Belum Berakhir

Belum Berakhir
Bab. 111. Keberangkatan Leo dan Aliya


__ADS_3

"Sa-ya baik-baik saja kok Pak Kabir, saya hanya perlu masuk ke toilet," kilahnya Senja yang menutupi kenyataan yang terjadi padanya.


Kabir segera menggendong tubuhnya Senja tanpa sepatah katapun atau aba-aba.


"Aahh!" Teriaknya Senja langsung melingkarkan tangannya ke lehernya Kabir.


"Masa gitu saja sudah ketakutan setengah mati! katanya Zania kamu itu jago karate dan taekwondo tapi buktinya tidak sesuai dengan kenyataan," sarkasnya Kabir.


"Turunkan saja saya pak, saya masih bisa berjalan sendiri ke dalam toilet tanpa pak Kabir bantu saya masih sanggup!" Ketusnya Senja.


Senja memberontak dalam pelukannya Kabir, tapi Kabir semakin menguatkan pelukannya.


"Aku mohon diamlah takutnya kamu dan aku terjatuh," ketus Kabir lagi.


Senja memalingkan wajahnya ke arah lain dia tidak ingin bertatapan langsung dengan suaminya itu yang membuatnya sangat kesal.


Pak Kabir tidak boleh tahu apa yang terjadi padaku, aku akan merahasiakannya dari dirinya, tapi aku berharap semoga aku tidak hamil karena bagiku semua ini terlalu cepat jika saya hamil dimana saya belum yakin dengan hatiku sendiri.


Kabir menurunkan Senja ke atas kloset duduk, Senja tidak ingin menatap mata suaminya itu. Tapi ia kembali kesal dengan ulah suaminya itu setelah menurunkan tubuhnya Senja, bukannya keluar dari dalam toilet, Kabir malah berdiri diambang pintu sambil melipat kedua tangannya menunggui istrinya yang akan buang air kecil.


Senja menatap jengah ke arah suaminya itu, "Pak Kabir apa akan berdiri disitu terus sampai lumutan!?" Dengusnya Senja.


"Kenapa aku harus keluar bukannya kamu adalah istriku lagian kalau masalah yang itu sepertinya aku setiap hari melihatnya, warna, bentuk dan ukurannya pun sangat aku hafal dengan jelas bahkan menutup mata pun aku mengetahuinya dengan pasti," ungkapnya Kabir.


Penuturannya Kabir membuat kedua pasang matanya Senja melotot yang seperti ingin melompat saja saking marahnya mendengar perkataan dari suaminya itu.


"Pak Kabir!" Jeritnya Senja yang segera meraih sekotak tissue toilet yang siap dan lemparnya itu karena hanya benda itu yang mampu dijangkaunya.


"Hahaha! Kamu lucu banget jika aku menjelaskan apa yang ada di…," ucapannya terhenti ketika Senja megambil aba-aba untuk bersiap melempari Kabir dengan benda yang dipegangnya itu.


Bruk!!

__ADS_1


Bugh!!


Prang!!


Suara benda yang dilempar dengan cukup kuat dan bunyi pintu yang tertutup secara bersamaan membuat kamarnya Senja menjadi gaduh dan bising memekakkan telinga.


Untungnya kamarnya mereka tertutup rapat dengan peredam suara sehingga apapun yang mereka lakukan tidak akan ada yang mengetahui apa yang terjadi di dalam sana. Bahkan kedua orang tuanya yang sudah bersiap untuk berangkat ke bandara internasional Soekarno Hatta tidak mengetahui apa yang terjadi dengan dua pasutri itu.


Ya Allah kenapa aku sampai lupa jika pagi ini Papa dan Mama akan berangkat umroh. Mereka tidak boleh mengetahui tentang apa yang terjadi padaku.


Senja segera menyelesaikan kegiatannya di dalam sana,ia tidak ingin sampai terlewat sedikitpun untuk melihat kedua orang tuanya berangkat,walau dalam kondisi kesehatannya yang tidak baik dan stabil.


Tok…


Ketukan pintu di depan kamarnya itu terdengar jelas, Kabir segera berjalan ke arah depan pintu. Kabir mengernyitkan dahinya dengan siapa orang yang telah mengetuk pintunya.


Kabir melihat kakak kembar istrinya," papa dan mama akan bersiap berangkat,apa kalian mau ikut kami ke bandara?" Tanyanya Jingga.


"Tunggu sekitar lima belas menit kami akan segera nyusul kebawah," imbuhnya Kabir.


"Alhamdulillah pagi tadi sebelum jam lima sepertinya sampai di sini," balasnya Kabir.


"Hmph! Ngomong-ngomong Senja masih tidur?" Tanyanya Jingga yang tidak melihat adiknya itu.


"Senja masih di dalam kamar mandi,kami akan segera menyusul kalian, tunggu kami beberapa menit lagi, kami akan selesai bersiap," ucapnya Kabir.


Jingga hanya tersenyum dan segera meninggalkan kamar adiknya itu dengan tatapan yang sulit dimengerti.


Seperti banyak tanda tanya yang ada di dalam benaknya Jingga yang mengaggap ada yang tidak beres dengan cara bersikap dari Kabir adik iparnya itu.


Kabir tidak mungkin berterus terang kepada kakak iparnya jika mereka sedang berdebat dan cekcok sehingga mengakibatkan Senja pingsan tak sadarkan diri.

__ADS_1


Tapi, ngomong-ngomong kenapa Senja tiba-tiba pingsan, enggak mungkin kan baru terjatuh seperti itu sudah pingsan, Senja itu perempuan kuat dan tangguh.


Apa jangan-jangan Senja memiliki penyakit yang cukup berbahaya, astaughfirullahaladzim maafkanlah aku ya Allah harus berfikir yang aneh-aneh.


Entah kenapa perasaanku dan feelingku mengatakan ada yang tidak beres dengan kehidupan rumah tangga adikku.


Entah kapan aku ada waktu senggang untuk berbicara dengan Senja, dan bertanya mengenai apa alasan dan tujuannya mengkonsumsi pil obat pencegah kehamilan yang sudah beberapa bulan terakhir ini ia konsumsi.


Bagaimana nantinya jika Kabir mengetahui semua itu pasti bakal akan marah besar, jadi sebelum ketahuan oleh Kabir saya harus segera bertanya kepada Senja kenapa dan mengapa memilih jalan seperti itu.


Jingga hanya menggeleng kepalanya melihat tingkahnya Senja dan suaminya itu. Masih ada sekitar satu jam sebelum mereka berangkat ke bandara.


Aku sebaiknya masuk ke kamar dulu, ya Allah sudah hampir tujuh bulan kepergian mas Abdil Pramudya tapi, aku belum punya kesempatan untuk membuka beberapa benda peninggalannya.


Jingga segera berjalan ke dalam kamarnya dan tergesa membuka paper bag dan sebuah kotak kecil yang masih tersegel rapi dan kuat.


Air matanya Jingga menetes membasahi pipinya setelah melihat beberapa foto lembar kebersamaan mereka dulu waktu terakhir kalinya balik ke Jakarta Indonesia sebelum jatuh sakit.


Jingga mengelus wajahnya Abdil dalam figura foto itu yang sudah seperti pucat pasi berbeda dengan orang yang masih hidup.


Air matanya semakin menetes membasahi pipinya ketika mengingat kembali kata-kata terakhir yang sempat disebutkan dan diucapkan oleh Abdil.


Jingga jika suatu saat nanti kita menikah kamu ingin memiliki anak berapa orang? Jingga waktu itu menjawab dengan bercanda.


Kalau bisa dan mas Abdil kuat kenapa enggak kita buat kesebelasan saja seperti anggota tim soccer saja.


Jingga semakin menitikkan air matanya dikala mengingat canda tawanya Abdil kala itu. Hari itu juga terakhir kalinya mereka bersama sebelum almarhum kekasihnya balik ke New York Amerika Serikat.


Alfatihah untuk kamu mas Abdil Pramudya semoga kamu tenang di alam sana dan kamu tidak perlu khawatir saya bahagia disini dan selalu mencintaimu sepanjang waktuku di dunia ini.


Jingga memeluk foto yang ada dia dan Abdil di dalamnya. Dia tak henti-hentinya mengecup foto itu seolah tak ingin berhenti.

__ADS_1


Baru saja ia ingin membuka segel dari kotak berbentuk kubus itu dengan pembungkus berwarna merah itu, tapi pintu kamarnya diketuk oleh seseorang dari arah luar.


Tok… took..


__ADS_2