Belum Berakhir

Belum Berakhir
Bab. 35. Perasaan Yang Berbeda


__ADS_3

Kebahagiaan Candra tak mampu dijelaskan dengan kata-kata. Setelah mengetahui jika Senja adalah kakaknya yang selama ini dicarinya itu.


"Syukur Alhamdulillah akhirnya kakak Senja ditemukan juga, selajutnya gilirannya mama Aliah yang harus aku bujuk dan rayu agar kembali bersama dengan ayah," tekadnya Adicandra Angkasa Syaputra.


Setelah mengantar keponakannya ke sekolahnya, dengan membawa sebuket bunga mawar merah khusus untuk ibu guru wali kelasnya Chandra. Dia memberikan bunga itu sekedar berbasa-basi saja tanpa harus berbicara panjang lebar mengingat dia harus segera pulang ke rumahnya.


"Sasmita semoga kamu menyukai pemberiannya Abang," ucapnya Lutfi Khaer di depan pintu kelasnya Candra yang dilihat langsung oleh beberapa siswanya dan orang tua murid yang kebetulan masih ada di sekitar kelas lima.


Bu Sasmita sungguh terkejut dan tidak menyangka dengan surprise khusus yang diberikan oleh teman sekolahnya dulu sekaligus paman dari salah satu muridnya.


"Apa benar bunganya untuk saya bang?" Tanyanya Sasmita untuk menegaskan hal tersebut.


"Iya ini untuk perempuan yang paling tercantik yang aku temui hari ini bernama Sasmita Atifa Harun," balasnya Lutfhi yang tersenyum lebar tanpa rasa malu sedikitpun karena menjadi bahan tontonan dari orang-orang sekitarnya.


Sedangkan Sasmita sangat malu dengan sikap dan perilakunya Lutfi yang tidak secara langsung menegaskan kepada orang jika dia menyukai ibu guru cantik itu. Kedua sisi pipinya memerah rona merah pipinya itu.


"Apa maksudnya Abang memberikan bunga secantik dan seindah ini untuk saya? Padahal kita hanya teman biasa saja," ucapnya Sasmita dengan malu-malu kucing.


"Saya sengaja melakukan hal ini karena saya serius dengan sikapku ini, yaitu saya ingin melamar kamu menjadi calon kekasih halalku dan menjadi pendamping hidupku untuk selamanya," ujarnya Lutfi dengan mantap dan begitu yakin seraya mengeluarkan sebuah kotak buludru berwarna merah itu di hadapannya Sasmita.


Sasmita semakin dibuat tercengang, terkejut, tidak percaya dengan pernyataan cinta pria yang sejak mereka sekolah masih memakai seragam putih abu-abu itu sudah diam-diam menyukai Lutfi.


"Ayo Bu guru terima saja, cowoknya ganteng loh," teriak ibu-ibu.


"Kalau enggak mau saya punya anak gadis loh cocok dengan babang ganteng ini," celetuk yang lain lagi yang membuat semakin ramai saja.


Candra menggoyang tangannya Ibu guru cantiknya itu," ibu guru Paman saya itu orangnya baik, jujur, penyayang, rajin sholat pasti akan buat Ibu guru bahagia deh," pujinya Candra lagi yang ikut menimpali percakapan mereka berdua.


Baru saja Sasmita hendak membuka mulutnya untuk berbicara apakah diterima atau tidak, bel sekolah pertanda pelajaran akan segera dimulai berbunyi.

__ADS_1


Triing!!! Tring!!


Sasmita kembali menunda semua apa yang ingin dikatakan dan disampaikan di depan Lutfi pria yang begitu berani melamarnya di depan umum orang banyak.


"Abang nanti malam datanglah ke rumah bertemu langsung dengan ayah dan bunda, insya Allah jawaban yang Abang inginkan dengar akan aku jawab," imbuhnya Sasmita kemudian meninggalkan Lutfi yang berdiri mematung dengan segurat senyuman yang tersungging di sudut bibirnya tidak pernah pudar sedikitpun.


Sasmita mengambil kotak buludru itu dari dalam genggaman tangannya Lutfi sebelum berbalik badan masuk ke dalam kelasnya untuk memulai pelajaran hari itu. Ia berjalan sambil bergandengan tangan dengan anak didiknya itu. Adichandra sembunyi-sembunyi menaikkan jempolnya ke arahnya paman adik tunggal ayahnya itu.


Luffy tersenyum penuh kemenangan melihat tanda yang diberikan oleh Sasmita dan Candra. Dia tak henti-hentinya mengucapkan puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melancarkan niatnya yang sejak beberapa minggu lalu sudah dipikirkan dan direncanakannya itu.


"Yes! Kamu akan segera menjadi milikku, aku akan buktikan bahwa kegagalan pernikahan aku yang pertama bukan menjadi halangan untuk aku untuk memulai kehidupan yang baru lagi, aku harus segera pulang ke rumah dan mengatakan kepada Ibu dan mas Leo,"


Lutfi segera berjalan meninggalkan ruangan kelas lima sekolah dasar swasta tersebut dengan perasaan penuh suka cita dan kegembiraan yang membuncah.


Sedangkan di tempat lain..


Senja kembali dihadapkan pada pilihan yang sulit. Tidak memenuhi permintaan dosennya nilainya jadi taruhan. Mengiyakan, berarti ia harus kembali berbohong menjadi kekasih palsu dari asdos killer nan kejam itu.


"Hey Sen! Apa yang terjadi padamu hari ini? Gimana apa kamu sudah mengerjakan tugas yang diberikan oleh Pak Kabir?" Tanyanya Sista yang duduk di sampingnya Senja.


"Kalau aku perhatikan sepertinya belum, lihat saja tampannya Senja Starla Zain aku yakin dia belum mengerjakan apa-apa, tapi ngomong-ngomong apa kamu butuh bantuan kami?" Ujarnya Salsa.


Kedua sahabat terbaiknya selama pertama kalinya menginjakkan kakinya di kampus itu. Senja semakin lemah, lesu, letih, lunglai dan tak bertenaga itu.


"Sepertinya kamu butuh ini dulu besti, minum a q u a dulu supaya kamu bisa fokus dan punya tenaga untuk menghadapi kenyataan yang tidak seindah impian kita," ucapnya Sista sambil menyodorkan sebuah botol air mineral kemasan tersebut.


"Saya hanya ingin melihat dosen jahat dan menyebalkan itu pergi dari hadapan dari atas muka bumi ini untuk selamanya, kalau perlu ke planet mars saja," gerutunya Senja.


"Saking bencinya kamu dengan asdos terganteng di kampus kita ini, tapi hati-hati loh benci bisa berubah jadi bucin," pungkas Salsa.

__ADS_1


"Yoi Soal, apa lagi cinta dan benci itu bedanya sangat tipis," sahutnya Sista yang semakin memanasi hatinya Senja.


Sikapnya Senja yang seperti ini membuat kedua sahabatnya terhibur dengan segala macam kesibukan dan rasa capek, jenuh dan kekalutan menghadapi mata kuliah yang cukup sulit.


Senja semakin pasrah dengan takdir hidupnya diperalat dan dimanfaatkan oleh dosennya sendiri sebagai kekasih sewaan.


"Kalau seperti ini tidak jalan keluar terbaik dari permasalahan dan cobaan yang begitu berat, andaikan aku digaji mungkin tidak seberat ini cobaan nya, tapi setelah ini aku akan bertindak tegas agar selamanya aku tidak ditindas lagi dengan semena-mena oleh pria ganteng bak oppa Korea Selatan itu,"gumamnya Senja.


Sedang di tempat lain, dimana ibu-ibu sedang berkumpul membicarakan berbagai macam persoalan kehidupan. kedatangan Jingga Aurora Zain Pratama membuat semua mata memandang takjub ke arahnya.


Terutama Bu Sintia dan putra sulungnya itu, cewek cantik yang kesehariannya memakai celana jeans dan kaos oblong itu, untuk kali ini berpenampilan luar biasa cantiknya.


"Masya Allah cantiknya," cicit Abrizam Abraham Samad.


Sinthya tanpa sengaja mendengar perkataan putranya itu dan langsung tersenyum gembira karena rencananya dengan calon besan sekaligus sahabat terbaiknya sukses.


"Aku harus segera memvideokan apa yang terjadi disini terutama respon dan reaksinya putraku,"


"assalamualaikum," sapanya Jingga yang sedikit grogi, malu, nerves karena kedatangannya sepertinya membuat para emak-emak rempong tersebut mengalihkan perhatiannya ke arah pintu tepat ke arah kedatangannya.


"Waalaikum salam," jawab mereka serentak.


"Hey Jingga, kenapa lama sekali datangnya Nak, Tante sudah lama nungguin kamu loh, katanya mama kau sibuk jadinya enggak sempat datang," ujarnya Bu Sintia yang arah tatapan matanya sesekali melirik ke arah putranya yang tidak tenang duduknya selama kedatangan gadis tomboi yang dipaksa feminim hari ini.


"Iya Tante, Mama sangat sibuk jadi meminta saya untuk menggantikannya hari ini untuk datang ke arisannya Mama," balasnya Jingga yang cipika-cipiki dengan perempuan paruh baya yang masih sangat cantik dan muda diusianya 40an itu.


Hingga tatapan matanya tertuju pada sosok pria yang menjadi musuhnya di kampus, pria yang sering mencari masalah di manapun mereka berdua berada.


"Itukan Abriz kenapa, dia ada disini dia kan bukan emak-emak," gerutunya Jingga.

__ADS_1


Khusus untuk pembaca teraktif dan terrajin insya Allah akhir cerita akan dapat give away kecil-kecilan dari saya.


Caranya hanya baca setiap babnya,like tentunya, komentar harus sesuai dengan isi babnya.


__ADS_2