
Hari ini Adinda akan memeriksakan kondisi kehamilannya, tapi ia sudah merengek pada Leo untuk diantar,tapi Leo karena kesibukannya sehingga tidak mampu untuk mengantarnya.
"Maafkan Mas, saya banyak pekerjaan jadi kamu berangkat sendiri saja ke rumah sakit, andai saja saya tidak sibuk pasti saya akan antarin kamu ke rumah sakit untuk periksa," tolaknya Leo Carlando Zain Khalid Pratama yang sebenarnya sangat tidak ingin menemani Adinda yang biasanya terlalu banyak permintaan, perintah dan keluhannya.
"Tapi Mas, sejak saya hamil anak kita sekalipun kamu belum pernah mengantarku,apa Mas sekali ini saja tidak bisa!?" bujuknya Adinda.
Kedua pasangan suami istri itu saling berdebat dan berselisih paham masalah ke dokter.
"Aku tutup dulu telponnya kalau tidak ada lagi yang penting, aku sudah terlambat ke tempat proyek kalau hanya rengekanmu yang mesti aku dengar," ucapnya Leo.
Aliya keheranan melihat Leo suaminya disangkanya sudah berangkat ke kantor sejak tadi.
"Mas Leo,kok belum berangkat kerja, apa yang terjadi? saya kira mas sudah berangkat kerja sekitar setengah jam yang lalu," imbuhnya Aliah yang tiba-tiba muncul di belakangnya Leo tanpa terduga itu.
"Ehh Al... Mas be-lum berangkat karena tadi mas cek kondisi mesin motornya Mas yang tiba-tiba mogok," elaknya Leo yang tepaksa harus berbohong.
"ohh gitu, tapi motornya sudah baik dan normal kan?" Aliyah memperhatikan motor matic injeksi berwarna merah milik suaminya itu.
"Alhamdulillah sudah baik, aku jalan kalau begitu, assalamualaikum," ucapnya Leo berpamitan kepada istrinya yang bisa bernafas lega karena tidak ketahuan tapi sedih karena sudah berbohong.
Beberapa menit kemudian...
"Ish kesel, kenapa Mas Leo sulit sekali bisa mengantarku ke dokter padahal hanya sebentar saja," kesalnya Adinda sambil mengunci pagar rumahnya itu.
Aliya yang baru saja mematikan mesin motornya tanpa sengaja mendengar kekesalan Adinda karena suaranya cukup besar sehingga mampu di dengarnya. Aliya yang baru saja pulang setelah mengantar kedua putri kembarnya itu.
"Assalamualaikum Adinda," sapanya Aliya dengan seulas senyumannya itu.
__ADS_1
Adinda yang jengkel dengan Leo suaminya itu, awalnya hendak melampiaskan kemarahannya ke Aliya, tapi melihat senyuman tulus dari Aliya mampu sedikit meredam amarahnya itu.
"Waalaikum salam," cicitnya Adinda.
"Mau kemana, pagi-pagi gini sudah rapi dan cantik banget," pujinya Aliya seraya membuka helmnya.
Adinda tersipu merona malu mendengar perkataan pujiannya Aliya yang ditujukan untuknya.
"Mbak Aliya aku jadi malu dengar pujiannya, padahal suamiku sudah lama aku tidak mendengar pujiannya untukku," ketusnya Adinda.
Aliya terkekeh mendengar perkataannya Adinda," kamu mungkin kurang tulus memperlakukan suamimu makanya mungkin dia bersikap seperti itu," ucapnya Aliya dengan hati-hati agar tidak menyinggung perasaannya Adinda.
Adinda spontan terdiam memaknai perkataannya Aliya barusan," ada benarnya yang dikatakan oleh Aliya sih,apa mungkin Aliya bersikap seperti itu pada Mas Leo makanya sampai sekarang cintanya kepada Mbak Aliya tidak pernah berubah, ataupun pudar bahkan semakin bertambah saja dari hari ke hari," gumamnya Adinda.
Aliyah menautkan kedua alisnya melihat kebungkaman yang terjadi padanya Adinda.
Tapi, Adinda segera mencegah kepergian Aliya," Mbak Aliya apa saya boleh minta tolong padamu?" Tanyanya Adinda yang segan sebenarnya meminta bantuan kepada Aliya istri pertama suaminya itu.
"Hey Mbak Alia! Apa saya boleh meminta sesuatu padamu enggak?" Tanyanya Adinda dengan sungkan.
Aliah segera menghentikan langkahnya itu lalu menolehkan kepalanya ke arah Adinda," minta tolong! Emangnya kamu mau minta tolong apa? Insya Allah… kalau bisa saya pasti akan tolongin kamu kok," timpalnya Aliya yang selalu memperlihatkan senyumannya ke arahnya Adinda.
Adinda tampak malu dan sungkan untuk mengucapkan apa yang akan diucapkannya itu. Tapi, Adinda juga tidak punya pilihan lain lagi, tidak mungkin ia harus berjalan sekitar beberapa meter untuk menunggu taksi atau ojek lewat. Memesan ojek online pun tidak cukup waktu lagi.
Aliya kembali menautkan kedua alisnya itu melihat sikapnya Adinda yang seperti orang kebingungan, "Kok kamu terdiam? Bicara saja tidak perlu banyak pikiran," tukasnya Alia lagi.
"Apa Mbak Aliya bisa bantuin aku untuk antarin aku ke rumah sakit, hari ini jadwal aku periksa soalnya," ujarnya Adinda lagi.
__ADS_1
"Suami kamu mana? Kamu hamil besar seperti ini kok dibiarkan keluyuran dan pergi seorang diri saja! Aku dulu sewaktu hamil Alhamdulillah dari awal trisemester pertama hingga bulan taksiran aku melahirkan, suamiku selalu mengantarkan aku untuk periksa walaupun suamiku Mas Leo sibuk dengan pekerjaannya," ungkap Aliya yang membanggakan diri suaminya itu.
"Mas Leo memang membeda-bedakan kami berdua, walaupun Mas Leo tidak mengatakannya, tapi itulah kenyataannya , Tuhan apa aku tidak pantas untuk bahagia seperti Aliya pengennya, aku juga ingin sepertinya diperhatikan dan disayangi oleh Mas Leo apalagi ini kan anaknya," Adinda membatin.
"Kok terdiam lagi, jangan-jangan kamu sakit lagi sampai sudah dua kali mematung, aku khawatir melihatmu jika seperti ini terus," tuturnya Aliya yang mencemaskan keadaannya Adinda.
"Saya minta tolong diantarkan sampai rumah sakit kalau bisa tungguin aku juga sampai selesai periksa, kamu tidak perlu khawatir saya akan mengganti rugi waktu Mbak Aliya yang terbuang itu," terangnya Adinda yang memegangi kedua tangannya Aliya itu dengan penuh harap.
Aliya terdiam sejenak sambil memikirkan akan ambil dimana helm cadangan untuk Adinda.
"Tapi apa kamu punya helm, ke-dua apa kamu tidak takut dibonceng sama aku?"
"Aku punya helm kok, aku tidak akan takut andaikan aku takut mungkin aku tidak akan meminta tolong padamu," tampiknya Adinda.
"Baiklah,kamu sana ambil helm kamu, cepatan nanti takutnya pelayanannya di rumah sakit tutup," ujarnya Aliya yang kembali mengunci pagar rumahnya yang sempat terbuka sedikit sebelum mendengar permintaannya Adinda.
Berselang beberapa menit kemudian, Adinda sudah siap. Aliya membantu Adinda memakaikan helmnya kepalanya Adinda dengan baik.
"Kamu jangan duduk menyamping, perjalanannya agak jauh soalnya,kamu bisa kan duduk seperti yang aku katakan?" Aliyah membantu Adinda menaiki motor maticnya itu.
Adinda sudah duduk rapi dan baik di atas motor," apa kamu sudah siap berangkat?" tanyanya Aliya yang memastikan kesiapannya.
"Siap Mbak, makasih banyak sudah membantuku padahal Mbak punya waktu luang untuk menemaniku, sedang suamiku terlalu sibuk bekerja," terangnya Adinda.
Adinda menaikkan jempolnya jika Ia sudah siap berangkat, mereka tidak ingin menunda-nunda waktu mereka. Adinda merasa terbantu sekali disaat dia butuh bantuan muncullah perempuan yang direbut suaminya olehnya sendiri.
"Adinda saya sudah sepatutnya dan sewajarnya membantumu, kita ini tetangga dan sesama ummat muslim jadi ini sudah tanggung jawabku bantuin kamu lagian Kalau Aku tidak membantumu, siapa coba yang akan kamu andalkan, anggap saja aku kakakmu sendiri jadi besok-besok kamu punya keluhan atau meminta bantuan tidak usah sungkan, selama Mbak bisa insha Allah... saya akan bantu kamu," janjinya Aliya sebelum menyalakan mesin motornya itu.
__ADS_1
Tidak butuh waktu lama, mereka berdua sudah sampai di tempat parkiran rumah sakit khusus ibu dan anak.