
Senja dan Zania Mirzani mengapit tangannya Jingga dan mengiringnya ke altar pernikahan. Ketiganya berjalan dengan senyuman yang terus tersampir di sudut bibirnya. Sedangkan Jingga hanya tersenyum tipis.
Semua orang mengarahkan pandangannya ke arah kedatangan sang calon mempelai pengantin perempuan. Mereka begitu takjub, terpana dan terpesona dengan kecantikan dari Jingga.
Guntur melihat ke arah kedatangan calon bidadari surganya. Senyuman tersungging disudut bibirnya,dia tak henti-hentinya menatap intens ke arah Jingga seorang.
"Masya Alloh cantik benar pengantin wanitanya, mereka pasangan yang serasi," pujinya seorang ibu-ibu.
"Subhanallah siapapun yang melihat mereka bersanding pasti akan memuji kecantikan dan ketampanan mereka," sahutnya seorang yang lain.
Guntur dan yang lainnya bahagia mendengar pujian yang ditujukan khusus untuk Jingga.
"Bu Clara memang pintar mencari cucu mantu, dua-duanya sangat cantik, apalagi mereka kembar pasti sifat dan karakter mereka sama,"
"Belum tentu juga, jangan sampai ada salah satu dari mereka kecantikan hatinya yang tidak seperti kecantikan wajahnya, kembar kan belum tentu sama,"
"Tapi kalau menurut aku mereka sama-sama baik hati dan ramah, karena putriku satu kampus dengan mereka dan mengetahui keseharian mereka juga sih," sanggahnya yang satunya.
"Sudahlah… kita lihat dan saksikan pernikahan mereka sebentar lagi,"
Guntur sudah duduk berhadapan dengan calon papa mertuanya. Leo pun mengulurkan tangannya untuk saling berjabat tangan.
Jingga pun dibantu duduk oleh kedua calon mertuanya yaitu pak Khalid Aswin Nasution dan istrinya Bu Siska.
"Senja, serahkan kepada Tante untuk bantuin calon mantuku duduk bersanding dengan calon suaminya," pintanya Bu Siska.
Senja hanya tersenyum membalas perkataannya dari Tante suaminya itu, kakak ipar bundanya Hanin Mazaya.
"Silahkan Tante, saya sebagai adiknya kak Jingga menyerahkan sepenuhnya kepada Tante kakakku satu-satunya yang aku miliki di dunia ini," timpalnya Senja yang bersyukur karena mendapatkan calon keluarga baru yang benar-benar baik.
Beberapa menit kemudian, Leo dan Guntur sudah saling berjabat tangan dan bertatapan satu sama lainnya.
"Santai saja Nak, insha Allah akad nikahnya mudah kok jadi tidak perlu seperti ini," candanya Leo sebelum membantu menikahkan Guntur.
Senja sudah duduk di sampingnya suaminya Kabir, dengan sedikit kesusahan untuk duduk melantai di atas karpet merah, seperti yang orang lain lakukan. Mengingat Senja dalam keadaan hamil dengan perutnya yang sudah membuncit.
__ADS_1
Semua orang tertawa mendengar perkataan dari Leo," iya santai saja, yakinlah jika perempuan yang kamu cintai akan segera menjadi milikmu sepenuhnya," ucapnya pak Khalid papinya Guntur.
"Silahkan pak Leo untuk melanjutkan membaca ikrar janji suci pernikahan kalian," imbuhnya pak penghulu.
"Saya nikahkan dan kawinkan engkau Guntur Aswin Nasution dengan putri kandungku Jingga Aurora Ainah Zain binti bapak Pratama dengan mas kawin seperangkat alat sholat di bayar tunai dan uang sebesar 20 juta 23 ribu rupiah," tuturnya Leo dengan jelas dan nyaring.
"Saya terima nikah dan kawinnya Jingga Aurora Ainah Zain binti bapak Pratama dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!" Ucap Guntur dengan penuh keyakinan dan sekali tarikan nafas.
Pak penghulu tersenyum sebelum melempar pertanyaan kepada semua tamu undangan yang datang di dalam masjid Baiturahman.
"Bagaimana para saksi apakah sah??" Tanyanya Pak penghulu yang bernama Pak Abdul Aziz.
"Sah!" Jawab mereka semua dengan teriakan yang cukup menggema di dalam ruangan tersebut.
Suara semua orang ketika menyebut kata sah menggema memenuhi seantero masjid Baiturrahman. Semua hadirin yang turut serta hadir ramai gemuruh dan serentak mengucap kata 'sah'.
Semua orang mengucap syukur dan tak henti-hentinya mengucap syukur alhamdulilah atas akad nikahnya Guntur dan Jingga terlaksana dengan lancar dan sukses.
Semua orang satu persatu berjalan ke arah pengantin baru itu, mereka mengucapkan selamat atas pernikahannya dan juga menghaturkan beberapa doa khusus setulus hati mereka.
Dengan sekali tarikan nafas ku ucapkan perjanjian dengan Allah SWT, memikul segala tanggung jawab serta dosa Jingga, yang akan diminta pertanggungjawaban kelak di kemudian hari di akhirat.
Guntur mengecup keningnya Jingga untuk yang pertama kalinya selama mereka menikah. Jingga yang diperlakukan seperti itu hanya tersenyum simpul. Ada gelenyar aneh yang tiba-tiba menyeruak di dalam relung hatinya yang terdalam.
Apakah seperti ini rasanya dikecup dengan penuh kasih sayang? Selama saya pacaran dengan mas Abdil Pramudya sekalipun kami tidak pernah seperti ini. Hanya sekedar berpegang tangan saja, itupun kalau terpaksa harus terjadi.
Resepsi pun telah diselenggarakan dengan begitu ramai dan megahnya. Seolah seperti keluarga besar Nasution dan Sanders tersirat saling memperlihatkan kekuatan dan kekuasaan mereka di depan khalayak umum dan Dunia. Jika mereka menyelenggarakan acara akad nikah dan pesta resepsi pernikahan Jingga dan Guntur.
Malam kian larut beranjak larut. Hawa dingin kota Jakarta masih seperti biasanya. Mataku terasa begitu berat dan sangat mengantuk, tetapi keluarga besar masih berkumpul. Tidak enak jika ditinggal tidur.
Kabir, Aliya, Leo, Lutfi Khaer, Bu Sri Indrawati, serta istrinya baru saja melepas kepergian anggota keluarga besar Nasution dan Sanders setelah mengadakan perjamuan resepsi pernikahan tanpa Jingga.
Mereka melanjutkan perbincangan santai malam ini hingga beberapa menit kemudian. Tapi, orang-orang tersenyum penuh arti, melihat sikapnya Guntur yang seperti tidak tenang, gelisah dan tidak sabaran.
"Hem sepertinya kita harus sudahi perbincangan kita Pa," ucapnya Kabir yang menggenggam tangannya Senja tapi, tatapan matanya terus tertuju pada sikapnya Guntur.
__ADS_1
Leo mengarahkan pandangannya ke arah Kabir menantu kesayangan sekaligus menantu pertamanya itu.
"Kenapa Nak, apa yang terjadi padamu, apa Senja baik-baik saja?" Tanya Leo yang berpura-pura tidak mengerti dengan apa yang terjadi.
Senja pun mulai ikut dalam permainan mereka," Alhamdulillah aku baik-baik saja kok Pa, kenapa emang berkata seperti itu?" Tanyanya balik Senja yang berusaha menahan rasa tawanya itu.
"Ya Allah istriku ini tidak paham, polos atau apaan sih, apa kalian lupa kalau ada pengantin baru ditengah-tengah kita," balasnya Senja.
Aliya yang tidak paham ikut bersuara," Duh, lupa kalau ada pengantin baru. Sudah sebelas malam masih saja kalian menahan nak Guntur untuk kumpul-kumpul, ganggu yang mau bulan madu," selorohnya Aliya,yang disambut gelak tawa oleh semua orang yang ada di dalam ruangan keluarga.
Sedangkan Jingga di dalam kamarnya segera membersihkan seluruh tubuhnya dan make dari wajahnya itu. Dia tidak ingin berlama-lama memakai make up tebal yang membuatnya kesulitan untuk berbicara.
Apalagi mengingat Jingga tipe perempuan yang tidak menyukai memakai make up berlebihan.
Lutfi menepuk pundaknya Guntur, "Nak Guntur naiklah, aku yakin kamu sudah ditunggu oleh istrimu, naiklah," pintanya Lutfi.
Guntur mengusap wajahnya dengan gusar, apa mereka mengetahui jika saya ingin sekali menemui Jingga yah.
Saya hanya tersenyum tipis dan salah tingkah di depan keluarga istriku, ya Allah pasti wajahku sangat merah saking malunya dengan candaan mereka.
Aku gegas meninggalkan mereka semua yang samar-samar aku dengar mereka tertawa terbahak-bahak melihat reaksiku yang mungkin sangat lucu di mata mereka.
Jingga mengganti gaun pengantinnya dengan pakaian piyama tidur. Dia cukup tidak bebas bergerak, jika terus memakai pakaian berat.
Guntur membuka pintu kamar pengantin yang selama ini dipakai istrinya sebagai kamar pribadinya.
Mulai detik ini, Jingga harus berbagi kamar dengan suaminya, pria yang baru sekitar delapan jam mengikrarkan janji suci pernikahan mereka.
Ceklek..
Pintu berdaun satu bercat putih itu terbuka lebar dan masuklah dengan berjalan perlahan menuju ke arah lebih dalam kamar bercat kuning yang nantinya akan ditempatinya selama mereka menetap di rumah kedua mertuanya.
Manik matanya melihat seorang perempuan yang sedang berbaring di atas ranjangnya dengan memejamkan matanya.
Kabir berdiri mematung di tempatnya karena dia tidak tahu harus berbuat apa. Dia tidak mengerti apa yang selanjutnya akan dilakukannya.
__ADS_1
Ia kebingungan dengan apa yang akan dilakukannya di dalam seorang perempuan. Selama ini, sekalipun dia tidak pernah masuk ke dalam kamar perempuan manapun kecuali maminya sendiri.