Belum Berakhir

Belum Berakhir
Bab. 50. Sebuah Keputusan


__ADS_3

Kabir pun segera angkat bicara sebelum neneknya pergi jauh dari ruangan itu," untuk kalian berdua kalian bukan saudariku tapi aku sudah anggap saudara kandungku sendiri, tapi untuk Mama Kania tolong jaga sikap Mama untuk kedepannya jangan sekali-kali menentang keras hubunganku dengan Senja jika Mama masih ingin tinggal di rumah ini dan semua fasilitas yang aku berikan tidak akan aku cabut jika Mama bisa menghargai dan menghormati keputusanku,"


Kania terduduk lemas di atas sofa, Pak Abbas mengusap wajahnya dengan gusar. Dia tidak menyangka jika istrinya menipu dirinya selama ini. Sehingga dia menceraikan istrinya Hanin Mazaya yang begitu setia dan baik.


"Kania setelah saya mengetahui apa benar yang dikatakan oleh Mama dan putraku Kabir, hubungan pernikahan kita harus segera berakhir, saya tidak ingin menikah dan hidup berdampingan selama hidupku dengan perempuan tidak tahu diri," tegas Pak Abbas Khair Sanders yang segera meninggalkan ruangan tersebut dengan amarahnya yang terus berusaha ditahannya.


"Mas Abbas! Jangan pergi dari sini mas dengarkan penjelasanku, aku tidak ingin bercerai dengan mas!" Teriaknya Bu Kania yang segera mengejar suaminya sendiri untuk membujuk Pak Abbas.


Kabir hanya menggelengkan kepalanya dan keheranan dengan sikap dari papanya sendiri. Sudah lebih dua puluh tahun dibohongi tapi, baru tersadar hari ini.


"Semoga saja hanya papa pria di dunia ini yang mengalami kejadian seperti ini, aku berharap aku tidak seperti papa yang demi cinta harus hidup setiap detik dengan kebohongan perempuan yang dinikahinya," Kabir hanya tersenyum miris dengan keadaan itu.


"Alhamdulillah akhirnya kedua mata putraku terbuka lebar. Masalah ini sudah cukup lama aku pendam dan simpan agar dia sendiri yang mengetahuinya karena tidak mungkin aku yang langsung mengatakan kebenaran ini, takutnya pasti aku tidak akan dipercayai semudah itu,"


Bu Claudia segera menghubungi nomor asisten kepercayaannya untuk mengatur segala sesuatu yang akan mereka bawa nantinya jika mereka akan berkunjung ke rumahnya Senja gadis yang akan dinikahi oleh Kabir pewaris tunggal tahta kerajaan perusahaan Sanders tbk.


Kabir juga menghubungi nomor bundanya Hanin Mazaya untuk bersiap malam nanti berkunjung ke rumahnya Senja untuk meminang gadis pujaan hatinya yang awalnya adalah mereka terjebak dalam situasi yang sudah direncanakan sebelumnya oleh neneknya Kabir.


Ibu Hanin sangat gembira mendengar perkataan dari anaknya itu, ia bersyukur karena putranya memutuskan untuk mengakhiri masa lajangnya diusianya yang ke 29 itu. Padahal sudah sejak beberapa tahun lalu,ia mendesak putranya untuk menikah tapi hari ini dia langsung yang memantapkan hatinya untuk mempersunting gadis pujaan hatinya.


"Alhamdulillah serius Nak kamu akan menikah?" Tanyanya Bu Hanin dari seberang telpon karena sebenarnya sudah mengetahui jika Kabir akan melamar seorang gadis yang berbeda delapan tahun dengan usia putra semata wayangnya itu.

__ADS_1


"Iya bunda, kalau bisa bunda datang ke rumahnya Nenek nanti sore kita bareng berangkatnya ke sana," imbuhnya Kabir lagi.


"Tapi apa kedua orang tuanya sudah mengetahui rencana kalian Nak melamar Senja?" Tanyanya Bu Hanin yang keceplosan menyebut namanya Senja.


"Bunda,kok bisa mengetahui namanya gadis itu Senja padahal saya belum sebut namanya," sanggah Kabir.


"Eh itu a-nu Nak hanya nebak saja karena hanya Senja perempuan yang sering kamu ajak ke tempat pesta bukan anak perempuan lain makanya bunda mengambil kesimpulan kalau Senja gadis yang kau sayangi," kilahnya Bu Hanin yang tidak ingin ketahuan dengan kerjasama yang dilakukan oleh Bu Claudia dengan mantan anak menantunya.


"Kalau begitu bersiaplah nanti malam kita akan melamar anak gadisnya pak Leo Carlando Zain Pratama dengan Bu Aliah Aziza Humaira," ujar Kabir.


Bu Hanin segera duduk di kursi kebesarannya itu, "Tapi nak kalau enggak salah Senja pernah ngomong sama nenek kamu katanya Senja papanya terpisah dengan mamanya itu lebih sepuluh tahun, jadi gimana dengan Pak Leo apa beliau juga akan hadir? kalau tidak gimana keputusan tersebut bisa mereka ambil tanpa kehadiran Pak Leo," tukasnya Bu Hanin.


"Insha Allah setelah ini, saya akan secara langsung menemui Pak Leo, agar bersedia hadir walaupun mamanya Senja sangat menentang pertemuan kembali keduanya," tuturnya Kabur.


"Kalau gitu saya tutup telponnya, assalamu'alaikum warahmatullahi wa barakatuh," Kabir segera menyalakan mesin mobilnya itu menuju ke kediaman Leo.


Sedangkan di tempat lain,Senja terduduk di sekitar kolam renang samping rumahnya. Kakinya masuk ke dalam genangan air, sambil menikmati senja sore itu yang terlihat begitu indah warna langit sore yang berwarna jingga.


"Ya Allah.. apa keputusan aku untuk menerima lamaran Pak Kabir adalah yang terbaik,tapi aku belum siap untuk menikah karena usiaku juga belum genap 22 tahun, aku masih pengen kuliah," Senja memainkan air dalam kolam renang tersebut hingga terkadang gemercik mengenai wajahnya yang terpapar sinar matahari sore hari itu.


Aliah melihat putri bungsunya itu sedang duduk termenung seraya menikmati sunset sore itu. Aliya segera membereskan beberapa pekerjaan yang rencananya persiapan untuk menyambut kedatangan anggota keluarga besarnya.

__ADS_1


"Kenapa aku perhatikan putriku seperti seolah tidak rela menikah dengan Kabir, apa aku bertanya kepadanya langsung saja yah," Aliah segera berjalan ke arah luar kolam renang tersebut.


Tapi baru sekitar beberapa langkah kakinya melangkah harus terhenti ketika mendengar seruan putri sulungnya Jingga.


"Mama!" Teriaknya Jingga.


Aliya terpaksa mengurungkan niatnya untuk berbicara empat mata bersama Senja.


"Ada apa nak?" Tanyanya Aliah segera berjalan ke arah anaknya itu yang berjalan menenteng dua paper bag masing-masing di kedua sisi tangannya itu.


"Ini kue pesanannya Mama, coba dicek apa sudah benar pesanannya Mama,jangan sampai ada yang terlupakan atau kelewat enggak dikirim oleh pemilik toko bakery tersebut," ucapnya Jingga.


"Sini Mama cek satu-satu takutnya lebih alhamdulillah kalau dilebihkan oleh karyawan tokonya, tapi kalau nggak rugi kita konsumen pasti dirugikan," ucapnya Aliah.


Jingga hanya tersenyum mendengar perkataan dari mamanya itu,"ma apa kuenya sudah cukup atau mungkin masih kurang karena aku lihat bibi Diah hanya buat kue beberapa macam jenis saja, keluarga calon suaminya Senja bukan kalangan seperti kita ini ma jadi harus lebih berhati-hati dan tidak boleh ada yang salah atau kurang sedikitpun," terangnya Jingga yang berharap acara lamaran adik kembarnya berjalan lancar dan sukses.


"Insha Allah semuanya Mama perhitungkan segala sesuatunya, Mama hanyalah berharap adikmu mendapatkan calon suami yang baik dan Sholeh penuh tanggung jawab tidak seperti papa yang mudah tergoda dengan kecantikan wanita lain," tukas Aliah.


"Mama apa tidak sebaiknya memberikan kesempatan kepada Papa, karena sudah lama loh kejadiannya lagian sesuai yang aku dengar katanya Tante Adinda sudah meninggal dunia, kasihan dia memiliki putra yang masih kecil, apa papa dan mama bertemu saja untuk membicarakan segalanya agar semua permasalahan dan juga kesalahpahaman segera usai," ungkapnya Jingga.


"Jingga! mama sangat mengetahui apa yang seharusnya mama lakukan, jadi kamu tidak perlu mencampuri urusan pribadinya Mama,kamu fokus kuliah dan bersiap juga untuk menikah dengan Abrizam, karena Mama berencana untuk menjodohkan kamu dengannya kalau perlu kalian akan menikah bersamaan dengan Senja," Aliah segera meninggalkan putrinya setelah berbicara seperti itu.

__ADS_1


Jingga tercengang mendengar perkataan balasan dari mamanya perempuan yang telah berjasa besar melahirkannya ke dunia ini.


"Astaughfirullahaladzim Mama sampai kapan harus dendam kepada papa, kenapa hati Mama harus hidup dalam amarah, kebencian dan dendam," Jingga berdiri lesu melihat kepergian mamanya itu.


__ADS_2