
Senja dan Jingga tak henti-hentinya mencium wajah kedua orang tuanya sebelum diberangkatkan ke tempat pemakaman umum.
Selama dalam perjalanan, Jingga dan Senja tak henti-hentinya menangis. Keduanya ditemani oleh kedua suami mereka. Kabir dan Guntur saling bahu membahu membantu untuk memenangkan pasangan hidup mereka yang terguncang hebat karena kedua orang tua mereka yang meninggal dalam sehari.
Tangis histeris dari Senja dan Jingga serta sanak keluarga besar Leo Carlando dan Aliya Azizah semakin terdengar jelas, ketika keduanya dimasukkan secara bergantian ke dalam liang lahat.
"Mama, Papa," teriaknya Senja dan Jingga yang melihat kedua jenazah kedua orang tuanya yang sudah ditimbun dengan tanah.
Ustadz membacakan beberapa surah-surah pendek dan juga memberikan tausiah singkat seputar kematian. Senja dan Jingga berulang kali melafalkan istighfar, setelah mendengarkan nasehat dari pak ustadz.
Astauhfirullah aladzim, maafkanlah aku yah Allah yang sebelumnya sulit untuk melepas kepergian mamah dan papah. Tapi, walaupun itu sangat sulit dan tidak semudah membalik telapak tangan, aku akan berusaha.
__ADS_1
"Mama, Papa selamat jalan, kalian memang cinta sejati sudah berpisah lebih sepuluh tahun dan hidup bersama kembali dan akhirnya kalian meninggalkan kami bertiga sehari pula," lirihnya Senja sambil menabur bunga khusus untuk pemakaman.
Air matanya jatuh seiring dengan jatuhnya bunga dari dalam genggaman tangannya itu. Jingga pun sama halnya dengan apa yang dirasakan oleh adik kembarnya. Satu persatu bunga ditabur ke atas pusara kedua orang tuanya seiring dengan jatuhnya air matanya mengantar kepergian Alia Azizah Khumairah dan Leo Carlando Zain Pratama.
Satu persatu orang yang hadir mengantar kepergian kedua pasangan suami istri itu memberikan penghormatan terakhir dengan menaburkan bunga ke atas pusara dengan tanah yang masih basah.
"Nak Senja Oma pulang duluan yah, kalian baik-baik disini dan ingat semua yang terjadi pada hidup kita hari ini adalah karena sudah takdir dan ketentuan sunatullahNya ALLAH SWT," nasehat bijak Bu Clara.
Senja memeluk nenek dari suaminya itu sambil berusaha untuk tersenyum walau hanya sekejap mata saja.
"Makasih banyak kalian selalu ada disaat terpuruk kami seperti saat ini, aku mewakili Mama dan papa mungkin selama ini ada salah kata ataupun berperilaku Mama Aliah dan papa Leo, saya putrinya beliau meminta maaf yang sebesar-besarnya kepada kalian untuk mewakili kedua orang tua kami yang telah tiada," ucapnya Senja yang sesekali menyeka air matanya itu.
__ADS_1
"Mama kamu itu wanita yang baik dan luar biasa, jadi saya mewakili teman-teman yang bekerja dibawah pimpinan Bu Aliyah mengucapkan maaf dan tanpa Bu Aliya hidup kami semua tidak akan baik seperti saat ini," ujarnya Bu Fidah asisten kepercayaannya Aliah di semua toko store yang dikelolanya beberapa tahun silam.
Hingga berselang beberapa menit kemudian, hanya Jingga Guntur dan Kabir Senja yang tersisa di makam itu.
Jingga dan Senja jongkok di depan makam kedua orang tuanya itu sambil mengelus batu nisan kedua orang tua mereka.
"Mama kalian tenanglah di alam sana,ada kami yang akan menjaga adik kami Ocean Skala Pratama," lirihnya Jingga sambil mengecup batu nisan yang bertuliskan Aliya Azizah Khumaira.
Semua orang satu persatu pulang ke rumah masing-masing setelah mengantar kedua suami istri itu ke rumah peristirahatan terakhirnya di dunia.
Air mata duka menyelimuti prosesi sejak kedua almarhum dan almarhumah dinyatakan meninggal dunia hingga pemandian, dikafani hingga dishalatkan dan terakhir di pemakaman umum.
__ADS_1
Semua orang sedih, terpukul dan merasa sangat kehilangan atas meninggalnya Leo Carlando dan Aliah Aziza.
Senja memeluk batu nisan itu dengan suara isak tangisannya terdengar begitu menyayat hati siapapun yang mendengarnya. Kabir tidak tahu bagaimana cara menghibur istrinya yang sedih dan terpukul atas kepergian kedua orang tuanya.