
Aliyah dan Senja saling menyahut satu sama lainnya untuk melihat reaksinya Jingga sang pengantin baru. Sedangkan Jingga hanya tersenyum tipis menanggapi semua perkataan dari adik dan mamanya.
"Suamimu mungkin terlalu capek Nak, kasihan dia begadang semalaman jadi tidak perlu repot-repot untuk membangunkan nak Guntur," ucapnya Bu Sri Indarwati.
"Iya benar sekali apa yang dikatakan oleh nenekmu,kamu makan saja dulu setelah kamu makan baru kamu antarkan makanan untuk nak Guntur," usulnya Leo Carlando.
Baru saja Jingga hendak menanggapi perkataannya dari nenek dan papanya, Guntur dan Kabir berjalan menuruni tangga sambil sekali-sekali bercanda.
"Gimana rasanya sudah menjadi seorang suami?" Tanyanya Kabir yang menautkan kedua alisnya melihat sikapnya Guntur yang tidak seperti biasanya.
Guntur menatap sekilas ke arah Kabir adik sepupunya itu," Alhamdulillah rasanya sangat berbeda dengan tidur seorang diri dibandingkan dengan ditemani oleh perempuan cantik," tukasnya Guntur yang memperlihatkan wajahnya yang berseri-seri semu.
"Kamu sih selalu nolak untuk menikah cepat, pasti kamu nyesal kan lambat nikah," terkanya Kabir.
"Saya kan belum ketemu dengan Jingga jadi nolak mulu dan untungnya saya menikah dengan Jingga dibandingkan dengan Natalia perempuan luknut dan ****** itu!" Cibirnya Guntur.
"Selamat menjadi seorang suami semoga saja istrimu tidak seperti Senja yang sering ngambekan apalagi jika tidak sesuai dengan keinginannya, tapi itu disaat dia hamil saja dan di atas ranjang istriku sungguh buat aku mabuk kepayang," candanya Kabir.
Guntur tersenyum simpul mendengar perkataan dari Kabir, benar juga yang dikatakan oleh Kabir, memang menikahi wanita yang kita cintai itu bahagianya tiada tara dan bandingannya, hanya saja kita akan menjalani kehidupan dengan perempuan yang benar-benar berbeda segalanya dengan kepribadian kita selama ini, semoga saja aku bisa menghadapi ujian cinta rumah tangga kami dengan penuh kebahagiaan dan keberkahan hidup.
Semua orang sudah duduk saling berhadapan di depan meja makan. Semuanya saling memuji masakannya sendiri.
Guntur cepat akrab dengan kedua mertuanya itu sehingga semakin membuat dia betah berlama-lama tinggal dalam seatap dengan kedua mertua dan iparnya.
Tiga bulan kemudian…
Hari ini Senja mengganti pakaiannya dengan pakaian olahraga yang cukup longgar di tubuhnya, bertujuan agar perutnya leluasa bergerak walau dalam keadaan hamil besar.
Sepertinya pakaian ini sangat cocok aku pakai, cantik dan warnanya lembut. Senja segera memakai pakaiannya. Kebetulan hari ini adalah hari minggu, sehingga dia memiliki waktu senggang berdua dengan suaminya.
__ADS_1
Kabir yang baru saja keluar dari kamar mandi mencari keberadaan Senja istrinya itu.
"Sen! Istriku Kamu dimana?" Teriaknya Kabir yang meninggikan suaranya mencari keberadaan Senja yang tak nampak dipelupuk matanya itu.
Senja segera menyembulkan kepalanya ke arah luar dari celah pintu ruang ganti pakaian. Karena dia baru saja ingin mengganti pakaiannya tapi, belum sempat dikerjakannya, Kabir sudah berteriak mencari keberadaannya.
"Ya Allah Abang Kabir! Kenapa meski berteriak-teriak sih! Aku lagi ganti pakaian!" Balasnya Senja yang tidak mau kalah mengeraskan suaranya itu.
Kabir menggaruk tengkuknya yang tidak gatal itu karena istrinya melototkan matanya ke arahnya saking gemesnya melihat tingkah istrinya jika marah.
"Apa ingin aku bantu gak?" Tanyanya Kabir dengan pertanyaan bernada usilnya.
Senja memutar bola matanya saking jengkelnya mendengar perkataan dari suaminya itu.
"Tidak perlu! Bukannya menyelesaikan pekerjaan malah membuat pekerjaan semakin melebar kemana-mana!" Ketusnya Senja yang dibalas dengan gelak tawa dari Kabir.
Berselang beberapa menit kemudian mereka sudah sampai di taman alun-alun kota. Senja berjalan santai bersama dengan suaminya, seperti kebanyakan yang dilakukan oleh orang-orang lain pada umumnya di sekitar taman tersebut setiap paginya.
"Kamu mau makan bakso gak?" Tanyanya Kabir sambil menunjuk ke arah angkringan warung bakso pojok.
Senja mengikuti arah telunjuknya Kabir," boleh kok suamiku, aku malah pengen banget makan bakso, sudah hampir sebulan enggak makan malah,"
"Kalau gitu kita ke sana yuk," ajaknya Kabir.
Tapi, baru saja hendak berjalan masuk ke dalam warung bakso, tiba-tiba perutnya Senja mules. Sedangkan hari taksiran persalinannya dari dokter itu yaitu hari Selasa sedangkan hari ini adalah hari minggu.
Senja memegangi puncak perutnya yang buncit," augh aahh sakit! Perutku mules banget Bang!" Teriaknya Senja yang menghentikan laju langkahnya.
"Apa yang terjadi padamu sayang, apa jangan-jangan kamu sudah akan melahirkan?" Tebaknya Kabir.
__ADS_1
"Sepertinya istrinya akan melahirkan itu mas, istriku juga berteriak kesakitan ketika akan melahirkan," ucapnya kang bakso.
"Iya Tuan cepat bawa istrinya ke rumah sakit terdekat sebelum terlambat!" Pintanya seorang ibu-ibu yang berjalan ke arah mereka berdua.
Tanpa ba bi bu lagi, Kabir segera menggendong ala bridal style istrinya itu. Dia ketakutan melihat raut wajah istrinya yang sudah pucat pasi dan keringat telah bercucuran membasahi pipi dan sekujur tubuhnya itu.
Kabir mempercepat langkahnya menuju ke mobilnya yang untungnya letak mobilnya yang terparkir tidak jauh dari tempat mereka.
Kabir membaringkan tubuhnya Senja ke dalam mobilnya jok belakang dengan sangat hati-hati.
"Kamu sabar sayang, abang akan bawa kamu ke rumah sakit," ucapnya Kabir yang menyempatkan mengecup keningnya Senja dengan penuh kasih sayang.
Kabir melakukan hal tersebut,agar Senja lebih kuat dan tangguh menjalani proses persalinannya itu.
"A-bang sakit!" Teriak Senja yang mengangkat kepalanya ke atas saking sakitn perutnya yang dirasakannya hingga ke punggungnya.
Kabir menolehkan kepalanya ke arah belakang seraya memasangkan sabuk pengaman ke tubuhnya dengan asal, karena terlalu takut dan khawatir melihat kondisi istrinya yang pertama kalinya melihat istrinya kesakitan.
Kabir memasang headset bluetooth ke telinganya karena ingin menelpon bunda, kedua mertuanya dan neneknya Bu Clara.
"Sabar yah sayang kita akan segera ke rumah sakit," bujuknya Kabir yang berharap istrinya bisa bersabar.
Kabir segera melajukan mesin mobilnya itu ke arah jalan protokol. Dia segera gegas menelpon nomor ponselnya Aliya dan bundanya Bu Hanin Mazaya serta Nyonya Clara neneknya.
Hanya butuh beberapa menit saja, mereka sudah sampai di salah satu rumah sakit swasta terbesar yang ada di ibukota Jakarta.
"Perawat! Tolong cepat kesini!" Teriaknya Kabir yang segera membuka pintu mobilnya dan berusaha untuk menggendong tubuhnya Senja yang sudah tidak dalam keadaan yang baik-baik saja.
Beberapa suster segera membawa bangkar ranjang rumah sakit, mereka mendorong dengan kuat bangkar tersebut.
__ADS_1
"Cepat, naikkan tubuh istri Anda Tuan," pintanya salah satu perawat.
Kabir dengan sekuat tenaga mengangkat tubuhnya Senja yang pakaian bawahnya sudah basah.