
Semua orang reflek berjalan ke arah dokter Paramitha yang mengatakan bahwa ada hal yang terjadi pada Aliyah.
"Dokter apa maksud dari perkataanmu?" Tanyanya Kabir.
Senja dan Jingga semakin khawatir dan ketakutan mendengar penjelasan dokter Paramita. Keduanya semakin panik, bingung, cemas dan juga takut pastinya.
Dokter Paramita tersenyum melihat reaksi dan ketiga orang yang berada di dalam ruangan kamar tamu tersebut semakin ketakutan.
"Kalian seharusnya bahagia dengan kondisi mama kalian,tapi malah seperti ini," imbuhnya Dokter Paramitha.
Senja dan Jingga saling bertatapan satu sama lainnya," bahagia!" Beo keduanya secara bersamaan.
"Dokter Para, kenapa kami bisa bahagia jika melihat Aliya anak menantuku seperti ini? Bisa dijelaskan lebih detail dan jelas agar kami tidak berspekulasi aneh-aneh," gerutu Bu Sri Indrawati mama mertuanya Aliyah.
Bu Paramitha kembali terkekeh mendengar perkataan dari ibu Sri.
"Kalian terlalu serius dan pikiran kalian sepertinya butuh refreshing, Kabir bawa istri kau honeymoon, Kalian berdua belum pernah honey moon kan, sepertinya itu solusi yang paling tepat, Kabir dan Senja saling bertatapan dan sama-sama tersipu malu, " kamu Jingga kamu juga butuh refreshing mata, hati dan pikiran coba kamu ke pantai untuk buang segala penat yang menjadi beban dalam hidupmu, karena menurut Tante masalah yang kamu hadapi selama ini sungguh sangat berat," terangnya dokter Paramita.
Semua sama-sama menundukkan kepalanya dan ada yang memalingkan wajahnya ke arah lain. Karena apa yang dikatakan oleh dokter yang seperti mamanya sendiri memang benar-benar adanya sesuai dengan fakta.
"Bersiaplah mama kalian itu hamil anak ketiganya, dan prediksi serta perkiraannya Tante usia kehamilannya mama kalian adalah sudah jalan tiga bulan," jelas dokter Paramita.
"Apa hamil!?" Teriak kedua anak kembarnya Aliya.
Kabir dan bi Mina kagetnya bukan main, saking terkejutnya keduanya tertawa terbahak-bahak secara bersamaan.
Senja entah apa yang dirasakannya, antara bahagia, kaget, tidak percaya bercampur menjadi satu bagian di dalam pikiran dan benak mereka.
Tubuhnya Jingga mundur beberapa langkah kakinya ke arah belakang," apa Tante tidak salah diagnosa, mungkin Tante salah atau keliru ketika memeriksa mamaku," sanggahnya Jingga.
__ADS_1
Mamanya Leo Carlando baru saja balik dari kampung dan masuk ke dalam kamar tamu. Karena ia mencari keberadaan semua penghuni rumah mewah tersebut,tapi satupun tidak dilihatnya, sehingga dia mencari keberadaan orang-orang dan mendengar suara ribut-ribut dari arah kamar paling depan dekat tangga.
"Syukur alhamdulilah akhirnya saya akan kembali untuk kedua kalinya akan mendapatkan cucu, nenek berharap adik kalian nanti kembar lagi dan lahir cucu cowok,"
Bu Sri sangat antusias dan sumringah mendengar kabar gembira itu berbeda halnya dengan Senja dan Jingga yang masih shock mendengar fakta baru terungkap itu.
"Nenek berharap semoga saja apa yang nenek harapkan bisa terkabul sesuai dengan yang nenek harapkan selama ini, walau sudah punya Adicandra tapi dia kan bukan putra kandungnya papa kamu," ujarnya Bu Sri.
"Kalau kamu masih ragu dengan hasil pemeriksaan Tante barusan,ada baiknya kamu bawa mamamu langsung ke rumah sakit saja pasti pemeriksaan USG akan lebih detail dan terpercaya dari pada pemeriksaan seperti yang Tante lakukan," usulnya dokter yang bersiap untuk balik.
"Bukan begitu Tante Paramita, maksudnya mereka, aku minta pada Tante jangan tersinggung dengan perkataan mereka, istriku mungkin terlalu shock mendengar perkataan dari dokter yang mengatakan jika mama kami hamil, maklumlah umur mama kan sudah masuk hampir kepala lima yang mungkin bagi mereka berdua ini berita yang sungguh tak terduga-duga," tampiknya Kabir Kasyafani yang berusaha untuk meyakinkan dokter agar tidak tersinggung.
Kabir tidak ingin gara-gara perkataan istri dan kakak iparnya itu menyinggung perasaannya dokter Paramitha.
Dokter Paramita tersenyum simpul menanggapi perkataannya dari Kabir, "Kamu itu tidak perlu sungkan seperti ini karena aku sudah mengenal mereka masih dalam kandungan mamanya, mereka wajar bersikap seperti itu, karena mama dan papa kalian masih kuat dan tokcer banget diusianya yang biasanya orang sudah susah untuk hamil,malah insha Allah tersisa enam bulan akan menjadi orang tua baru kembali," tukasnya dokter Paramita dengan bijak.
Kabir bisa bernafas lega karena kekhwatiran, ketakutan, kecemasannya bisa terobati dengan senyuman ramah dari dokter cantik itu padahal sudah tidak muda lagi.
"Ini resep obat dan vitamin khusus untuk ibu hamil dengan kualitas yang paling terbaik seperti yang diinginkan oleh Kabir, Iya kan Nak Kabir," ucapnya dokter Paramita tersenyum penuh arti.
Kabir hanya terkekeh menanggapi ucapannya dokter, karena ia belum menyampaikan dan mengutarakan keinginannya, tetapi dokter sudah seperti membaca pikirannya saja.
"Bi Minah tolong antar dokter Paramita yah," titahnya Bu Sri Indrawati yang sudah duduk di tepi ranjangnya Aliyah.
"Nyonya betah banget tertidur yah seperti belum tidur seminggu saja," candanya bibi Minah.
"Hemm! bi Minah bukannya mengantar dokter sampai di depan pintu, malah tinggal ngoceh disini," gerutunya Bu Sri yang memutar bola matanya jengah menatap perempuan yang sudah bertahun-tahun bekerja bersama dengan anak menantunya itu.
Bu Minah yang mendengar omelan dari nyonya besar segera berjalan cepat mengantar kepergian Dokter Paramitha.
__ADS_1
"Makasih banyak yah Tante sudah bantu periksain mamaku," ucapannya Senja yang tidak ingin dianggap tidak mensyukuri rezeki yang luar biasa yang didapatkan oleh mamanya.
"Kamu tidak perlu sungkan untuk berterima kasih segala pada Tante, kamu itu sudah seperti putrinya Tante, jadi tidak perlu seperti ini segala, oiya kamu perbanyak istirahat dan jangan bertindak seperti ini lagi kamu itu sedang hamil anak kembar jadi tenangkan diri kamu dengan perbanyak istighfar dan dzikir," sahutnya Bu Paramita seraya mengelus lengannya Senja dengan memberikan wejangan dan nasehat untuk Senja khususnya.
"Tante maafin kami yah, sudah terlalu sensitif terhadap kejutan ini, sesungguhnya kami ini kaget dan juga bahagia, walau ini sungguh diluar ekspektasi dan perkiraan kami," tuturnya Jingga yang meminta maaf setulusnya pada salah satu sahabat terbaik mamanya itu.
Aliya dikelilingi oleh kedua anak kembarnya itu dengan tatapan mata yang sulit diartikan.
"Papa Leo pasti akan sangat bahagia mendengar berita gembira ini, apa kita hubungi papa saja," usulnya Kabir.
"Berita gembira! Maksudnya berita gembira apa yang kamu maksudkan Nak Kabir?"tanyanya Aliya yang baru saja siuman dan berusaha untuk bangun dari tidurnya itu.
Senja, Jingga dan Kabir sama reflek menolehkan kepalanya ke arah mamanya.
"Mama sudah sadar, alhamdulilah makasih banyak ya Allah karena mamaku sudah sadar dari pingsannya," imbuhnya Senja yang reflek memeluk tubuhnya Aliyah mamanya.
"Iya mama kami bahagia banget melihat mama enggak apa-apa, padahal kami tadi sangat terkejut mendengar dan melihat Mama yang tiba-tiba terjatuh dan pingsan," terangnya Jingga yang duduk di ujung ranjangnya bagian kanan Aliah.
Senja ingin mengatakan berita gembira itu tapi segera dicegah oleh Jingga dengan menggelengkan kepalanya itu tanda melarang Senja untuk berkata jujur waktu itu.
"Mama kenapa bisa terjatuh? Apa Mama baik-baik saja?" Tanyanya Senja yang mengalihkan perkataannya ke arah lain agar Aliyah tidak terguncang hebat jika mengetahui kenyataan yang sebenarnya.
Ya Allah apa jangan-jangan mereka sudah mengetahui jika aku hamil, aku terlalu malu kepada kedua putriku, karena masa sih saya hamil anakku juga sedang hamil ini sungguh sangat memalukan, bagaimana tanggapannya kedua besanku.
Aku berharap semoga mereka belum mengetahui fakta ini, aku sebetulnya bahagia ya Allah, tapi aku terlalu malu karena diusiaku yang sudah tua ini masih bisa hamil.
Aliyah nampak panik,bingung dan juga gelisah. Baginya kehamilannya ini untuk sementara dirahasiakan saja terlebih dahulu. Urusan belakangan masalah jujurnya.
"Kenapa mama panik seperti ini, apa yang terjadi padamu Ma?" Tanyanya Jingga.
__ADS_1
Aliyah mengarahkan pandangannya ke semua orang satu persatu. Dia tidak mungkin berkata jujur pada anaknya. Sedangkan anak-anaknya sudah menerima kehadiran calon adiknya mereka. Baginya Aliyah cukup dia dan suaminya saja yang mengetahui hal besar ini.