Belum Berakhir

Belum Berakhir
Bab. 203


__ADS_3

Kedua tubuh putri kembarnya Aliyah dan Leo Carlando tumbang dan tak sadarkan diri. Senja dan Jingga tidak sanggup menerima fakta dan kenyataan tersebut sehingga keduanya kembali pingsan dalam pelukan pasangan hidup masing-masing.


Kabir dan Guntur sigap membantu dan menyelamatkan kedua istri mereka semua. Semua orang kembali ricuh dan heboh dengan pemberitaan yang mengatakan bahwa, Leo Carlando Zain Pratama pun sudah meninggal dunia menyusul istrinya yang terlebih dahulu meninggal dunia.


"Astauhfirullah aladzim Senja, sadarlah Nak!" Teriaknya panik Bu Hanin Mazaya melihat anak menantunya itu dalam keadaan yang tidak baik.


"Kabir bawa secepatnya istrimu ke dalam kamarnya, kamu juga Guntur mereka butuh istirahat," titahnya pak Septa.


"Iya cepatlah Nak, kasihan mereka apalagi menantuku sedang hamil," sahutnya pak Raka Bumi Nasution yang mulai nampak panik melihat istri putra dan keponakannya jatuh tak sadarkan diri.


"Astaughfirullahaladzim ya Allah begitu besar cobaan yang Engkau berikan kepada kami hari ini," lirihnya Bu Clara yang mengikuti kepergian kedua cucu laki-lakinya itu.


"Siska dan Henny bantu mereka untuk mengurus jenasah Bu Aliyah di sini, sedangkan Pak Leo serahkan pada saya," titahnya Pak Abbas Khaer yang cukup kaget melihat kenyataan ini tapi harus berusaha tegar dan kuat.

__ADS_1


Zania Mirzani, Naysila dan Ica segera mengekor di belakang kedua perempuan yang menjadi sahabat mereka.


"Innalilahi wa innailaihi rojiun, pasti Senja dan Jingga tidak sanggup mendengar perkataan dari pak Kabir sehingga mereka seperti ini," Zania mulai berucap.


"Iya, kasihan banget mereka berdua Om Leo telah menyusul kepergian istrinya seolah mereka seperti janjian saja," sahutnya Icha.


"Mereka seakan seperti Romeo and Juliet saja yang cintanya sehidup semati dibawah sampai ke liang kubur," timpalnya Naysila.


Untungnya ketiga sahabatnya itu sudah melahirkan anak-anak mereka sehingga bisa datang melayak dan berkabung di rumah duka.


Bu Sri Indarwati pingsan berselang beberapa menit kemudian, karena tidak sanggup mendapatkan kabar duka pertama anak menantunya dan kedua adalah putra sulungnya itu.


"Mama bangun Ma,kami mohon jangan seperti ini," ratapnya Bu Masitah istrinya Lutfi Khairil.

__ADS_1


"Istriku kamu temani Mama disini, aku akan mencari Hana Aerin menantunya Bu Henny yang kebetulan adalah seorang dokter, mungkin dia sudah memeriksa kondisi dari Senja dan Jingga keponakanku," ucapnya Lutfi adiknya Leo yang sesekali menyeka air matanya itu yang terus menerus menetes dalam kedukaannya.


"Iya Mas, serahkan pada saya masalah Mama disini, kamu cek juga apakah semua persiapan untuk menyambut jenazahnya mas Leo sudah beres," ucapnya Bu Marsita yang suaranya sudah parau dan serak saking lamanya sudah menangis.


Lutfi segera meninggalkan kamar mamanya itu, setelah meminta ijin terlebih dahulu kepada istrinya.


"Senja bangun sayang, ini Abang. Apa kamu lupa Gibran, Joanna dan Jihan menunggu kamu, mereka sedih juga kalau kamu seperti ini," ucapnya Kabir yang terus berusaha untuk menyadarkan istrinya dengan menyebut nama ketiga buah hatinya yang terlahir kembar itu.


Zania pun sudah menggosok-gosok telapak tangannya Senja dan mengoleskan sedikit minyak kayu putih ke tengkuk lehernya Senja.


Apa yang dilakukan oleh mereka, sama halnya dengan apa yang terjadi di dalam kamarnya Jingga. Icha terus berusaha bersama dengan Guntur untuk membantu membangunkan Jingga.


"Ya Allah kasihanilah kami dan sadarkan mereka yang pingsan dalam suasana duka kami, insha Allah kami akan sabar menghadapi segala ujian yang Engkau berikan ya Allah," cicit Vania Larissa yang sedih melihat kakak iparnya itu yang tergolek tak berdaya di atas ranjangnya.

__ADS_1


"Iya Jingga,apa kamu tidak sayang dengan calon baby kamu? Kamu itu sedang hamil loh masa kamu mempertaruhkan keselamatan anakmu sendiri! Kematian itu pasti mutlak datangnya kepada semua makhluk hidup ciptaan Allah SWT, siapapun itu hanya saja waktunya tidak ada satupun manusia yang mengetahui kapan datangnya, tapi kalau tanda-tanda kematian itu sangat jelas tergambar dalam Al-Quran," ucapnya Naysila yang didampingi oleh suaminya Ardian Putra.


__ADS_2