Belum Berakhir

Belum Berakhir
Bab. 67. Kabar Duka


__ADS_3

Senja terduduk di atas sofa mendengar perkataan dari ibunya kekasihnya Jingga saudari kembarnya itu.


"Innalilahi wa innailaihi rojiun, pantesan Jingga pingsan mendengar berita ini," gumamnya Senja.


Alia di dalam kamar masih berusaha untuk membangunkan putrinya agar segera tersadar dan secepatnya siuman.


Aliya menggosok-gosok telapak tangannya Jingga yang agak dingin. Hingga dokter Dian Puspita datang setelah ditelpon oleh Senja beberapa menit yang lalu.


"Dokter tolong periksa putriku, apa yang terjadi padanya kenapa sudah cukup lama, tapi belum sadarkan diri juga," mohonnya Aliah yang tidak kuasa menahan air matanya itu.


"Harap Ibu Aliah tenang, insha Allah putrinya ibu baik-baik saja," bujuk Dokter Dian.


Leo pun angkat bicara," Aku mohon lakukan apapun untuk putriku Dok, berapapun biayanya yang paling penting putriku bisa sadar dan segera membaik," imbuhnya Leo dengan tatapan mengibahnya.


"Insya Allah Non Jingga tidak apa-apa kok Pak jadi kalian bisa tenang dan kalau bisa jangan terlalu berkerumun agar Jingga tidak semakin kepanasan," pinta Dokter Dian seraya segera memeriksa kondisinya Jingga.


Beberapa orang yang kebetulan berada di dalam ruangan itu segera bubar dan berpindah tempat. Mereka terlalu khawatir sehingga mereka berkerumun.


Senja berjalan lunglai masuk ke dalam kamarnya Jingga,ia tidak kuasa menahan kesedihannya. Dari raut wajahnya sangat terlihat begitu jelas jika Senja sangat sedih.


"Ya Allah aku tidak menduga jika kisah cintanya Jingga akan berakhir seperti ini, padahal mereka sudah berjanji akan menikah tahun depan setelah Bang Abdil balik dari Amerika Serikat USA setelah menyelesaikan pendidikannya di luar negeri," cicitnya Senja yang mendudukkan tubuhnya ke atas salah satu sofa yang kebetulan berada di dalam kamarnya Jingga.


Bu Masitah Marsita melihat cucunya seperti orang yang sedang menghadapi masalah. Beliau menyentuh punggung tangan cucu keduanya itu.


"Nak katakan pada Nenek apa yang terjadi padamu dan juga kakakmu? Jangan buat kami khawatir seperti ini," ujarnya Bu Sita.

__ADS_1


Senja mendongakkan kepalanya ke arah neneknya itu," Jingga… eh a-nu a-ku itu pacarnya Jingga mengalami kecelakaan Nek," ucapnya sendu Senja.


Bu Sita semakin menajamkan pendengarannya karena takut jika dia salah dengar saja.


"Maksudnya apa cucuku, pacarnya siapa yang meninggal nak?" Tanyanya Bu Sita penuh kelembutan karena Senja semakin menangis saja malahan tidak berhenti.


"Kekasihnya Jingga yang kuliah di New York meninggal dunia dalam kecelakaan Nek, terus katanya dia sudah meninggal hampir dua bulan yang lalu tapi, baru ketahuan pagi ini jika Bang Abdil Pramudya sudah meninggal dunia," jelasnya Senja yang kembali menundukkan wajahnya karena terlalu sedih dan malu dilihat semua orang yang sedang menangis tersedu-sedu.


"Astaughfirullahaladzim, innalilahi wa innailaihi rojiun semoga amal ibadahnya diterima oleh Allah SWT dan kelurga yang ditinggalkannya bisa bersabar, tabah dan ikhlas menerima berita duka ini," ujarnya Bu Sita.


"Pantesan Nak Jingga pingsan seperti ini, karena terlalu terkejut mendengar kenyataan pahit ini, tapi ini semua sudah ditakdirkan oleh Allah SWT, jadi sepatutnya kita sebagai manusia bisa bersabar dan tawakal menjalani cobaan berat ini," ujar Bu Aisyah istri dari kakak sepupunya Aliah.


Semua terdiam dan sibuk dengan pemikirannya masing-masing. Sedangkan pernikahannya Senja tersisa dua hari lagi dan mereka harus mendengar kenyataan yang memilukan.


"Senja jadi bagaimana dengan Abdil, apa bisa dibawa pulang ke tanah air atau gimana nak?" Tanyanya Leo yang ikut menimpali percakapan mereka.


Senja mengarahkan pandangannya ke arah Leo papanya itu," aku kurang paham mengenai masalah itu Pa, tapi informasi yang aku dapatkan tadi itu katanya Bang Abdil sudah dimakamkan di sana dan katanya lagi dari kakaknya Bang Abdil kalau sebelum meninggal dunia meminta untuk mendonorkan matanya kepada orang lain yang membutuhkan donor kornea mata," jelasnya Senja panjang lebar.


"Ya Allah kenapa terjadi seperti ini, kasihan sekali Jingga, tapi mungkin ini lah yang terbaik untuk Jingga mereka tidak berjodoh di dunia ini, semoga saja Jingga bisa lebih bersabar menghadapinya," ucapnya Bu Lina bundanya Sasmita Larasati tunangannya Lutfi Khaer.


"Disaat salah satu putriku akan memulai hidup barunya sedangkan putriku yang lain harus sedih mendengar kenyataan yang begitu pahit, jika kekasihnya harus meninggal dunia di luar negeri tanpa bisa Jingga lihat untuk terakhir kalinya," Aliyah menangis tersedu-sedu meratapi nasib salah satu putri kembarnya.


Leo mengecup punggung tangannya istrinya itu agar lebih tenang dan berfikir jernih menghadapi cobaan ini, "Aliya kamu tidak boleh memperlihatkan kesedihanmu di hadapan Jingga, ingat kamu dan kita semua adalah penyemangat hidup untuk Jingga agar dia lebih tabah, sabar dan tawakal menghadapi kenyataan yang ada," bujuk Leo yang tak sungkan-sungkan mencium punggung tangannya Aliah di hadapan orang lain.


Aliya tersipu malu diperlakukan seperti itu oleh suaminya yang belum jelas apakah mereka masih suami istri atau sudah berakhir. Sedangkan dulu untuk menunjukkan kemesraan mereka di depan umum sangat jarang bahkan mereka seperti risih untuk melakukannya.

__ADS_1


Berselang beberapa menit kemudian, Jingga pun siuman. Dia tidak banyak bicara. Bahkan terkesan seperti tenggelam dalam dunianya sendiri. Akan berbicara seperlunya saja dan sepentingnya jika memang hati dan pikirannya menginginkannya.


Aliya dan Leo serta yang lainnya segera meninggalkan kamarnya Jingga dan memberikan waktu luang untuk menenangkan pikirannya Jingga.


"Kalau ada yang kamu inginkan katakan saja padaku, ingat kamu enggak lupa kan jika kamar kita itu bersebelahan saja jadi tidak perlu sungkan untuk meminta bantuan padaku andaikan kamu menginginkan sesuatu mungkin seperti berbicara padaku juga termasuk," ujarnya Senja yang berusaha menghibur kakaknya.


Jingga menekuk kedua lututnya di atas ranjangnya, ia hanya menatap nanar adiknya itu tanpa berniat untuk menimpali perkataan dari adiknya. Hanya air matanya yang menetes yang mewakili perasaannya yang betapa hancur hatinya berkeping-keping ketika mendengar kekasihnya harus berpisah karena ajal yang memisahkan mereka.


Jingga menatap sendu fotonya bersama dengan Abdil Pramudya kekasihnya beberapa tahun silam," Dimana kamu berada di sana surgaku berada. Karena hanya kamu yang aku inginkan. Selalu lah jadi milikku untuk selamanya walau hidup kita sudah terpisah,"


Air mata itu kembali menetes membasahi pipinya, hingga matanya bengkak, memerah hidungnya sudah sembab. Suaranya parau saking lamanya dalam keadaan menangis.


Senja duduk di hadapan meja riasnya tanpa melakukan apapun. Kedua kakinya tertekuk dengan tatapan matanya terus memandangi pantulan tubuhnya sendiri.


Senja tidak tahu harus berbuat apa malam itu, dia tidak ikut bergabung dengan sanak saudaranya yang kebetulan berbincang-bincang di lantai bawah.


"Ya Allah… apakah aku bisa hidup bahagia di atas penderitaan kakakku sendiri, kenapa disaat aku akan memulai membuka lembaran baru dengan pria yang sama sekali belum aku cintai harus dihadapkan pada peristiwa yang membuat hati kakakku hancur."


Deringan ponselnya sama sekali tidak dipedulikan olehnya. Ia fokus dengan pemikirannya sendiri. Padahal pria yang sedang dipikirkannya itu yang menelponnya.


"Apa yang terjadi pada Senja kenapa ia tidak mengangkat telponku, aku hanya ingin mengetahui bagaimana dengan masalah yang menimpa kakaknya Jingga Aurora Ainah Zain," gumam Kabir dari seberang telpon.


Kabir mondar-mandir di depan kamarnya karena sudah puluhan kali mencoba menghubungi nomor hpnya Senja calon istrinya tapi, masih tidak berhasil juga.


"Andaikan aku bisa ke sana, mungkin aku sudah pergi, tapi aku harus mengikuti masa pingitan calon pengantin jika tidak aku akan mendapatkan omelan dari Nenek dan juga bunda,"

__ADS_1


__ADS_2