
Jihan segera bangkit dari posisi duduknya, karena tiba-tiba ada orang yang membantunya untuk berdiri.
Uluran tangan itu segera disambutnya dengan senyuman manis karena bersyukur masih ada yang peduli terhadapnya.
"Thanks, kamu sudah bantuin aku," ucapnya Jihan dalam bahasa Inggris.
"Tidak perlu berterima kasih, aku hanya mengikuti hati nuraniku saja," ucap pemuda itu yang ditaksir usianya lebih tua sedikit dari Jihan.
Aku harus menolong kamu karena gara-gara ulahku sehingga kamu terjatuh. Tapi, aku berharap semoga dengan membuka masker aku ini kamu tidak mengenaliku. Jika aku lah penyebab utamanya sehingga kau terjatuh.
Jihan mengibaskan ujung pakaiannya itu agar debu atau kotoran yang menempel bisa terbuang.
"Makasih banyak kalau begitu, aku bersyukur karena di negara besar dan modern ini Alhamdulillah masih ada orang yang peduli dengan sesama," imbuhnya Jihan yang kembali tersenyum.
Ya Allah… Masya Alloh senyumannya begitu menenangkan. Baru kali ini aku melihat senyuman yang sangat indah.
Diam-diam pria itu mengangumi kecantikan alami dan senyuman indahnya Jihan. Hingga pria itu spontan mengulurkan tangannya untuk berjabat dengan Jihan. Entah kenapa dia ingin sekali mengenal Jihan lebih dekat lagi. Pria yang lebih mirip orang timur tengah itu tanpa ragu mengulurkan tangannya ke arah depannya Jihan.
"Perkenalkan namaku Kaizan Al-ayyubi Haitam," ucapnya Kai.
__ADS_1
"Jihan Yuanna Ulli," balasnya Jihan dengan senyuman tentunya.
Kaisan ingin bertanya sesuatu tapi ucapannya tertahan di pangkal tenggorokannya, karena bersamaan dengan bunyi dering ponselnya Jihan.
"Assalamualaikum, hello.. maaf ada sedikit insiden kecil sehingga membuatku tidak cepat pulang," ujarnya Jihan yang menutupi kenyataan yang terjadi.
"Baguslah kalau kamu nggak kenapa-kenapa, cepatlah balik kesini, filmnya sudah mau selesai," ujarnya Giska Inayah yang akhirnya bisa bernafas lega.
"Okay, tunggu aku Shahrukh Khan, i am coming," ucapnya Jihan yang segera cabut dari tempat itu tanpa memperdulikan pemuda yang berdiri mematung di tempatnya semula.
Jihan segera berlari kecil menuju bioskop, hari ini gara-gara ulah dua orang sehingga dia kelewatan banyak film action Jawan yang ingin ditontonnya.
Kai terus memandangi kepergiannya Jihan dengan bibirnya melengkung ke atas melihat punggung gadis muda asal Indonesia itu.
"Baru mau minta nomor teleponnya,dia sudah pergi. Jihan Yuanna Ulli nama yang sungguh indah dan cantik seperti pemilik namanya," cicitnya Kai.
Nafasnya ngos-ngosan karena berlari cepat, hingga peluh keringat bercucuran membasahi sekujur tubuhnya dan pipinya. Jihan segera duduk kembali di tempat duduknya semula, tapi dia dikejutkan dengan punggung seseorang yang duduk tepat di depannya.
"Astaghfirullahaladzim, bukannya baju kaos dari laki-laki yang aku lihat di dalam toilet memakai pakaian seperti ini dengan warna biru navy, apa jangan-jangan kak Alif Naufal adalah laki-laki yang menghamili kekasihnya yah?" Lirih Jihan.
__ADS_1
Jihan segera menggelengkan kepalanya itu untuk menepis dugaan dan sangkaan yang takutnya salah itu.
"Aku pasti salah orang, baju dengan warna yang serupa di dunia ini banyak kan. Jadi mungkin saja aku saja yang terlalu baper dan sensitif dengan punggung pria itu," cicitnya Jihan.
Gibran yang memperhatikan sedari tadi apa yang diperbuat oleh Jihan mengerutkan keningnya melihat sikap dari adik bontot kembarnya tersebut.
"Jihan, apa yang terjadi padamu dek? Apa kamu baik-baik saja?" Tanya Gibran yang mulai khawatir melihat sikapnya Jihan yang aneh.
Jihan mengarahkan pandangannya ke arah kakak sulungnya itu," alhamdulilah aku baik-baik saja kok kak, aku hanya haus," Jihan mengelak dengan apa yang terjadi padanya barusan.
"Syukurlah kalau kamu Ndak kenapa-kenapa," Gibran mengelus punggung tangan adiknya itu.
Jihan bernafas lega karena apa yang dilakukannya tidak sadari oleh siapapun yang kebetulan bersamanya. Mereka kembali asyik menyaksikan pemutaran perdana film action Jawan yang rilis tahun ini.
Aku yakin ada yang ditutupi oleh Alif dan Jihan. Tapi, aku akan menyelidiki apa yang terjadi pada mereka.
Jinan berpura-pura fokus menatap layar teater tersebut padahal di dalam benaknya terjadi banyak sekali beban pikirannya.
"Jihan semoga Allah SWT kembali mempertemukan kita di pertemuan selanjutnya,"
__ADS_1