
"Ini sangat buruk! Kamu duduk tenang dan nyaman saja sambil menunggu akhir dari kisah hidupmu pak Gamaliel Audrey June," sarkasnya Raisa Andriani.
Raisa mengucapkan perkataan yang membuat kedua orang itu nyalinya semakin menciut dan ketakutan.
"Habislah kita kalau seperti ini! Ini semua gara-gara kamu yang tidak mau menahan diri untuk berbulan madu ke Inggris," kesalnya Gamal.
"Bukannya kamu sendiri yang meminta berbulan madu ke London katanya kamu sekalian bertemu dengan Jihan yang berulang tahun malam ini," sanggah Adina.
Keduanya saling menyalahkan satu sama lainnya dan menjadi pusat perhatian dari orang-orang yang kebetulan menjadi pengunjung dan kebetulan melewati tempat tersebut.
Jihan segera menghubungi nomor ponselnya asisten pribadinya kakeknya untuk segera memecat Gamaliel dan sekretarisnya yang bernama Adina Anulika Maheswari.
Tidak tanggung-tanggung Jihan bahkan meminta sang asisten pribadi untuk memasukkan ke daftar hitam kedua nama itu.
"Aku ingin kalian berdua mendapatkan balasan yang setimpal dengan apa yang telah kalian lakukan padaku," geramnya Jihan dengan melirik sekilas ke arah kedua pasangan suami istri itu.
Berselang beberapa menit kemudian, Jihan dan Raisa sudah dimake up cantik dan memakai pakaian seragam mereka yang sungguh cantik dan elegan terpasang di tubuhnya yang ramping itu.
Semua orang yang sudah datang megambil tempat duduk karena semua sudah siap dan penghulu pun sudah datang.
"Bagaimana pak Alief apakah sudah siap?" Tanyanya Pak penghulu yang bernama pak Satria.
"Siap pak Satria saya sudah siap mental dan lahir batin," ucapnya Alif.
"Saya nikahkan dan kawinkan engkau Alief Naufal Azhar bin Hakim Rahman dengan ananda Azminah binti Ahmed Anderson dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan perhiasan emas 24 karat seberat 30 gram dibayar tunai," ucapnya Pak Satria penghulu asal Indonesia yang sudah lama menetap di Inggris.
"Saya terima nikah dan kawinnya Asminah Binti Ahmed Anderson dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!" Ucap Alif dengan penuh ketegasan dalam sekali tarikan nafas saja mengucapkan ikrar janji suci pernikahan.
"Bagaimana para saksi, apakah sah?" Tanyanya pak penghulu.
"Sah!" Teriak semuanya.
"Sukur alhamdulilah akhirnya Alif putraku menikah juga," Icha Khaerunisa berucap.
__ADS_1
Setelah acara akad nikah, berselang beberapa menit kemudian acara pun kembali dilanjutkan dengan acara pertunangan antara Ocean Skala Pratama dengan calon istrinya Giska Inayah.
Semua orang kembali terharu bahagia karena mendapatkan keberkahan dalam sehari. Senja dan Jingga saling berpelukkan setelah acara tukar cincin tunangan yang dilakukan oleh adik semata wayangnya mereka selesai.
"Mama,adikku sudah bertunangan, insha Allah awal tahun depan mereka akan menikah di tanah air.," Cicitnya Jingga seraya menyeka air matanya yang terus menerus membanjiri wajahnya itu.
"Papa, putramu sudah gede Pah. Dan hari ini dia telah bertunangan dengan putrinya sahabatku sendiri yaitu Naysila dengan Ardian Putra. Papa dan mamah pasti mengenal mereka kan," sahutnya Senja yang mengelap air matanya yang terus menerus menetes membasahi pipinya itu.
Semua orang mengucap syukur alhamdulilah atas pernikahan dan pertunangan antara keempat pasangan tersebut. Acara kembali dilanjutkan dengan acara makan bersama sambil bersantai.
Hingga kedatangan perempuan yang sangat cantik dengan gaun pesta yang dipakainya mampu membuat semua mata tertuju padanya. Di sampingnya diapit oleh dua orang pemuda ganteng rupawan.
Ketiga orang itu membuat ketiga cucu-cucunya Bu Hanin Mazaya dan Pak Raka membulatkan matanya saking terkejutnya melihat ketiganya.
"Shaita Thanaa," beonya Gibran yang terpukau dan takjub melihat kedatangan perempuan yang diam-diam disukainya itu.
"Kenapa Ansel Ibra juga datang ke sini bukannya aku tak mengundangnya," cicitnya Delila.
Daniah menepuk jidatnya melihat pemuda yang kemarin ditolak mentah-mentah cintanya olehnya.
Gibran dan yang lainnya termasuk Iqbal Maulana, Asril menjemput ketiganya.
"Selamat datang bro di rumah kami yang sederhana ini," ucapnya Iqbal yang memeluk temannya yang menjadi korban cintanya Daniah si gadis cute dan tomboi itu.
"Makasih banyak sudah mengundang kami untuk datang, kami sangat tersanjung walaupun ada orang-orang yang menentang kesayanganku," ucapnya Abris sambil menatap intens ke arah Daniah.
"Hahaha, tidak usah kau gubris larangannya memang seperti itu kalau tidak bisa membedakan antara cinta dan benci," imbuhnya Iqbal lagi.
"Aku juga tidak mendapatkan undangan spesial dari adikmu Gibran sebenarnya aku sangat berharap besar untuk Ahksan diundang oleh nya, tapi mau diapa dia mungkin malu-malu kucing untuk melakukannya," cercanya Ansel dengan tatapan matanya terus terarah ke Delilah.
"Ish amit-amit aku ngundang kamu, teman bukan, lebih-lebih pacar kagak minat!" Cibirnya Delila yang sebenarnya menutupi kenyataan yang ada dalam hatinya.
"Maaf aku tidak sempat jemput kamu, aku sangat sibuk soalnya," sesalnya Gibran di hadapan Shaita.
__ADS_1
"Enggak apa-apa kok bang,kan ada kedua sepupuku yang bisa aku temani ke sini jadi ndak perlu nyesel gitu juga," sahutnya Shaita.
Ansel yang mendengar perkataan dari Delila segera berjalan ke arah gadis yang rencananya hari ini akan ditembak mengatakan cinta di depan langsung orang banyak.
Ansel berlutut di hadapan kedua orang tuanya Delila yaitu Guntur Aswin Nasution dengan Jingga Aurora Ainah Zain. Abryzan pun mengikuti apa yang dilakukan oleh Ansel sepupunya itu.
"Kami meminta restu kepada uncle dan Aunty untuk menjadi kekasih sekaligus calon suaminya Delila Najida dan Dania Samara," ucap keduanya yang seperti sangat kompak karena berbicara secara bersamaan.
Semua perhatian tamu undangan tertuju pada aksi nekad kedua pemuda itu. Gibran,Asril dibuat terkejut dengan pernyataan dari kedua sahabatnya di kampus.
Daliah dan Delila saking malunya dibuat oleh kedua orang itu sehingga ia hendak kabur dari sana.
"Dania, Delila kalian mau kemana Nak?" Tanya pak Raka Bumi kakeknya.
Daliah dan Delila spontan menghentikan langkahnya karena mendengar suara bariton dari kakeknya.
"Ka-mi mau kembali ke kamar Kek," balasnya Daliah.
"Aku mau ambil makanan kek," jawabnya Delila yang berkelik.
"Kalian berdua tidak boleh ada yang meninggalkan ruangan ini sebelum kalian menjawab pertanyaan dari keduanya pemuda yang begitu nekat dan berani menyatakan cintanya di depan umum!" Tegasnya Pak Raka.
"Tapi,apa kualifikasi kalian sehingga berani mengatakan cinta kepada kedua putri kembarku?" Guntur mulai ikut angkat bicara.
Ansel dan Abrisam berdiri dari posisi berlututnya itu dan tersenyum simpul," kami layak menjadi menantunya Tuan Besar Guntur."
"Kami mungkin hanya pemuda dari kalangan biasa saja tidak sebanding dengan Pak Guntur dan pak Kabir. Tapi hati kami seluas samudera, setinggi puncak Himalaya dan sedalam lautan insya Allah kami bisa bahagiain Daliah dan Delila," ucapnya Ansel.
"Benar sekali Pak Guntur kami hanya mempunyai kedua orang tua yang bukan dari keturunan orang kaya tapi, kedua orang tua kami selalu menanamkan nilai-nilai moral dalam kehidupan kami sehingga kami mampu membahagiakan perempuan yang kami cintai dengan kedua tangan kami, aku hanya meminta kepada kalian untuk merestui niat kami untuk menjalin hubungan dengan kedua putri kembar kalian dan insya Allah tahun depan kami langsung akan melamar dan menikahi mereka," jelasnya Abrisam dengan menangkupkan kedua tangannya di depan dadanya itu.
Raka menatap intens anak sulungnya itu dan meminta untuk menjawab segera permintaan dua pemuda yang cukup berani.
Pak Raka menarik nafasnya dalam-dalam lalu menghembuskan nafasnya dengan cukup keras dan menatap ke arah istrinya Jingga.
__ADS_1
"Bagaimana istriku, apa kamu setuju mereka menikahi kedua putri kita?" Tanyanya Guntur menatap ke arah Jingga.