
Senja menyentuh kalung itu," SK," cicitnya Senja.
"Apakah kamu suka dengan hadiah kalungnya?" Tanyanya Kabir.
Senja menatap suaminya dari dalam pantulan cermin rias yang ada di hadapannya. Senyuman tersungging di sudut bibirnya Senja yang tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya itu atas hadiah dari suaminya.
Senja menganggukkan kepalanya tandanya mengiyakan pertanyaan dari suaminya itu. Kabir pun gembira karena pemberiannya disukai oleh Senja.
"Tapi kan aku enggak ulang tahun Pak, masih lama juga," sanggahnya Senja.
Kabir memutar kursi yang diduduki oleh Senja hingga mereka saling berhadapan satu sama lainnya. Kabir pun memegangi dagunya Senja.
Kabir berlutut di hadapan Senja, "Senja Starla Airen Zain apa kah harus ulang tahun dulu baru Abang bisa berikan kamu hadiah? Tentu jawabnya tidak istriku bahkan Abang akan memberikan hadiah setiap hari untukmu agar kamu mengetahui betapa besarnya cintaku padamu, hanya kamu perempuan cantik yang mampu menggetarkan hatiku bahkan setiap aku membuka mataku ini, hanya ada wajahmu seorang yang mampu aku lihat," ungkapnya Kabir.
Senja mengelus puncak hidung mancungnya Kabir yang bak hidung Eropa itu.
"Pak Kabir apakah semua yang bapak katakan padaku adalah benar adanya bukan hanya sekedar akting saja?" Senja memperhatikan dengan seksama raut wajahnya Kabir.
Kabir tersenyum tipis," menurut hatimu apakah Abang hanya berpura-pura hanya sekedar akting saja? Lagian kalau enggak ada orang yang lihat sepertinya percuma saja saya berakting, jadi aku serahkan padamu penilaiannya, apa kah Abang serius, bercanda atau sekedar hanya bermain peran sebagai suami yang perhatian,"
Senja segera menarik tubuhnya Kabir agar keduanya lebih mendekat hingga jarak keduanya semakin menipis. Kabir melihat Senja dengan tatapan mendamba dan memuja sama halnya dengan apa yang dipancarkan dari pancaran sinar matanya Senja.
Senja menutup kedua kelopak matanya itu dan menunggu apa yang akan dilakukan oleh Kabir padanya. Kabir tersenyum smirk kemudian membisikkan sesuatu kata-kata di telinganya Senja. Kabir terlebih dahulu menghalau beberapa anak rambutnya yang menghalangi telinganya Senja.
"Kamu sangat cantik hari ini, apalagi memakai pakaian seksi ini, apa Abang bisa meminta hakku malam ini?" Kabir menyentuh kain lingerie berwarna merah itu.
Senja hanya menganggukkan kepalanya dengan kedua matanya yang masih terpejam itu. Kabir segera bersorak berteriak gembira akhirnya si jago yang sudah hampir 30 tahun itu akan menunjukkan tajinya juga di tempat paling ternyaman.
__ADS_1
"Yes!" Teriaknya Kabir.
Senja yang mendengar teriakannya Kabir hanya tersenyum tipis," ya Allah Pak Kabir sampai segitunya harus teriak segala,"
Kabir segera menggendong tubuhnya Senja ke atas tempat tidur. Ia merebahkan tubuhnya Senja dengan sangat perlahan dan pelan.
"Kamu harus buat dirimu nyaman dan rileks kata orang seperti itu sayang jika untuk pertama kalinya, tapi kalau sakit nantinya kita hentikan saja karena aku enggak mau kamu kesakitan," cicitnya Kabir yang segera melepas satu persatu kain dan benang yang menutupi seluruh tubuhnya.
Senja yang membuka matanya langsung berteriak histeris melihat Kabir dalam keadaan tidak memakai kain apapun yaitu teee laan jaan.
"Aahh di jago merah gede amat pak Kabir!" Pekiknya Senja yang bukannya ketakutan malah tertawa terpingkal-pingkal melihat bagian paling terbawa suaminya itu.
Kabir hanya tersenyum cengengesan melihat reaksinya Senja," kamu jangan ribut apalagi berteriak seperti itu, entar semua orang dengar suaramu,"
Senja segera menutup mulutnya rapat-rapat yang tertawa itu agar suaranya tidak terdengar lagi. Ia baru tersadar jika sekarang sudah pukul sebelas malam, pasti suasana di bawah sudah tenang sehingga suaranya akan cepat menggema ke seluruh penjuru kamar dan rumahnya yang bertingkat dua itu.
Senja segera turun dari ranjangnya dan segera berjalan ke arah suaminya itu. Tanpa tak terduga, Senja segera menarik tengkuk lehernya suaminya kemudian mulai mendekatkan bibirnya ke bibir Kabir yang kedua matanya terbelalak hingga melotot, karena tidak menyangka istrinya itu akan berani melakukan hal-hal yang tidak terpikirkan oleh Kabir.
Tapi, Kabir sungguh bahagia karena ia mendapatkan apa yang didamba setiap pasangan pengantin baru. Yaitu acara unboxing malam pertama.
Kabir perlahan mulai menghayati dan tidak ingin kondisi dikuasai oleh Senja dan lebih mendominasi dalam permainan mereka malam itu. Kabir dengan perkasa menggendong tubuhnya Senja kembali membaringkan tubuhnya kembali Senja.
"Ingat kalau kamu merasa sakit tidak usah sungkan, malu ataupun segan untuk berbicara," ujarnya Kabir sedangkan tangannya sudah tidak terkontrol lagi.
Senja hanya tersenyum sambil menahan rasa yang baru kali ini dalam hidupnya dirasakannya. Dia sesekali menggigit ujung bibirnya dengan pelan, agar suaranya tidak kedengaran karena cukup malu.
"Ugh!"
__ADS_1
Dengan penuh kelembutan dan kehati-hatian Kabir mulai openingnya. Hanya dalam sepersekian detik saja semua benda yang melindungi bodynya Senja sudah terbang dengan dilempar sejauh-jauhnya oleh Kabir seolah pakaian itu memiliki kuman dan bawa penyakit saja.
"Hemmph!!"
Hingga hanya suara deru nafas keduanya memburu dan terdengar ngos-ngosan. Peluh keringat bercucuran membasahi sekujur tubuh kedua pasutri itu.
"Ahh sakit!"
Teriaknya Senja seraya menarik kuat seprei berwarna putih itu yang kontras dengan warna bunga mawar merah yang sudah berhamburan ke atas lantai hampir ke seluruh ruangan.
Kabir hendak menghentikan kegiatannya yang sudah hampir berada dipuncak kejayaan Indahnya surga duniawi.
Kabir meraih sekotak tissue yang segera mengelap keringat di keningnya hingga ke pipinya itu, "Sayang aku hentikan saja yah," bujuknya Kabir.
Senja memegangi tangannya Kabir sambil menggelengkan kepalanya itu," lanjutkan saja Pak Kabir saya tidak apa-apa kok,"
Kabir kembali melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda. Hingga keduanya sama-sama tersenyum bahagia dalam rasa capek yang tak terhingga.
"Senja Starla Airen Zain aku sangat mencintaimu hingga akhir hayatku,"
Senja untuk kali ini tidak akan bisa dan sanggup untuk berbicara tentang apa yang dirasakannya selama ini.
"Ya Allah maafkan aku, untuk saat ini aku hanya menjalankan tanggung jawabku sebagai seorang istri, tapi rasa cintaku ini belum aku tahu aku labuhkan dihati siapa jadi aku minta maaf untuk selama ini aku akan memilih jalan ini,"
Sedangkan di tempat lain, masih Du dalam rumah itu. Jingga tak henti-hentinya membacakan surat Yasin dan beberapa surah pendek untuk sebagai pengantar doa untuk almarhum Abdil Pramudya.
"Ya Allah aku menangis bukannya aku tak ikhlas akan kepergiannya, tapi aku akan selalu mengingat kenangan-kenangan terbaik dan terindah yang pernah kita lalui, mas Abdil untuk selamanya kau akan selalu ada di sudut hatiku terdalam, i love you forever Abdil Pramudya, tenanglah di alam sana semoga kita kelak bisa bertemu dan berkumpul di salah satu surgaNya Allah SWT," Jingga menyeka air matanya yang semakin menetes membasahi pipinya itu sembari memeluk fotonya Abdil mantan kekasihnya sekaligus tunangannya.
__ADS_1
"Bagiku untuk membuka hati itu tidak semudah membalik telapak tangan, apalagi mengingat kedua orang tuaku dulu pernah berpisah padahal jelas-jelas mereka saling mencintai. bagi Senja yang paling penting adalah memenuhi kewajiban dan tanggung jawab sebagai seorang istri itu yang paling utama dan cinta ini insya Allah akan hadir seiring waktu berjalan.