan, kami meminta maaf yah," bujuknya Raisa yang berharap agar masalah ini tidak diperbesar-besar.
Jihan keluar dari dalam mobilnya seraya memakai payung,"kami sudah meminta maaf kepada Anda Pak, kalau Anda tidak terima silahkan tuntut kami dan pastinya kami akan tuntut balik juga. Karena mobilku juga rusak parah sama halnya dengan mobilnya Anda Pak." Jihan tidak mau berkompromi dengan keadaan.
Asril Abrar dan Alif keluar dari mobilnya itu dan berdiri di dalam satu payung bersama dengan Jihan.
"Tapi…" ucapannya pria berkacamata itu terhenti ketika suara intrupsi seseorang terdengar dari arah belakang punggungnya pria berkacamata.
"Varrel Mahenza Cowell, hentikan perdebatannya," ucapnya pria yang baru saja turun dari dalam mobilnya dengan memakai payung pula.
Semua orang mengalihkan pandangannya ke arah suara itu hingga Jihan menganga lebar melihat siapa orang itu.
"Pak Kaisan Al-ayyubi Haitam," lirihnya Jihan.
"Jihan Yuanna Ulli," beonya Kai yang bibirnya melengkung lebar karena kembali dipertemukan dengan perempuan yang sangat ingin ditemuinya itu.
Semua orang menautkan kedua alisnya mendengar ucapan keduanya yang seperti saling kenal.
Syukur alhamdulilah akhirnya kami dipertemukan lagi.
"apa yang terjadi kak Varel, kenapa... Kak Alief," ucapnya seorang perempuan muda yang baru saja keluar dari dalam mobil setelah Pria yang dikenal oleh Jihan.
Alif semakin pucat ketika menyadari siapa perempuan cantik yang barusan turun.
__ADS_1
"Asmina Meidiana," Alif bertambah ketakutan.
"Apa hubungannya dengan pemilik mobil?"