Belum Berakhir

Belum Berakhir
Bab. 116. Berita Gembira


__ADS_3

Kabir sangat khawatir melihat kondisi dari istrinya itu, dia tidak menyangka jika dalam sehari dan waktu yang singkat istrinya Senja jatuh pingsan dua kali.


Kabir memangku tubuh istrinya yang masih tidak sadarkan diri lagi. Raut wajahnya yang pucat pasi membuat Jingga yang duduk di jok depan.


Ya Allah apa yang terjadi kepada adikku, aku tidak ingat terjadi sesuatu pada adikku.


Jingga menitikkan air matanya melihat adik keduanya yang pingsan tak berdaya.


"Bang Gun tolong cepat! kemudikan mobilnya, aku takut terjadi sesuatu pada istriku!" Teriaknya Kabir.


Guntur segera mengemudikan mobilnya dengan kecepatan yang cukup tinggi. Dia seperti pembalap jalanan saja. Kabir tak henti-hentinya mengecup punggung tangannya Senja dan sesekali mengusapnya berharap agar istrinya segera bangun.


"Abang tidak akan maafkan diri Abang jika terjadi sesuatu padamu, Abang tidak bisa hidup tanpamu Sen," ucapnya memelas.


Ucapannya Kabir yang terdengar menyayat dan membuat kedua orang yang duduk di jok bagian depan hatinya terenyuh mendengar suara ratapannya Kabir.


Sungguh beruntung Senja menikah dengan pria yang sangat mencintainya. Entah apa yang dirasakan oleh Pak Guntur terhadapku.


Jingga diam-diam melirik dan memperhatikan dengan seksama Pria yang mengemudikan mobilnya dengan kecepatan yang cukup tinggi seperti pembalap formula one saja.


Apa yang menyebabkan sehingga ia begitu begonya melamarku menjadi istrinya, padahal kami ini sama sekali tidak pacaran apalagi saling mencintai.


Guntur tanpa sengaja menolehkan kepalanya ke arah Jingga, hingga tatapan mereka saling bersirobot dan bertemu satu sama lainnya.


Jingga salah tingkah, karena kedapatan mengamati wajahnya calon suaminya itu dalam diamnya.


Aku yakin kamu sedang memperhatikan aku dan membandingkan aku dengan adik sepupuku. Tapi, aku pastikan padamu aku akan tunjukkan padamu, jika aku akan bertindak seperti Kabir apabila kamu yang berada dalam keadaan seperti ini.


Berselang beberapa menit kemudian, mereka sudah sampai di depan lobi rumah sakit swasta yang cukup terkenal itu. Guntur memarkirkan mobilnya dengan asal agar segera masuk ke dalam mobil dan tidak membuang waktu lebih lama lagi.


"Dokter! Tolong istriku!" Jeritnya Kabir yang kembali menggendong tubuhnya Senja.


Dua orang dokter yang kebetulan berada di sekitar lobi rumah sakit tersebut segera membantu Kabir.

__ADS_1


"Apa yang terjadi dengan istri bapak?" Tanyanya seorang dokter perempuan berhijab yang bername tag Maryam Nurhaliza.


"Cepat ke sini bawa bangkarnya!" Perintah seorang dokter perempuan yang juga menutup kepalanya dengan jilbab pashmina sifon motif bunga mawar menutupi mahkota kepalanya dengan sangat indah.


Jingga dan Guntur berjalan cepat mengekor di belakang ketiga orang yang berjalan terburu-buru di depannya.


"Naikkan tubuhnya istri Anda Pak," pintanya perempuan cantik yang memakai jas almamater kebesarannya yang berwarna putih itu.


Sekitar empat orang perawat segera berjalan terburu-buru ke arah seorang dokter perempuan yang membantu Kabir mendorong bangkar tersebut yang diatasnya Senja yang masih tidak siuman.


"Apa yang terjadi dengan pasien ini dokter Shaira Innira?" Tanyanya perawat pria.


Sahira menatap intens ke arah perawat tersebut, "Nanti bertanyanya, karena nyawa pasien lebih penting dari sebuah pertanyaan," tegasnya seorang dokter perempuan yang disapa Shaira.


Semua semakin mempercepat langkah kakinya menuju ruangan ugd. Senja masih dalam keadaan pingsan, sedangkan kedua dokter baru itu segera menjalankan prosedur pemeriksaan pertolongan pertama. Walau salah satunya bukan dokter kandungan, melainkan dokter spesialis anak. Tetapi karena jam jaga mereka sehingga segera bertindak.


"Mohon kalian nunggunya di luar saja, insya Allah pasien dalam keadaan baik-baik saja," ucapnya seorang suster yang menyuruh ketiga orang itu segera keluar.


"Tapi, Sus saya sangat khawatir dengan kondisi istriku," tukasnya Kabir.


"Tidak apa-apa khusus untuk suami pasien tinggal di dalam saja," ujarnya dokter Shaira.


"Terima kasih Dok," balasnya Kabir.


Kabir terus menggenggam tangannya Senja dan tidak berhenti untuk berdoa dan meminta kebaikan untuk istrinya itu. Kabir dengan teliti memperhatikan apa yang dilakukan oleh kedua dokter yang memeriksa kondisinya Senja.


"Denyut nadi, denyut jantung dan tekanan darah semuanya stabil dokter Maryam," ucap dokter Shaira.


"Pasien sama sekali tidak apa-apa hanya…" ucapannya dokter Maryam terpotong karena segera disela oleh Kabir.


"Hanya apa dokter!? Katakan padaku apa yang terjadi pada istriku?" Tanyanya Kabir sangat ketakutan jika terjadi sesuatu pada istrinya.


Shaira dan Maryam Nurhaliza saling bertatapan satu sama lainnya, mereka tersenyum simpul menanggapi sikapnya Kabir.

__ADS_1


"Bapak tenang saja, insha Allah istrinya tidak kenapa-kenapa kok, jadi tidak perlu seperti ini," tampiknya Maryam yang berusaha untuk menenangkan Kabir.


"Bagaimana saya tidak khawatir dan takut dengan keadaan istriku yang sampai sekarang belum sadar!" Ucapnya Kabir yang sedikit meninggikan suaranya itu.


Shaira karena sudah sering kali menghadapi kelurga pasien yang seperti ini sehingga ia cukup santai.


"Sebentar lagi istrinya akan sadar Pak jadi tidak perlu khawatir, malahan bapak seharusnya bahagia jika mendengar perkataan kami nantinya," tuturnya Shaira yang menimpali percakapan antara Maryam calon kakak iparnya dengan Kabir.


Jingga, Guntur dan Kabir saling bertatapan satu sama lainnya, karena baru masuk ke dalam ugd tersebut dan langsung mendengar perkataan yang tidak dipahami oleh mereka.


"Maksudnya dokter apa, dan sebenarnya penyakit dari adikku ini apa?" Tanya Jingga.


"Adik Anda tidak memiliki penyakit apapun dan malahan Anda akan bahagia mendengar perkataan kami, yaitu pasien bernama Senja Starla Airen ini tidak sakit apa-apa melainkan selamat kalian akan mendapatkan keponakan karena bu Senja telah hamil," jelasnya Maryam.


Kabir melototkan matanya saking terkejutnya karena mendengar berita jika istrinya hamil sampai-sampai memegangi kedua pundaknya Shaira saking bahagianya.


"Dokter apa benar istriku hamil?" Tanyanya Kabir dengan penuh semangat dan antusias ingin mengetahui kebenarannya apa tidak salah dengar atau hanya salah sangka saja.


Shaira menganggukkan kepalanya tanda pertanyaan dari Kabir benar adanya.


"Istri bapak Kabir hamil sesuai dengan prediksi kami sudah jalan dua bulan, selamat yah Pak," ucap Maryam sambil mengikuti tangannya untuk berjabat dengan Kabir.


"Yes!! Alhamdulillah akhirnya aku akan menjadi seorang Daddy," teriak Kabir saking terlalu gembira dan happynya mengetahui istrinya telah mengandung anak pertamanya.


Kabir melompat tinggi saking bahagianya mendengar langsung perkataan dari dokter cantik itu.


Shaira, Maryam, Guntur dan Jingga saling bertatapan satu sama lain dan tersenyum bahagia melihat rasa gembiranya Kabir yang tidak bisa disembunyikannya.


Semua ikut bahagia dengan kebahagiaan yang dirasakan oleh Kabir. Dia segera menghubungi nomor ponsel anggota keluarganya, terutama bundanya Bu Hanin Mazaya.


Nenek, papanya juga segera diteleponnya. Mereka yang melihat kebahagiaan dari Kabir turut bahagia. Kabir segera menghubungi nomor hpnya asisten pribadinya.


"Tolong bagi-bagikan bonus ke semua karyawan yang bekerja di perusahaan baik yang ada di dalam negeri maupun luar negeri, jangan sampai ada yang terlewat, sekali bulan gajian dan sampaikan kepada mereka untuk mendoakan agar calon bayiku dan istriku sehat selalu hingga lahiran," ucap Kabir yang terlalu bahagia dan berbagi bahagia dengan melalui berbagi berkah untuk orang lain.

__ADS_1


"Siap Tuan Muda Kabir perintah tuan muda akan saya segera laksanakan," balasnya Anton.


__ADS_2