Belum Berakhir

Belum Berakhir
Bab. 70. Persiapan Ijab Kabul


__ADS_3

Bu Sita tersenyum melihat cucunya yang menurut dengan perkataannya. Jingga segera berpakaian dibantu oleh neneknya. Awalnya bersikukuh dan tidak ingin menuruti perkataan neneknya. Bahkan Jingga pun sudah menentang keras permintaan neneknya, tapi tetap saja tidak berhasil.


Jingga menghela nafasnya dengan cukup keras, "Ya Allah bukannya aku tak rela, iri hati atau tidak bahagia dengan pernikahannya Senja adikku, tapi aku masih sangat sedih dengan kematian Bang Abdil Pramudya, entah kenapa hatiku seolah menganggap jika Abang Abdil itu masih hidup hanya saja dia berada di negara lain,"


Bu Masitah Marsita melihat cucu sulungnya itu dengan tatapan mengibahnya. Dia pun sangat tahu dengan jelas apa yang sedang terjadi pada Jingga.


"Ya Allah aku sedih melihat cucuku seperti ini, tapi aku juga tidak berdaya dengan kuasa dan takdir yang telah Engkau gariskan untuk cucuku, aku hanya berharap semoga saja cucuku secepatnya bisa pulih kembali dan hidup normal seperti sedia kala."


Berselang beberapa menit kemudian, Jingga dan Bu Sita menuruni undakan tangga satu persatu. Semua orang yang kebetulan sudah memenuhi ruangan tengah rumahnya mengalihkan perhatiannya ke arah Jingga dan Bu Sita.


"Masya Allah cantiknya Nak Jingga," pujinya Bu Ayudya kakak sepupunya Alia yang terus memperhatikan keduanya.


"Iya sungguh cantik putrinya Aliah, calon pengantin dan kakaknya sama-sama cantik, jika saya disuruh untuk memilih pasti saya akan menjawab saya tidak bisa memilih salah satu dari mereka," imbuhnya lagi yang lainnya.


"Kalian bisa saja memujinya, gimana gak cantik putri-putriku jika tante-tantenya juga cantik-cantik, jadi wajarlah jika Jingga juga cantik," balasnya Aliah.


"Kalau gitu karena pengantinnya sudah siap, Jingga dan ibu sudah ada kebetulan juga pengantin prianya sudah datang di masjid, sebaiknya kita juga bersiap ke sana," ucapnya Lutfi Khaerul.


"Jangan lama-lama menunda waktu baiknya, Nak Jingga tolong jemput adikmu di dalam kamarnya, jangan biarkan keluarga besan terlalu lama menunggu kedatangan kita semua," Leo memerintahkan kepada anak sulungnya itu.


"Baik Pa," balas Jingga yang sudah berjalan ke arah dalam kamar pengantin.

__ADS_1


Sedangkan yang lainnya sudah berada di dalam mobil masing-masing yang akan mengantar mereka menuju masjid tempat pelaksanaan akad nikahnya Senja dan Kabir dosennya yang selama ini mengisi salah satu mata pelajaran di kampusnya.


Senja duduk di samping kakaknya, sedangkan di depan duduk saling berdampingan mama dan papanya menjadi supir pribadinya sang mempelainya pengantin wanita.


Mobil berwarna putih khusus pemberian dari pihak keluarga Kabir sungguh mewah dan mahal. Mobil itu sudah dihias dengan hiasan ala pengantin baru. Mobil kedua ada neneknya Bu Marsita Sita, adiknya Adicandra Bima Satria, pamannya Lutfi Khaerul.


Ada sekitar dua puluhan mobil yang mengantar Senja ke masjid untuk yang hanya berjarak beberapa meter saja dari kediamannya Aliah.


"Kamu tidak boleh grogi, nerves, ataupun takut. Ini adalah hari pernikahanmu jadi tenanglah insha Allah semuanya akan berjalan lancar," ucapnya Jingga yang berusaha untuk menenangkan adiknya yang tangannya berkeringat dingin.


Senja berusaha untuk tersenyum," Mama ketika menikah dengan papa apa seperti ini juga yah?" Tanyanya Senja yang berusaha untuk menenangkan dirinya sendiri.


Aliyah menolehkan kepalanya ke arah belakang," bukan hanya kamu, mama dan semua wanita ataupun pria yang akan menikah mengalami hal yang sama. Tapi intinya jangan banyak pikiran terutama fiikiran negatif, perbanyak dzikir dan tersenyum. Mama melakukan hal semacam itu dulu,"


"Jadi papa waktu itu mengulang ijab kabul nya berapa kali Pa? Karena ada teman dulu aku lihat langsung prosesi acaranya yang sakral itu malah tiga kali salah loh, apa Papa enggak gitu kan?" Tebaknya Jingga yang mulai lebih bisa terbuka berbicara dibanding sebelumnya.


Leo terkekeh geli mendengar perkataan dari anaknya itu yang bertanya ingin mengetahui apa yang terjadi sebenarnya dimasa kedua orang tuanya menikah.


Jingga dan Senja menunggu papanya menjawab pertanyaan menggelikan itu. Aliyah tersipu malu sebelum membantu suaminya itu menjawab pertanyaan dari kedua putrinya.


"Ish gak asyik kok jawabnya lama banget apa jangan-jangan Papa sama seperti temannya Jingga yang nikah karena gara-gara tidak konsentrasi saking groginya tidak bisa dengan fasih dan lancar melafalkan ijab kabulnya tapi, untungnya ada aqua sehingga membuatnya lebih mudah dan lues dalam melafalkan ikrar sumpah nikahnya," ungkapnya Jingga yang mengingat kejadian itu.

__ADS_1


Tawa renyah dari kedua anak kembarnya Aliya membuatnya bisa bernafas lega karena Jingga sudah bisa lebih santai dan tidak murung lagi seperti dulu lagi.


Aliah tersenyum senang karena melihat putri sulungnya tidak berlarut-larut dalam kesedihannya. Lagian ia juga mendapatkan informasi jika makamnya Abdil Pramudya akan segera dipindahkan ke tanah kelahirannya di Jakarta Selatan dua minggu dari sekarang.


"Alhamdulillah papa dulu cuma sekali saja ketika kami menikah, bagikan saking percaya dirinya papa melafalkan dan mengucapkan ijab kabol dengan suara yang sungguh lantang dan melengking hingga semua orang sungguh terkejut dengan suara nyaringnya Papa," jelas Aliya yang berusaha mengingat kejadian beberapa tahun silam ketika dia menikah.


"Seriusan Ma kalau papa dengan gagah berani mengucapkan lafas ijab kabul kalian dengan lancar tanpa hambatan seperti jalan tol Cipularang yah," candanya Senja yang bernada serius itu mengangumi kemampuan papanya.


Aliah menganggukkan kepalanya sambil tersenyum lebar, "Serius,gimana caranya juga mau salah kalau hampir setiap hari belajar dan menghafalnya sehingga tidak mungkin ada kesalahan," ucap Aliya yang terkikik mengingat kejadian penting pada masa itu.


Percakapan dan perbincangan santai mereka terputus ketika mobil sudah berhenti tepat di depan masjid. Aliya terkagum-kagum melihat begitu banyaknya antrian mobil yang berjejer rapi di sepanjang ruas jalan yang dilaluinya.


"Subhanallah sungguh banyak banget pengantar pengantinnya, keluarga besan sungguh keluarga besar, lihat saja buktinya mereka berbondong-bondong datang untuk menyaksikan langsung akad nikahnya Senja," kagumnya Aliyah.


Senja dan Jingga melongok tak percaya melihat puluhan mobil berbagai macam merk dan model berjejer di sepanjang jalan hingga seolah semut pun tidak sudi untuk melewati jalan yang sudah sesak dengan kendaraan roda empat yang cukup mahal dan mewah.


Semua anggota keluarganya Aliya dan Leo kembali dibuat tercengang dengan melihat betapa banyaknya barang seserahan pernikahan yang dihantarkan oleh anggota keluarganya Kabir Kasyafani Sanders.


Guntur Aswin Nasution


Ingat akhir bulan yah khusus untuk pembaca setia yang like,baca, komentar setiap hari akan masuk list yang akan menerima sembako dari fania.

__ADS_1


Jadi pantengin terus yah novel recehku ini. Jangan sampai enggak masuk list. ingat akhir bulan akan ada beberapa pembaca setia dari ketiga novelku yang akan dapat pulsa zikit.


Jika ada readers yang baca ketiga novelku setiap hari maka bonusnya tiga kali juga. akhir bulan aku akan umumkan yang dapat.


__ADS_2