Belum Berakhir

Belum Berakhir
Bab. 101. Memanfaatkan Waktu Luang


__ADS_3

Senja bukannya datang ke perumahan khusus dosen universitas untuk santap siang, malah ketiduran.


Kabir mengelus wajahnya Senja dengan begitu penuh kelembutan,jari jemarinya yang lembut itu membelai pipinya Senja yang sedikit chubby.


Entah kenapa aku semakin mencintaimu istriku, awalnya aku merasa kenapa bisa aku mengenal gadis seperti kamu.


Tapi lama kelamaan akhirnya aku menyadari, jika aku tidak sanggup untuk bernafas baik tanpa kamu disisiku.


Aku tidak akan sanggup menjalani kehidupanku yang tersisa di dunia ini tanpa melihat senyumanmu.


Insha Allah Abang berjanji untuk membuat kamu bahagia selama aku masih hidup. Tapi, satu pintaku padamu jangan pernah untuk berniat meninggalkanku.


Kabir mengecup keningnya Senja, kemudian ciuman itu turun ke hidung mancungnya Senja dan berakhir di bibir mungilnya Senja.


Kabir tersenyum smirk melihat bibir merona memerah bak buah ceri merah yang sangat segar.


Awalnya Kabir hanya mengecup sekejap saja, karena tidak ingin menganggu tidurnya Senja.


Kabir melepas ciumannya kemudian mengelus puncak hijabnya Senja dengan penuh kasih sayang.


Kabir bangkit dari posisi berlututnya itu karena ia tidak ingin mengusik ketenangan tidurnya Senja. Tapi, tiba-tiba langkahnya terhenti ketika tangannya ditarik oleh Senja.


"Abang jangan pernah tinggalkan aku walau aku nantinya melakukan kesalahan besar, tetaplah mencintaiku dan berdiri di sisiku," ucapnya Senja.


Kabir segera menggendong tubuhnya Senja ala bridal style. Ia tidak ingin istrinya itu tidur meringkuk di atas sofa.

__ADS_1


"Aku juga meminta padamu untuk jangan sekali-kali untuk pergi dari sampingku tetaplah seperti ini untuk selamanya biarlah maut memisahkan cinta kita berdua."


Kabir segera membaringkan tubuhnya istrinya itu dengan sangat perlahan ke atas ranjang.


"Kamu tidurlah dengan tenang, masalah surat pembagian magang kamu Abang yang akan minta di BEM fakultas,"


Kabir ingin menelpon salah satu pegawai di bagian bem fakultas, tapi lagi-lagi tangannya dicegah dan ditarik oleh Senja.


"Abang Kabir jangan pergi temani aku," lirihnya Senja yang kedua matanya masih terpejam.


Karena tarikannya Senja yang cukup kuat dan Kabir sang dosen ganteng itu pijakan kakinya yang tidak stabil akhirnya Senja terjatuh karena cukup berdiri dengan tidak seimbang.


"Ahh!" jeritnya Kabir.


Tubuhnya sudah mendarat di atas tubuhnya Senja dengan kedua telapak tangannya menimpa dua buah benda yang masih cukup kenyal dan tentunya ukuran awalnya tidak sesuai dengan besar kepalan tangannya tapi, beberapa hari belakangan ini size-nya sudah sesuai dengan keinginan Kabir.


"Aahh Pak Kabir!" Teriak Senja.


Awalnya ingin kembali berteriak karena cukup terkejut tapi, mulutnya segera disumbat oleh bibirnya Kabir.


"Ugh!"


"Hemp"


Kabir bukannya berhenti dari kegiatan yang sudah sebulan lebih ini menjadi candunya. Kabir malah semakin mengeraskan dan melanjutkan kegiatannya itu, untuk mengekspansi dan mengabsen satu persatu semua benda yang ada di dalam rongga mulutnya.

__ADS_1


Luuu maa taan, hingga kedua lidahnya saling membelit masing-masing. Senja segera melingkarkan kedua tangannya ke lehernya Kabir.


Sudut bibirnya terangkat ke atas pertanda Kabir tersenyum smirk penuh kemenangan. Kabir segera membalas pelukannya Senja dengan semakin menambah intensitas ciumannya itu.


Kabir dan Senja mengakhiri kegiatan keduanya itu, karena nafas keduanya ngos-ngosan, tersengal-sengal dan keduanya sama-sama seolah saling mencari udara bebas karena pasokan udara di dalam ruangan berukuran 6x7 itu.


"Sayang bolehkah Abang meminta itu padamu? Kabulkanlah keinginannya Abang yah sungguh sangat menginginkan dirimu saat ini," pintanya Kabir.


Senja malahan hanya menganggukkan kepalanya itu dan melupakan apa yang sering dilakukan oleh Senja sebelum berhubungan badan dengan suaminya.


Keduanya mulai saling membahagiakan satu sama lainnya, mereka seolah tidak ada yang ingin mengalah satu sama lainnya.


Senja semakin hari semakin lihai dan mampu mengimbangi permainan dari suaminya itu. Suara dee saaa haaan memenuhi seluruh sudut penjuru ruangan tersebut.


Senja sesekali berteriak kecil dan terkadang kencang. Kabir sangat menyukai dan menikmati suara dari bibir mungilnya Senja.


"Saya sangat menyukai suaramu itu sayang, tidak perlu digigit bibirnya seperti itu, bibirmu nanti terluka,kamu tidak perlu khawatir kamar kita ini memakai peredam suara kok,"


Pakaian mereka satu persatu sudah terlempar ke sembarang arah hingga memenuhi beberapa bagian lantai keramik.


Senja sesekali meremas kuat seprei yang ada di dekatnya itu, ia terlalu segan dan sungkan dan juga malu jika mengeluarkan suaranya itu.


Peluh keringat bercucuran membasahi sekujur tubuh kedua pasutri itu. Senja nafas di dadanya terlihat kembang kempis. Kabir semakin gencar melakukan kegiatannya siang hari itu.


"Bismillahirrahmanirrahim semoga dengan kegiatan kami ini bisa membuat Senja istriku hamil dan secepatnya kami memiliki anak,"

__ADS_1


Berulang-ulang kali mereka mengulangi kegiatannya itu. Hingga cairan panas menyembur membasahi seluruh dinding tubuh terdalam Senja.


__ADS_2