Belum Berakhir

Belum Berakhir
Bab. 200


__ADS_3

Senja terduduk di samping box bayi adiknya yang baru beberapa detik dilahirkan, tapi sudah jadi anak piatu yang tidak memiliki seorang ibu.


Air matanya semakin menetes tanpa henti,dia masih tidak percaya jika secepat ini mamanya dipanggil oleh Sang Maha Pencipta.


"Astaughfirullahaladzim, Mama tega benar meninggalkan kami, apa Mama tidak kasihan melihat dede Ocean yang masih bayi," ratapnya Senja.


Kabir yang sudah menyelesaikan masalah administrasi kepulangan jenazah ibu mertuanya segera menemui istrinya.


Senja pasti butuh sandaran, dia pasti sangat sedih kehilangan Mama Aliaya.


Kabir mempercepat langkahnya menuju ke ruangan khusus bayi. Dia tidak ingin terjadi sesuatu pada istrinya.


Pintu ruangan itu berderit cukup nyaring bunyinya, tapi tidak membuat sang penghuni ruangan terganggu dengan kedatangan seseorang. Senja masih terduduk di atas lantai keramik ditemani oleh Bu Minah Ijah yang masih setia terus menemani dan mendampinginya.


"Kasihan sekali Non Senja, nyonya Aliya tidak sakit sedikitpun tapi tiba-tiba didepan mata kami telah berpulang ke Rahmatullah, bagaimana dengan bayinya yang masih sangat butuh asi eksklusif, semoga saja bayinya sehat dan segera keluar dari alat inkubator," cicitnya Bu Ijah.


"Bibi, aku ti-dak tahu bagaimana aku kedepannya tanpa Mama, a-ku tidak pernah hidup berjauhan dengan Mama Aliah, bibi," ucapnya sendu Senja yang semakin kesulitan untuk menerima kepergian mamanya itu.


Kabir gegas ke arah istrinya itu, dia tidak ingin istrinya terus meratapi kepergian mertuanya, sedangkan apa yang dilakukan oleh Senja sangat lah tidak baik terutama untuk orang yang telah meninggal dunia.


"Senja, Abang mohon jangan seperti ini, tidak baik adanya jika kita terus meratapi kepergian Mama, kamu harus kuat dan sabar, kamu itu tidak sendiri ada Abang bersama kamu,ada Gibran, Jihan, Jinan juga, kami tidak ingin melihat kamu seperti ini," bujuknya Kabir yang sedih melihat istrinya.


Senja mengusap wajahnya dengan asal dan mendongakkan kepalanya ke arah Kabir yang masih memeluknya, "Sayang gimana dengan kondisinya Mbak Jingga dan Papa Leo?" Tanyanya Senja.

__ADS_1


"Alhamdulillah kalau Jingga dia baik-baik saja, bahkan kamu akan menjadi aunty, tapi kondisinya papa masih belum sadar juga," jawabnya Kabir.


Senja menatap tidak percaya apa yang dikatakan oleh suaminya,dia bahagia sekaligus sedih. Bahagia karena kakaknya akhirnya hamil juga anak pertamanya. Tetapi, disisi lain papanya pun dalam kondisi yang tidak baik-baik saja.


"Abang apa aku harus gembira ataukah sedih mendengar kabar itu? Aku tidak sanggup kalau harus seperti ini,hiks… hiks.. Mama Aliah begitu tega meninggalkan kami anak-anaknya padahal pagi tadi Mama memanggil kita untuk diner di rumahnya," Senja semakin terisak dan seolah air matanya terlalu banyak sehingga tidak sanggup untuk berhenti.


Sedangkan Leo yang masih dalam penanganan dokter pun dalam kondisi yang tidak baik. Leo dinyatakan mengalami serangan jantung tiba-tiba. Dia pun harus mendapatkan penanganan medis dari dokter.


"Ya Allah begitu berat cobaan yang Engkau berikan kepada anakku dan menantuku, istrinya telah meninggal dunia meninggalkan bayi malang sedangkan sekarang putraku kondisinya pun kritis dan dinyatakan koma oleh dokter," Bu Sri Indarwati menangis meraung meratapi nasibnya anak-anaknya dan cucunya.


Bu Sri tidak kuasa melihat putranya yang hampir seluruh dadanya dipasang alat medis penunjang hidupnya.


"Mama,kita harus kuat dan sabar. Mungkin ini yang terbaik untuk Mbak Aliya dan mas Leo, jadi kita semestinya sabar walaupun hati kita sulit untuk mengikhlaskan kepergian dari Mbak Aliyah," ucapnya Lutfi Khaerul yang memeluk tubuhnya Bu Sri yang bergetar hebat dalam tangisnya.


Semua orang tanpa terkecuali menitikkan air mata kesedihannya melihat Aliah dan Leo. Bu Hanin Mazaya dan Pak Septa membantu mengurus persiapan kepulangan bu Aliah serta prosesi pemakamannya. Keduanya terus berada di rumah sakit, sedangkan Pak Raka Bumi dan istrinya Bu Siska sudah pulang terlebih dahulu untuk mengurus beberapa hal yang ada di rumah duka.


Guntur dan Jingga segera berjalan ke arah ICU setelah kondisinya sudah stabil dan membaik.


"Sayang sebaiknya kamu istirahat saja, serahkan pada mereka yang akan mengurus dan menyelesaikan kepulangan mama,kamu itu sedang hamil muda," cegahnya Guntur yang tidak ingin istrinya mendatangi ruangan perawatan papanya.


"Tolong jangan cegah aku bang, aku ingin melihat papa sebelum pulang bersama dengan jenazahnya mama," pintanya Jingga yang memperbaiki tata letak hijabnya sebelum bangkit dari ranjangnya.


Senja pun berjalan dengan dibantu oleh Kabir suaminya, beberapa temannya masih ada yang belum balik. Mereka tetap selalu memberikan dukungan moril maupun semangat untuk Senja agar lebih tabah dan kuat menghadapi cobaan yang begitu besar dalam hidupnya.

__ADS_1


Air matanya terus menetes beranak sungai, dia tidak memikirkan hal-hal yang lainnya. Mereka menyambut kedatangan Senja dan Kabir, sedangkan Guntur membantu memapah Jingga yang kondisinya masih lemah dan tidak berdaya.


"Suamiku apa Papa akan baik kan? Aku tidak tahu harus gimana lagi jika terjadi sesuatu juga pada papa, aku akan semakin hancur dan sedih jika Papa sakit parah," cercanya Jingga.


"Insha Allah papa akan selamat, sehat dan bisa berkumpul dengan kita semua seperti sedia kala, jadi kamu tidak perlu berfikir macem-macem ingat kamu itu hamil muda,' nasehatnya Guntur yang terus memeluk tubuhnya Jingga dari samping sambil berjalan perlahan menuju ke arah ICU dimana orang-orang masih ramai dipadati oleh keluarga dan sahabatnya.


Bu Clara pun ikut sedih melihat kondisi dari kedua cucu mantunya itu, dia pun tidak tahu harus berbuat apa, agar mereka tegar, tabah, sabar dan ikhlas menjalani ketetapan Allah SWT yang telah menakdirkan jika Aliyah meninggal dunia setelah berhasil melahirkan putra pertamanya itu sekaligus anak bungsunya.


Senja dan Jingga hampir bersamaan kedatangannya ke ruang ICU. Mereka tidak pernah ada yang berhenti untuk mengucap astaughfirullahaladzim dan berdzikir menyebut kalam ilahi dan kalimat tauhid untuk menguatkan hati dan jiwa mereka sendiri.


Senja memperhatikan dengan seksama papanya dari balik kaca jendela ruang ICU. Pak Leo dinyatakan mengalami serangan jantung tiba-tiba dan kondisinya tidak sadarkan diri bahkan dinyatakan dalam kondisi koma.


Dia tergugu dalam tangisannya itu, ia masih sering mengira jika dia hanya sedang bermimpi saja. Tapi inilah kenyataannya jika wanita yang telah berjasa besar dalam hidupnya telah pergi untuk selama-lamanya.


"Sayang, jenazahnya mama kalian sudah siap dipulangkan, apa kau akan terus di rumah sakit atau bagaimana?" Tanyanya Bu Hanin yang memeluk tubuhnya Senja yang tak henti-hentinya meneteskan air mata kesedihannya.


"Kalian pulang saja untuk mengurus pemakaman dan prosesi lainnya, ijinkan Tante dan bibi Anifah akan menemani papa kalian disini sedangkan adik kalian ada bi Minah dan Tante Ratih yang akan mengurus masalah rumah sakit," sarannya Bu Masitah istrinya Pak Luffy adik iparnya Aliah.


"Kami serahkan urusan disini kepada ibu, tolong kabari kami saja apa yang kalian butuhkan, dan ada temannya Kabir putraku yang akan bisa membantu kalian, Ardian Putra dan Hakim Rahman yang akan setia melayani apapun keperluan kalian mereka akan standby menemani kalian," ujarnya Bu Hanin.


"Kalau gitu kami pamit Tante, kasihan Mama kalau tidak secepatnya diurus pemakamannya," imbuhnya Kabir yang segera berpamitan kepada semua orang yang akan tetap berjaga di rumah sakit.


"Senja, Jingga kalian harus kuat nak, ingatlah kalian tidak sendiri ada kami semua yang selalu bersamamu," ucap Bu Ratih.

__ADS_1


Senja dan Jingga hanya terdiam mendengarkan perkataannya semua orang, tatapan mata mereka kosong seolah tak ada tanda-tanda kehidupan di dalamnya.


Kematian selalu menyisakan luka yang mendalam bagi setiap orang. Terlebih saat keluarga atau orang-orang terdekat telah menemui ajalnya, tentu hal ini menjadi peristiwa yang sangat memilukan. Sebagai manusia yang masih diberi kesempatan untuk hidup, sudah seharusnya selalu mendoakan orang yang sudah meninggal agar diberi tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Kuasa.


__ADS_2