
Senja tersenyum mendengar perkataan gombalannya Kabir.
"Ya Allah ternyata Pak Kabir pintar ngomong seperti ini juga, ini hal yang paling tidak pernah aku dengar selama aku mengenal pak Kabir, apa jangan-jangan aku sedang mimpi atau jangan-jangan mungkin aku hanya salah dengar saja yah,"
Senja terdiam memaknai dan menghayati perkataannya Kabir. Sedangkan orang yang berkata seperti itu tidak percaya dengan dirinya sendiri yang berkata seperti itu barusan. Perkataan spontan saja yang meluncur dari bibirnya sendiri.
"Apa benar aku yang barusan berbicara seperti itu? Ya Allah ternyata.. mungkinkah aku sudah benar-benar mencintai perempuan yang menjadi anak mahasiswaku, memang sejak awal dia sudah menarik perhatianku tapi untuk jatuh cinta barulah akhir-akhir ini aku merasakannya betapa bahagianya mencintai dan dicintai, tapi ngomong-ngomong masalah dicintai apa kah Senja sudah ada rasa padaku,"
"Saya tidak boleh seperti ini, jangan sampai pak Kabir terlalu kepedeannya melambung tinggi hingga ia tidak akan pernah menyadari jika hatiku sampai detik ini belum mencintainya, saya tidak ingin dia salah paham,"
Kabir dan Senja sama-sama terdiam dan sibuk dengan urusan pikiran masing-masing. Hingga suara seseorang dari seberang telpon membuyarkan pikiran keduanya. Perempuan yang telah melahirkannya ke dunia ini dengan penuh perjuangan tersenyum melihat putra semata wayangnya itu.
Bu Hanin menyandarkan punggungnya ke kap mobil anaknya itu, "putraku ini sejak tadi katanya mau pergi,tapi bunda perhatikan sejak sejam yang lalu kamu masih dalam mobil dalam keadaan seperti ini lagi," ujarnya Bu Hanin Mazaya.
Kabir segera buru-buru mematikan sambungan teleponnya itu agar bundanya tidak mengetahui jika sedang menelpon dengan calon istrinya. Kabir menjadi salah tingkah dan panik karena takut jika ketahuan dengan bundanya.
"Hemph,bunda kapan datang?" Tanyanya Kabir yang segera mengalihkan perhatiannya Bu Hanin.
Tapi, tangannya segera menekan tombol merah agar Senja tidak mengetahui apa yang dikerjakannya. Padahal sejak tadi Senja sudah mengetahui apa yang dilakukan oleh Kabir dosen tampannya itu.
__ADS_1
"Kamu ditanya kok malah bertanya balik? Bunda barusan nyampe kok, karena mau antar ini dan cek apa putraku sudah siap mental untuk menikah," imbuhnya Hanin mamahnya Kabir.
Kabir segera keluar dari dalam mobilnya dan segera mematikan mesin mobilnya tersebut. Kabir menarik tangannya Bu Hanin seperti seorang adik kakak saja. Mereka berjalan bergandengan tangan hingga ke dalam kediaman rumah besar Bu Claudia.
Nyonya Claudia yang melihat mantan menantunya dengan cucu tunggalnya itu berjalan bagaikan seorang teman, sahabat bahkan tidak seperti seorang mama dan anaknya saja. Mereka lebih terlihat begitu jelas seperti hubungan yang membuat orang terkadang cemburu.
Sedangkan di tempat jauh dari tempatnya Kabir bersama Bu Hanin, yaitu tepatnya di rumah calon mempelai pengantin perempuan. Senja masih memegangi ponselnya dan mendekatkan ke dadanya.
"Pak Kabir tadi wajahnya sungguh lucu ketika kedatangan bundanya, seperti seorang anak muda yang mengajak ketemuan dengan kekasihnya tapir,malah ketahuan," cicitnya Senja yang tersenyum lebar mengingat kejadian yang baru saja terjadi.
Senja tersenyum jika harus kembali mengingat kejadian itu, ia segera membuka mukenanya yang sejak tadi dipakainya karena baru saja selesai shalat dzuhur sebelum telponnya Kabir.
Tok… tokk..
Senja yang mendengar teriakan tantenya segera mengganti pakaiannya secara kilat.
"Iya tunggu Tante Aisyah, saya sudah tidak tidur kok tapi mau ganti pakaian dulu," balasnya Senja yang sedikit meninggikan suaranya itu agar tantenya mendengarkan perkataannya.
"Kalau kamu sudah selesai berganti pakaian turun lah Nak, karena ada seseorang yang ingin bertemu denganmu," balasnya juga Bu Aisyah.
__ADS_1
Senja penasaran dengan siapa tamu yang datang mengunjungi rumahnya itu. Senja membuka lemarinya dan mengambil pakaiannya secara acak tanpa peduli dengan penampilannya saking penasarannya dengan siapa tamu tersebut.
"Apa pak Kabir yang datang, tapi kalau pak Kabir itu tidak mungkin banget apalagi tadi aku sudah ngomong kalau tidak boleh bertemu dulu sebelum akad nikah karena sedang dipingit," gumamnya Senja seraya memakai pakaiannya dengan terburu-buru.
Senja terlebih dahulu melipat dan merapikan alat sholatnya terlebih dahulu seperti sajadah, mukenah serta Alqurannya ke dalam lemari khusus.
Senja sudah selesai hanya dalam hitungan menit saja. Ia berjalan cepat hingga terkesan tergesa-gesa. Saking penasarannya dengan siapa orang yang telah datang mengunjungi rumahnya itu.
"Ya Allah siapa orang yang berkunjung ke rumah, kenapa Tante Aisyah meski menyampaikan hal ini padaku? Seolah tamu ini sangat penting untuk aku lihat langsung," terkanya Senja.
Semua orang melihat kedatangan Senja yang menuruni undakan anak tangga satu persatu. Dia semakin dibuat penasaran karena semua orang mengarahkan pandangannya ke arah Senja. Sedangkan ada beberapa orang yang duduknya membelakangi tangga dan sama sekali tidak menoleh ke arah kedatangan Senja sama sekali.
Seolah orang itu sama sekali tidak peduli dengan kedatangan dan kehadirannya. Senja menebar senyum termanisnya ke arah seluruh anggota keluarganya yang sudah berdatangan ke rumahnya. Mulai kemarin sore hingga hari ini satu persatu kerabat mamanya datang, dari luar daerah maupun luar pulau Jawa.
"Senja putrinya Mama," ucapnya Alia ketika melihat putri bungsunya itu berjalan ke arahnya dimana dia duduk berhadapan dengan seorang pria dan wanita yang ingin langsung bertemu dengan dirinya.
"Senja Starla Airen Zain Pratama," sapanya Jingga yang selalu menyapa adiknya dengan sebutan nama lengkapnya itu.
"Ish… ish kak Jingga seperti sedang mengabsen siswanya saja pakai nama lengkap segala," candanya Senja yang sudah berdiri di depan kakaknya itu.
__ADS_1
"Kalian memang lucu yah selalu saja seperti ini bahkan sudah mengalahkan kedekatannya Upin Ipin di duo kembar dari negeri Jiran Malaysia Kuala Lumpur," tukasnya Selma Blair adik sepupunya Senja yang baru sampai dari Jogja.
"Hahaha itulah beda dan ciri khasnya kami jika bertemu bahkan banyak yang mengomentari tentang penampilan kau berdua ," sahutnya Jingga yang tidak mau ketinggalan.