
Jingga memegangi perutnya yang sedari tadi tertawa hingga menyebabkan perutnya kram.
"Hahaha, ya Allah ini montir dari mana sih sampai-sampai wajahnya belepotan segala baru kerja mesin mobil seperti ini wajahnya hancur penuh dengan oli bekas," cibirnya Jingga yang bersandar di sekitar kap mobilnya Guntur.
Guntur segera berjalan ke arah kaca spion mobilnya sendiri dan memperhatikan wajahnya yang ada di balik kaca spion itu. Setelah melihat langsung wajahnya diluar dugaan,ia juga segera tertawa terbahak-bahak melihat wajahnya yang sulit dikenalnya.
"Hahahaha! Ya Allah kenapa wajahku seperti ini pantesan dia menertawaiku, aku kira dia hanya tertawa tanpa sebab seperti orang yang tidak waras ternyata ya Allah aku pun enggan lihat tampangku seperti ini,"
Jingga berjalan ke arah Guntur," bagaimana apa kamu sudah melihat wajah ganteng Jhi Chang Wook yang terkena oli?" Tanyanya Jingga yang sudah berdiri di samping kirinya Guntur.
"Jhi Chang Wook! Berarti kamu menganggap aku seperti artis oppa Korea Selatan yah?" Ucapnya Guntur yang sudah berbalik ke arah Jingga.
Jingga kembali tersenyum simpul," emang seperti itu wajahnya Bapak Guntur, kalau enggak percaya tanya saja siapapun yang lewati jalan ini," imbuhnya Guntur.
Guntur spontan tersenyum melihat senyumannya Jingga, suasana dijalan yang mereka lalui cukup ramai siang hari itu. Jingga entah apa yang dirasakannya hingga sangat santai dan enjoy bertemu dengan Guntur. Seolah pria yang berdiri di depannya adalah Abdil Pramudya.
"Kalau kamu menganggap aku seperti itu kenapa kamu…," ucapnya Guntur sengaja dihentikan sesaat karena ia memajukan langkahnya ke arah Jingga.
Hingga kakinya Jingga reflek memundurkan langkahnya juga.
"Kenapa Pak Guntur tidak melanjutkan perkataannya malah tersenyum menyeringai melihatku dan bapak juga kenapa semakin maju?"
Hingga langkahnya terhenti karena tubuhnya terantuk ke kap mobil, tangannya spontan mendorong tubuhnya Guntur agar tidak semakin maju.
"Kalau gitu gimana kalau kamu menikah denganku saja," ujarnya Guntur yang senyuman penuh arti terus menghiasi wajahnya itu.
"Apa menikah!? Hahah Pak Guntur yang terhormat sepertinya Anda mungkin lagi capek jadinya salah bicara," ucapnya Jingga.
Guntur segera menarik tubuhnya Jingga hingga mereka saling berhimpitan satu sama lainnya.
"Kalau aku serius apa kamu bersedia menikah denganku?" Guntur memegangi punggungnya Jingga agar mereka berdekatan lebih dekat lagi.
Jingga yang terdesak karena wajah mereka sangat dekat, kedua matanya terbelalak melihat wajah mereka yang sangat dekat itu.
Ya Allah ini pertama kalinya saya berdekatan dengan seorang pria dengan mas Abdil pun tidak pernah seperti ini.
__ADS_1
Tapi kenapa aku terasa nyaman melihatnya seperti ini, apalagi kedua bola matanya ini membuatku tenggelam dalam lautan dunia yang diciptakan olehnya.
Aku seolah melihat di dalam sana banyak impian yang meski aku perjuangkan dan raih bersamanya.
Jingga segera mendorong sekuat tenaga badannya Guntur, karena tubuhnya Guntur yang tidak sigap sehingga ia terdorong tapi, sebelum ia terdorong ia menarik tangannya Jingga dengan kuat pula.
Jingga ingin berpegangan pada jendela mobil tapi, sudah terlambat sehingga tubuhnya pun ikut tertarik ke arahnya Guntur. Tubuh mereka bersamaan terjatuh, Guntur tersenyum bukannya khawatir atau takut bukannya pasrah dengan nasibnya yang jatuh juga. Tapi, ia pasti ketiban durian dua buah jika terjatuh.
"Aahh!!" Jeritnya Jingga.
Bruk!!!
Tubuh keduanya ambruk ke atas pinggiran jalan tersebut. Untungnya ada sedikit rumput yang tumbuh di sekitar aspal sehingga punggungnya Guntur tidak terlalu sakit.
Jingga menutup matanya saking terkejutnya dengan tubuhnya yang ambruk ke atas tepat di tubuhnya Guntur.
"Pak Guntur tidak perlu meluk seperti ini juga, sudah selesai jatuhnya kok jadi tangannya diturunkan aku kesulitan bernafas nih," gerutunya Jingga.
"Jingga apa yang terjadi padamu!?" Teriaknya Latifa yang langkahnya terhenti setelah melihat Jingga tepat berada di atas tubuhnya pria yang sempat dilihatnya di dalam pemakaman tadi pagi.
"Ya Allah apa yang kalian lakukan! Ini di jalan loh banyak mobil dan kendaraan yang lewat sini," dengusnya Latifa.
Jingga segera bangkit dari posisi baringnya itu dengan tangannya bertumpu pada rumput.
"Ini… apa yang kalian lihat tidak seperti yang sebenarnya terjadi, saya ditarik…" ucapannya Jingga terpotong karena Guntur segera menyela perkataannya.
"Kami lagi mengetes rumput dan aspal apa tebal atau enggak sebenarnya," kilahnya Guntur.
"Hahaha, kamu lucu yah Pak, apa enggak ada alasan lain yang paling bagus dari apa yang bapak katakan," tampiknya Latifa tersenyum melihat wajah keduanya yang memerah itu.
"Pak Guntur ini kan yang nerima donor kornea matanya Abang Abdil Pramudya, apa kedekatan mereka karena matanya itu?" Abdul memperhatikan dengan seksama gerak geriknya Jingga dan Guntur.
"Sudahlah lupakan saja apa yang telah kami berdua lihat, karena percuma saja kita bertanya kepada mereka apa yang telah terjadi disini,tapi ngomong-ngomong Pak Guntur kenapa bisa berada disini bukannya tadi Anda lebih duluan pulangnya dari pada kami, kenapa bisa berada disini dengan wajah menghitam seperti manusia oli saja," tuturnya Latifah.
Jingga segera berdiri dari posisinya setelah itu barulah Guntur berdiri sambil membersihkan pakaian mereka yang terkena dengan noda tanah dan debu.
__ADS_1
"Apa ada diantara kalian yang mampu memperbaiki mesin mobil? Saya sudah mencari tahu bengkel terdekat dari sini,tapi sesuai dengan GPS dan orang-orang yang melewati jalan ini katanya ada bengkel dari dekat sini sekitar tiga kilometer," jelasnya Guntur.
Latifa dan Abdul mengarahkan pandangannya ke arah Jingga, Guntur pun mengikuti arah pandangan keduanya yang arah tatapannya langsung ke Jingga.
"Kenapa kalian menatap ke dia?" Tanyanya Guntur mengerutkan keningnya melihat sikap kedua orang itu.
"Solusi dari permasalahan yang Anda hadapi adalah jawabannya ada di tangan gadis yang tadinya terjatuh bersama Anda Pak Guntur," ujarnya Abdul.
Guntur ingin berbicara menimpali percakapannya Abdul,tapi tiba-tiba ponselnya berdering di atas dasboard mobilnya.
"Maaf saya angkat telpon dulu," pamitnya Guntur yang segera masuk ke dalam mobilnya itu.
Jingga menatap intens ke arah Abdul," ngomong-ngomong kenapa kalian mengetahui namanya pria ini? Apa kalian sudah lama saling kenal?" Tanyanya Jingga yang cukup penasaran.
"Kami mengenalnya karena ia terkait dan terhubung dengan Abang Abdil Pramudya," jawab Abdul.
"Maksudnya terhubung gimana? Apa mas Abdil saudara dengannya? Kok aku kagak pernah melihatnya sebelumnya dan juga mas Abdil gak pernah ngomong sama saya kalau punya keluarga seperti dia," imbuhnya Jingga yang keheranan kenapa dan apa alasannya kenapa Abdul berbicara seperti itu.
"Itu karena dia adalah orang yang mendo…" ucapannya Latifa terhenti karena Guntur sudah keluar dari dalam mobilnya.
"Bagaimana apa ada yang bisa bantuin saya? Aku mohon karena aku harus tepat waktu menghadiri pesta perjamuan acara resepsi adik sepupuku dengan istrinya itu," mohonnya Guntur sembari menangkupkan kedua tangannya ke arah depan dadanya.
"Kalau masalah itu gampang pak Guntur, saya bisa atasi kok," ucap Jingga yang menyahut.
Guntur menatap tidak percaya dengan perkataan dari Abdullah dan Latifah.
"Masa sih gadis berhijab seperti dia mampu melakukannya? Aku tidak percaya jika dia sanggup menyalakan kembali mesin mobilku ini," sanggahnya Guntur.
"Kalau dia bisa menyalakan mesin mobilnya bapak seperti semula gimana apa yang kami dapatkan dan imbalannya apa?" Tanyanya Latifah sambil memainkan ujung rambutnya itu.
"Saya akan memberikan berupa hadiah yaitu voucher makan kalian bertiga selama tiga bulan, yaitu makan siang hingga makan malam di salah satu resto terkenal dan bintang lima yang ada di Jakarta, gimana menurut kalia" Guntur sesekali memperhatikan raut wajah Jingga yang begitu tenangnya.
"Baiklah kami setuju, asalkan Anda tidak berubah pikiran dan janjinya ditepati," pungkasnya Jingga yang segera menyingsingkan lengan panjang bajunya dan mengikat ujung hijabnya agar nantinya tidak kotor.
"Hemm kalau diperhatikan dilihat dari gayanya sih sangat menyakinkan tapi, mana ada gadis muda belia dengan jurusan yang tidak mungkin otomotif pasti akan gagal, kalau gitu patut ditunggu dan disaksikan gayanya,"
__ADS_1
"Abdul tolong ambilkan saya tulbox dari dalam bagasi mobil, Latifah botol minuman," perintah Jingga yang segera bekerja.