
Kabir hanya tertawa terbahak-bahak melihat tingkahnya Senja.
Kalau enggak mau ke rumah sakit, aku akan mangsa kamu saat ini juga.
"Sayang,moms pergi dulu yah, kalian berempat baik-baik dengan Mbak Anggita Sari dengan Bi Minah sama bibi Diah," ucapnya Senja sembari mengecup satu persatu kening putra dan putri kembarnya itu.
"Serahkan pada kami Nyonya Muda, insha Allah mereka pasti aman dan happy pastinya," sahutnya bibi Minah.
Sang asisten rumah tangga yang sudah bekerja hampir sepuluh tahun bersama keluarga besarnya.
"Dede Oce, Mbak pergi dulu yah kamu juga jangan rewel dan repotin Mbak Anggi kasihan dia kalau Mbak enggak ada disini," ucap Senja yang menggendong tubuhnya Ocean Skala Pratama adik bungsunya itu.
"Percayakan padaku nyonya muda, saya akan menjaga mereka dengan baik, Anda tenang dan tidak perlu memikirkan mereka selama kami ada," imbuhnya Anggita.
"Kalau gitu aku pamit, assalamualaikum," pamitnya Senja yang segera berjalan bergandengan tangan dengan suaminya itu dengan penuh kemesraan.
Kenapa meski bermesraan di depanku, tapi tidak apa-apa. Bakalan tidak lama lagi saya yang akan diposisi perempuan jelly dan kolot itu.
Bi Minah diam-diam memperhatikan dengan seksama apa yang dilakukan oleh Anggita Sari baby sitter yang baru sekitar dua bulan bekerja di rumah itu.
Kenapa kalau aku perhatikan Anggi seperti menyembunyikan rahasia besar. Entah kenapa aku merasa ada maksud terselubung dibalik senyumannya itu.
Ya Allah semoga saja dia tidak akan melakukan hal yang tidak benar, tapi jika dia berniat jahat. Aku yang akan menjadi orang pertama yang akan menghalanginya.
Keduanya pun segera bersiap menuju rumah sakit, dimana Jingga sudah dibawah ke sana oleh suaminya dan sopir pribadi Pak Ardi.
Baru beberapa detik mobil yang mereka tumpangi menuju rumah sakit, benda pipih berbentuk persegi panjang itu yang sedari tadi dipeganginya itu berdering. Senja sedikit tersentak terkejut mendengar deringan ponselnya sendiri.
Kabir menoleh ke arah istrinya itu," siapa?"
Senja memeriksa layar ponselnya itu dan nama Zania Mirzani yang tertera di dalam layar ponselnya itu.
__ADS_1
"Zania Mirzani," cicitnya Senja.
"Angkat saja," pintanya Kabir Kasyafani sambil masih terus fokus kemudi mobilnya itu.
Senja pun segera menekan tombol power hijau untuk mengangkat telpon dari salah satu sahabatnya itu.
"Halo, assalamualaikum,"
"Waalaikumsalam, Sen, aku dengar katanya Jingga akan melahirkan. Ngomong-ngomong kamu ada dimana?" Tanyanya Zania Mirzani yang baru masuk ke dalam mobilnya sedangkan suaminya sudah bersiap memasangkan sabuk pengaman ke tubuhnya Fajri Bachan.
"Iya katanya sih gitu,kami baru di jalan nih mau ke rumah sakit juga, kalau kamu gimana?"
"Aku juga dengan Mas Fajri sudah dijalan bersama Mbak Hana Aerin karena suaminya Adnan Hamezh katanya ke luar negeri dua hari yang lalu." Jawabnya Zania.
"Kalau gitu, kita ketemu di rumah sakit saja,bye! Assalamualaikum," ucapnya Senja berpamitan untuk segera mengakhiri sambungan teleponnya itu.
Berselang beberapa menit kemudian, mereka sudah sampai di depan pintu masuk rumah sakit. Senja gegas melepas seatbeltnya itu dan berjalan menuju ke arah dalam bersama suaminya.
"Mama,Papah," sapanya Senja yang memperlambat langkah kakinya untuk menunggu kedatangan kedua mertuanya itu.
"Sayang kita barengan saja masuknya yah," pintanya Bu Hanin seraya merangkul pinggangnya Senja.
"Bunda kalau sudah ketemu dengan menantu kesayangannya pasti lupain kami," candanya Vania Larissa keponakannya adik satu-satunya Guntur Aswin.
"Kamu bisa saja, maklumlah kami berpisah selama satu bulan loh enggak ketemu, apalagi dengan ketiga cucu-cucu kembarnya Bunda lebih kangen lagi," imbuhnya ibu Hanin Mazaya.
Pak Abbas dan Pak Septa menjadi pendengar setia dari percakapan para wanita cantik beda generasi itu.
Sedangkan Jingga di dorong oleh banyak perawat yang baru saja dibaringkan ke atas bangkar rumah sakit. Jingga tak henti-hentinya merafalkan istighfar dan dzikir untuk terus meminta tolong kepada Sang Maha Pencipta dan meminta ampun untuk kelancaran proses persalinannya.
"Bang aahh sakit banget," keluh Jingga yang meremas ujung pakaiannya yang dipakainya itu.
__ADS_1
"Kamu harus kuat dan sabar sayang,ingat anak-anak kita demi buah hati cinta kita kamu harus bertahan sayang istriku,ada abang disini yang akan selalu menemani kamu," ucap Guntur.
"Abang Gun harus ikut bareng aku yah Bang,kamu harus terus temani aku untuk melahirkan anak kembar kita," pinta Jingga yang berharap agar suaminya ikut bersamanya melewati persalinannya.
"Abang akan menemani kamu asalkan dokter dan perawat mengijinkan abang masuk pasti aku akan penuhi keinginannya kamu," imbuhnya Guntur.
"Tidak apa-apa kok Tuan Muda Guntur, Anda bisa menemani Nyonya Muda Jingga," ujarnya Dokter Rahayu Purwaningsih dokter yang menangani persalinan Senja dengan dokter Maryam Nurhaliza tapi, kebetulan dokter Maryam cuti melahirkan.
"Alhamdulillah, makasih banyak Bu dokter. Sayang kamu dengarkan apa katanya Bu dokter cantik temannya Mami katanya suamimu ini bisa ikut ke dalam ruangan persalinan, jadi kamu jangan banyak pikiran kamu harus wajib tenang, nyaman dan perbanyak berdoa untuk kamu dan anakku," tuturnya Guntur yang kemudian mengecup keningnya Jingga kemudian turun ke bibirnya sekilas.
Jingga tersipu malu diperlakukan sangat lembut, romantis di depan orang banyak.
Ya Allah, wajahku kenapa serasa panas banget. Apa karena ulahnya bang Guntur yang menciumku di depan umum yahr?
Jingga sepintas melupakan rasa mules dan sakit di perutnya yang begitu sakitnya karenanya melilit dan begitu sakitnya. Tetapi tidak, gara-gara ulahnya Guntur sehingga dia semakin merasa nyamannya dan begitu tenang.
Sikap lembut dan perhatiannya Guntur membuat Jingga semakin menjadi kuat dan tidak ketakutan lagi. Seolah itu adalah imun dan tenaga tambahan yang didapatkan oleh Jingga.
Dokter dan beberapa perawat yang melihat kekuatan cinta keduanya tersenyum bahagia.
Cinta yang tulus sungguh besar pengaruhnya dalam kehidupan setiap insan manusia.
Prosedur pemeriksaan USG dan lainnya segera dilakukan, karena kebetulan air ketubannya belum pecah.
"Maaf seperti yang Nyonya Jingga inginkan sebelumnya yaitu menginginkan untuk melahirkan normal, hal itu bisa terjadi karena semuanya stabil, bagaimana menurut Anda Tuan Muda Guntur,apakah istrinya siap untuk melahirkan normal saja atau disecar?"
"Sayang, apa yang kamu pilih melahirkan normal atau dioperasi saja?"
"Aku operasi saja Bang, aku enggak kuat lagi untuk mengejan dan juga aku sudah tidak sanggup untuk terus mengedan," ungkapnya Jingga.
Jingga menyentuh punggung tangannya Guntur pria yang masih belum bisa dicintainya dengan sepenuh hatinya itu. Apalagi mengingat dia masih belum sanggup untuk melupakan kenangan dan cinta kasih sayangnya khusus untuk almarhum mendiang almarhum Abdil Pramudya kekasih sekaligus calon suaminya itu.
__ADS_1