Belum Berakhir

Belum Berakhir
Bab. 196


__ADS_3

Senja berjalan ke arah dalam kamarnya setelah menidurkan ketiga buah hatinya dengan memberikan asi eksklusif.


Senja membuka pintu kamarnya dengan sangat hati-hati karena tidak ingin menganggu aktifitas suaminya itu.


Senja celingak-celinguk mencari keberadaan suaminya, karena dia tidak mendapati keberadaan suaminya. Senja sedikit meringis kesakitan, ketika hendak membuka bajunya, karena tubuhnya dirasanya cukup lengket.


Augh sakit," rintihnya Senja.


Kabir yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi melihat apa yang dilakukan oleh istrinya dan tidak langsung mendengarkan keluhan dan rintihannya Senja.


Kabir mempercepat langkahnya ke arah Senja, dia tidak ingin terjadi sesuatu pada istrinya itu.


"Hey! Hati-hati, kalau kamu butuh sesuatu atau apapun itu, kamu cukup ngomong sama Abang, jangan bertindak bodoh dengan memaksakan diri kamu sendiri, kan sakitnya jadinya," gerutunya Kabir yang membantu Senja melepas pakaiannya itu.


"Ndak apa-apa kok bang, insha Allah aku masih bisa melakukannya sendiri," sanggahnya Senja yang memang tipikal perempuan yang tidak mudah meminta tolong kepada orang lain termasuk suaminya.


"Apa kamu ingin bekas jahitannya terlepas dan berdarah! Ingat kamu itu punya tiga baby jadi harus pintar-pintar memanfaatkan waktu dan juga tenaga kamu, kenapa juga meski sungkan meminta tolong kepada suami sendiri," imbuhnya Kabir yang langsung menggendong tubuhnya Senja ke dalam kamar mandi.


Senja awalnya sedikit terkejut hingga kedua tangannya langsung melingkar di lehernya Kabir.


"Aku tidak ingin terjadi sesuatu padamu, jadi apapun yang kamu inginkan kamu meminta tolong saja pada Abang, insya Allah Abang akan selalu ada untuk menyelesaikan dan membantu kamu untuk menyelesaikan kesulitan kamu," ujarnya Kabir sembari mendudukkan Senja ke atas lantai keramik kamar mandinya.


Kabir setiap kali membantu Senja membersihkan sekujur tubuhnya, pasti harus berperang melawan haaas raaat dan keinginannya. Apalagi dalam keadaan Senja yang tidak memakai sehelai benang pun ketika membersihkan seluruh tubuhnya. Hanya bagian bekas operasi sesarnya yang tertutupi oleh kain khusus agar tidak terkena air ketika mandi.


Kabir kembali kesulitan untuk menelan air salivanya sendiri, ketika melihat bentuk bodynya Senja yang putih mulus itu.


Astaughfirullahaladzim aku harus bisa tahan dan kuat agar tidak mudah tergoda dengan kemolekan tubuhnya istriku.


Kabir berulang-ulang kali mengucapkan istighfar dalam hatinya. Pria mana yang akan mampu menahan godaan, jika melihat langsung Senja yang hanya memakai pakaian yang menutupi sebatas perutnya saja yang belum kering akibat jahitan cesarnya.

__ADS_1


Senja yang diam-diam memperhatikan raut wajahnya Kabir berusaha menahan tawanya itu.


Seperti inikah wajah orang yang sedang ingin, tapi mati-matian menahan rasa itu. Astaughfirullahaladzim berarti Abang tersiksa menahannya, padahal baru sekitar sepuluh hari. Masih lama proses pemulihannya.


Kabir yang sedang menunduk sedikit di hadapannya itu,dia segera berinisiatif untuk melayangkan kecupan kilat di pipi kirinya Kabir.


Ummuaach..


Kabir yang diperlakukan seperti itu hanya mampu terdiam tapi, matanya terbelalak hingga melotot saking terkejutnya dengan perlakuan dari istrinya itu.


"Sabar, insya Allah sebulan lagi baru bisa. Semoga saja Abang bisa bertahan hingga aku bisa menjalankan kewajibanku sebagai seorang suami," bisiknya Senja tepat di telinganya Kabir.


Kabir tersenyum penuh arti menanggapi perkataannya Senja," tapi kamu kan bisa bantu Abang setiap kali untuk menuntaskannya, enggak apa-apa kan aku minta padamu sayang untuk membantuku setiap kali aku mau," lirihnya Kabir.


Senja yang mencerna perkataan dari suaminya itu tersenyum simpul," kalau masalah itu Insha Allah bisa asalkan gak banyak gerak, karena takutnya jahitannya terbuka lagi,"


"Alhamdulillah akhirnya aku akan terbebas dari rasa sensara ini, sepuluh hari sudah aku menahannya," tuturnya Kabir saking gembiranya hingga dia jingkrak-jingkrak di dalam kamar mandi.


Senja yang melihat tingkah laku suaminya tersenyum sumringah. Dia tidak menyangka, jika hanya mengiyakan permintaan dari suaminya itu membuat Kabir Kasyafani Triadji kegirangan.


Kabir tak henti-hentinya menghujani ciuman wajahnya Senja. Hingga pipinya Senja terasa kaku akibat ulahnya Kabir.


"Aku semakin mencintaimu istriku Senja Starla Airen, aku berharap kebahagiaan dan kebersamaan kita ini berlangsung lebih lama, aku meminta kepada Allah SWT agar memberikan usia yang cukup panjang untuk kita berdua sehingga kita bisa melihat anak-anak besar hingga memiliki cucu," ucapnya Kabir yang memanjatkan harapan dan doa setulus hatinya.


Senja mengalungkan tangannya ke lehernya Kabir ketika digendong,"Amin ya rabbal alamin, semoga saja doa-doa dan harapannya Abang diijabah oleh Allah SWT,"


Kehidupan rumah tangga kedua kembar yaitu Senja dan Jingga berjalan adem ayem saja. Seperti layaknya rumah tangga pada umumnya terkadang suka terkadang duka datang.


Tujuh bulan kemudian...

__ADS_1


Pertumbuhan dan perkembangan ketiga bayi kembarnya Senja dan Kabir sangat cepat dibandingkan dengan bayi pada umumnya. seperti diusianya yang baru tujuh bulan sudah berjalan.


Semua orang semakin bahagia melihat kelucuan dan tingkah menggemaskan bayi kembar Gibran, Jinan dan Jihan membawa kebahagiaan sendiri.


Jingga merasa sedikit sedih, ketika sudah sering kali dia melakukan tes kehamilan tapi hasilnya tetap garis satu.


Jingga terduduk lesu di atas closed duduknya dengan terus memandangi hasil testpack yang baru saja dilakukan pengecekan terhadap alat tersebut. Air matanya luruh seketika itu, ketika teringat perkataan dari mama mertuanya.


"Jingga semoga kamu segera hamil dan memberikan kami cucu, karena Vania Larissa adiknya Guntur katanya setelah diusg calon anaknya perempuan, jadi kami berharap padamu," ucapnya Bu Siska waktu itu.


Ya Allah kami menikah sudah tujuh bulan lebih,tapi sampai detik ini saya belum hamil juga.


Jingga mengusap air matanya menggunakan ujung jarinya itu yang terus membanjiri wajahnya. Walau pun sebenarnya, Guntur sama sekali tidak pernah mempermasalahkan hal ini,tapi sebagai seorang istri aku merasa tidak sempurna sebagai seorang perempuan, aku yakin Abang Guntur pasti merasakan hal yang sama.


Jingga menengadahkan kepalanya ke arah atas, ia berusaha untuk selalu tegar dan kuat Du depan orang-orang, tapi sebenarnya hatinya sangat rapuh.


Apalagi di dalam keluarga besar papinya Guntur sangat menginginkan keturunan sebagai pewaris Nasution yaitu Pak Raka Bumi. Terutama Maminya Guntur yang paling ngotot untuk mendapatkan cucu, terutama cucu laki-laki.


Berselang beberapa menit kemudian, Jingga menuruni tangga karena dia cukup lapar dan ingin makan gorengan.


Hemph, sore-sore gini kok aku pengen banget makan tahu isi dan bakwan yah?


Jingga menuruni tangga satu persatu hingga telinganya mendengar suara teriakan seseorang.


"Jingga to-long Ma-ma!" teriaknya Aliya Azizah yang berbicara tergagap menahan rasa sakitnya.


Jingga menajamkan pendengarannya itu dan setelah melihat siapa yang berteriak dia pun mempercepat langkahnya menuju sumber suara.


"Mama! apa yang terjadi dengan Mama!?" jeritnya Aliyah yang terkejut melihat kondisi mamanya yang terduduk di atas lantai keramik dengan banyak darah yang sudah mengalir disela paha dan kakinya.

__ADS_1


__ADS_2