Belum Berakhir

Belum Berakhir
Bab. 96. Penyelamatan


__ADS_3

Natasha melirik sekilas ke arah Bimo Setiawan alias Bimbim. Dia menatap intens ke arah Bimo dengan tatapan mata yang sulit diartikan itu.


"Cukup ganteng juga ketika buka kacamatanya, bukannya aku tidak suka dengan sifatnya itu hanya saja perbedaan antara kami tidak mungkin bisa menyatukan kami, tapi kalau dia niat untuk mengikuti keyakinan dan kepercayaanku kenapa tidak mungkin aku akan memberinya kesempatan,"


Natasha segera melenggang pergi dari hadapannya pria yang sejak awal semester selalu mengejarnya dan ingin mendapatkan cintanya Natasha Sachin gadis manis berdarah campuran Indonesia India itu. Maminya saudari kembarnya Bu Hanin Mazaya ibu kandungnya Kabir


Sedangkan papinya orang India blasteran timur tengah itu.


Natasha memperbaiki hijabnya yang sedikit bergoyang terkena angin langsung dari mesin pendingin ruangan AC tersebut.


Bimo membuka kacamata tebalnya itu," aku akan membuktikan, jika aku mampu mengikuti kepercayaanmu dan membuat kamu jatuh cinta padaku dan siap menjadi pendamping hidupku satu-satunya perempuan yang ada di dalam hidupku kelak," tekadnya Bimo Setiawan anak ceo terkenal yang sering menjadi rekan bisnisnya Kabir dan juga Guntur.


Sedangkan di tempat lain, nafasnya Jingga sudah tersengal-sengal, ngos-ngosan dan memburu. Tetapi, Jingga masih sanggup dan mampu untuk menaiki satu lantai lagi untuk menyelamatkan Guntur Aswin Nasution.


"Allahu Akbar aku pasti bisa!" Cicitnya Jingga.


Hingga senyuman lebar dan bisa bernafas lega ketika melihat Guntur diapit oleh dua pria membawanya ke dalam suatu kamar nomor 234 yang sudah tidak jauh dari tempatnya berada.


Jingga memelankan langkahnya dan mengendap-endap. Untungnya di sekitar lantai itu ada beberapa guci besar sehingga Jingga bisa bersembunyi dibalik guci antik dan mewah itu.


Alhamdulillah guci antik nan mahal kamu sungguh berjasa besar membantuku untuk menyelamatkan pak Guntur.


"Non Tania, kami sudah datang, cepat buka pintunya sebelum orang-orang curiga pada kami," teriak si botak sambil mengetuk pintu kamar tujuannya.


Pintu kamar itu terbuka lebar dari arah dalam, Tania tersenyum menyeringai lebar melihat Guntur yang tidak berdaya itu.


"Good very very good job.. ingat setelah ini kalian dapat bonus gede dariku, ingat jangan pergi jauh-jauh dari sini, kalian harus berjaga-jaga kapan-kapan aku panggil kalian harus segera datang!" Perintahnya Tania yang menyeringai licik.


Si botak dan si gondrong tersenyum penuh kegirangan dengan membayangkan segepok uang segera akan berada di dalam genggaman tangannya itu.


Aku harus segera memerintahkan Adrian untuk mengirimkan rekaman cctv di lantai 15 dan juga mengambil pakaian gaun pesta dan juga sepatu high heels dan handbagku sayang kalau semuanya dibuang. Sudah dibela-belain dibelikan oleh Kabir dari London kalau diambil orang rugi loh.


Jingga sempat-sempatnya berfikir mengenai barang-barang mewah hadiah dari adik iparnya itu.


Tania segera menutup pintu kamarnya saking bahagianya sampai-sampai ia melupakan mengunci handle pintunya itu.


Hahaha…

__ADS_1


Tania merangkak naik ke atas ranjang dengan pakaian lingerie seksi berwarna merah itu membungkus tubuhnya yang begitu indah dan seksi.


Hari ini kamu akan menjadi milikku seorang, minuman yang seperti ini kan kamu minum tadi?


Tania mengelus wajahnya Guntur dengan penuh kelembutan. Tania menyimpan gelas minumannya itu serta obat aprodis yang dimasukkan ke dalam minumannya Guntur setengah jam yang lalu.


Persetan dengan karir, kehormatan, nama baik dan martabat keluarga. Hari ini kamu akan menjadi milikku seutuhnya sayang.


Tania perlahan membuka satu persatu kancing kemeja putih miliknya Guntur. Awalnya melempar jauh jas hitam yang dipakai oleh Guntur serta hoodie kacamata dan topinya Guntur. Hingga berceceran di atas lantai.


Hingga dada sixpack nya Guntur terpampang jelas di depan matanya itu. Tania kesulitan menelan salivanya melihat bentuk tubuhnya pria yang pernah menjadi kekasih sekaligus tunangannya itu.


Karena selama empat tahun hubungan mereka, Tania sama sekali tidak pernah melihat bentuk tubuhnya Guntur tanpa sehelai benang pun sehingga matanya jelalatan melihat keindahan bentuk tubuh pria yang selalu menjaga kebugarannya.


Tania segera naik ke atas tubuhnya Guntur, tapi kedua matanya terbelalak melihat senyuman menyeringai lebar dari wajahnya Guntur.


Guntur segera memegangi tangannya Tania dengan kuat dan mengambil dasinya kemudian mengikat kedua tangannya Tania mantan kekasihnya itu.


"Jangan harap saya bisa masuk perangkap kamu ini, saya masih mampu untuk menangani kucing kampung sepertimu!" Sarkasnya Guntur yang segera mengendalikan keadaan.


"Mas Guntur sa-ya ti-dak bermaksud seperti ini, ini hanya salah paham saja, saya tidak memasukkan obat apapun kok, kamu pasti sudah salah sangka padaku," elaknya Tania yang berusaha untuk membela diri.


"Tidak perlu banyak bacok omong kosong, karena hari ini kamu akan melihat dan mengetahui bagaimana rasanya minum obat luknut ini," Guntur mencampur adukkan minuman dengan obat terlarang itu ke dalam tiga gelas.


Guntur mengerang keras karena obat yang diminumnya mulai beraksi lagi padahal sedari tadi berusaha ia melawan dengan sekuat tenaga dengan berpura-pura pingsan. Guntur menekan pelipis kepalanya itu dengan sekuat tenaga.


Aku tidak boleh kalah sebelum melihat perempuan lucknut dan terkutuk ini melihat bayaran yang lebih parah dari apa yang aku rasakan.


Guntur segera mengambil segelas minuman beralkohol yang sudah dicampur dengan obat pee raaang saan.


"Argh!!" Jeritnya Guntur.


"Kamu harus habiskan minumannya tidak boleh ada yang tersisa sedikitpun," kesalnya Guntur yang tangan kanannya memegangi tengkuk lehernya Tania sedangkan tangan kirinya membantu Tania minum.


"Aahh ja-ngan sa-ya min-ta maaf ampuni saya mohon!" Ratapnya Tania dengan wajah memelasnya.


Hampir semua minuman itu sudah masuk ke dalam tenggorokan menuju lambungnya Tania. Hingga senyuman smirknya Guntur menandakan bahwa apa yang dilakukannya berhasil.

__ADS_1


Guntur memegangi rambutnya Tania dengan sangat kuat! "Inilah akibatnya jika kamu berani bermain denganku! Kamu akan menikmati malam ini dengan penuh gaaa iii rah jadi sabar saja!" Seringai liciknya Guntur sungguh menakutkan kelihatannya.


Guntur memasukkan semua obat itu bergantian ke dalam gelas ketiganya hingga habis tak bersisa di dalam kemasan obatnya.


Tania menatap memohon kepada Guntur bersamaan tubuhnya yang ambruk ke atas lantai. Tania berusaha untuk menggapai Guntur yang berjalan sempoyongan ke arah pintu dengan berpegangan ke tembok.


Bodoh!! Sial kenapa bisa aku lengah seperti ini!


Pintu terbuka lebar dan masuklah dua tubuh pria besar yang dilempar oleh seseorang.


"Masuk!! Kalian akan melihat akibatnya jika berani membuat ulah di depan mataku!" Geramnya Jingga sambil mendorong kuat tubuh si botak dan si gondrong hingga tersungkur ke atas lantai keramik dengan sekujur tubuh nya mereka sudah babak belur.


Guntur membelalakkan matanya melihat siapa perempuan berhijab yang datang dengan kemarahannya yang membuncah. Guntur segera menyembunyikan kondisinya yang tidak baik-baik saja.


"Pak Guntur kamu baik-baik saja kan?" Tanyanya Jingga yang mulai panik.


"Kamu berikan minuman itu ke dalam mulut kedua bajingan ini!" Perintahnya Guntur yang menunjuk ke arah dua gelas.


Tanpa pikir panjang, Jingga segera melakukan apa yang diperintahkan oleh Guntur tanpa banyak protes. Pria itu bonyok dihajar dengan penuh luka hingga orang akan kesulitan mengenali kedua wajahnya.


"Kalian pasti haus kan sudah berusaha melawanku!!" Hardiknya Jingga satu persatu membantu kedua pria itu hingga minumannya tandas tak bersisa sedikitpun.


Senyuman tersungging di bibirnya Jingga yang membuat Guntur tersenyum bahagia sebelum tubuhnya tidak terkontrol lagi olehnya yang hampir terjatuh. Sedangkan Tania kondisi tubuhnya sudah mulai aneh dan kepanasan butuh pelampiasan.


"Pak Guntur!" Teriak Jingga yang segera berlari cepat ke arah Guntur sebelum terjatuh.


Guntur takut jika hilang kontrol dan kendali diri akan menerkam Jingga hidup-hidup saat itu juga.


"Saya akan menolong bapak, bertahanlah," ucapnya Jingga.


Untungnya Jingga memesan satu kamar hotel di lantai itu tepat di hadapan kamarnya Tania. Jingga menutup rapat-rapat pintu itu dan tidak lupa menguncinya juga dan terdengarlah suara jeritan dan teriakan yang memekakkan telinga.


"Aahh jangan!! Pergi! Aku tidak mau!!" Pekiknya Tania yang berusaha melawan haaa sss ratnya sendiri.


Jingga membuka kenop pintu kamar itu dan belum tertutup rapat, tubuhnya Guntur terjatuh karena postur tubuh dan beratnya Guntur kalah jauh dengan bodynya Jingga yang hanya seorang gadis muda yang jago karate dan taekwondo itu.


"Auhh!!"

__ADS_1


__ADS_2