Belum Berakhir

Belum Berakhir
Bab. 207


__ADS_3

Keluarga besar Leo Carlando dan Aliya Azizah mengadakan berbagai acara ritual seperti acara tahlilan yasinan selama beberapa hari berlangsung.


Semua orang masih terkadang tidak percaya jika anggota keluarganya telah meninggal dunia dalam waktu yang hampir bersamaan. Semua orang mau tidak mau melepas kepergian kedua pasangan suami istri itu bak sehidup semati di dunia.


Mereka semua hanya bisa pasrah, sabar tabah dan mengikhlaskan kepergian untuk selamanya anggota keluarganya yang begitu mereka sayangi dan cintai.


Mama, papa selamat jalan, kami sangat kehilangan kalian berdua, tapi inilah hidup tidak ada yang akan hidup kekal di dunia ini.


Pasti akan tiba masanya perpisahan ini terjadi. Kami hanya berharap semoga kami yang kalian tinggalkan bisa merelakan kepergian kalian.


Air matanya masih sering menetes membasahi pipinya, ketika kembali harus mengingat kejadian jika papah dan mamah nya telah meninggalkan mereka untuk selama-lamanya.


Satu minggu kemudian…


Senja dan Jingga ke rumah sakit secara bersamaan, keduanya ingin menjemput adiknya yaitu Ocean Skala Pratama, karena sudah bisa dibawa pulang ke rumah. Setelah seminggu lamanya menjalani berbagai serangkaian perawatan karena terlahir dalam kondisi yang cukup memprihatinkan.


"Alhamdulillah Dede Oce sudah bisa kita bawa pulang dek," ucapnya Jingga yang baru mendudukkan bokongnya ke atas jok kursi belakang mobilnya.


"Iya Alhamdulillah kita sekarang menjadi kedua orang tuanya Dede Oce, sedih rasanya melihat adik tidak pernah sedikitpun merasakan kehangatan kasih sayang dan cintanya papa Leo dan Mama Aliah, tapi aku berharap semoga kehadiran kita bisa menjadi pelipur lara dan bisa membahagiakan adik kita satu-satunya," timpalnya Senja yang mengusap wajahnya yang sudah dibanjiri oleh air mata.


Pak Abdul Aziz yang mendengar perkataan keduanya ikutan sedih,dia melihat interaksi kedua kakak beradik itu lewat cermin kaca spion mobilnya.


Saya juga ikut sedih melihat kepergian nyonya besar Aliaya dan tuan Leo. Padahal kalian berdua itu sangat baik pada semua orang yang bekerja bersama kalian.


Alfatihah untuk kalian berdua dan semoga kalian meninggal dalam keadaan husnul khotimah.


Pria yang sering disapa Mamang Abdul itu sangat kehilangan majikannya yang begitu baik padanya. Bahkan selama hampir sepuluh tahun bekerja di rumahnya Aliah, semua orang memperlakukannya seperti layaknya anggota keluarganya sendiri.


Sehingga semua orang yang bekerja di rumah maupun di toko store yang dikelola oleh Aliah merasa tenang,nyaman bekerja bersama keduanya.

__ADS_1


Mobil segera melaju dengan kecepatan sedang menuju rumah sakit swasta dimana adiknya dirawat dan mamanya melahirkan adik bungsunya, kemudian ditempat itu kedua orang tuanya juga menghembuskan nafasnya untuk terakhir kalinya.


Berselang beberapa menit kemudian, mobil mereka segera berhenti di tempat parkiran khusus mobil. Mereka berjalan tergesa-gesa, karena tidak sabaran ingin melihat dan menjemput adik bontotnya yang baru berusia seminggu itu.


"Senja, apa keputusan kamu sudah final untuk menjaga Oce di rumahmu bersama dengan ketiga anak kembarmu? Apa kamu tidak kewalahan menghadapi ketiganya ditambah lagi dengan dede Oce?" Tanyanya Jingga yang segera turun dari mobilnya itu.


Senja menatap sekilas ke arah kakaknya itu sebelum turun dari mobil tersebut.


"Insha Allah aku bisa kak menjaganya, lagian Mbak itu sedang hamil jadi mana mungkin aku menyerahkan kewajiban ini pada kakak, terus kalau bukan aku siapa yang bisa melakukan semua ini sedangkan hanya kakak dan aku kelurganya yang paling dekat," Senja menjeda perkataannya itu karena ingin mengambil handbag nya yang tergeletak di jok mobil.


Jingga menunggu adiknya sebelum melangkahkan kakinya masuk ke dalam area rumah sakit.


"Andaikan aku dengan kakak enggak ada mungkin dede Oce bisa dirawat oleh orang lain, jadi tidak mungkin aku berikan kepada orang lain hak asuhnya adikku sendiri,"


Jingga melajukan langkahnya menuju ke arah dalam kawasan rumah sakit sembari meladeni dan membalas perkataan dari adiknya.


Keduanya berjalan beriringan ke arah dalam lobi rumah sakit dan bergegas ke kamar khusus bayi.


"Apalagi akhir-akhir morning sicknes aku rasakan saat ini sungguh sering kali muncul, tapi aku janji insya Allah kalau kondisiku kehamilan aku ini sudah stabil, pasti akan sering-sering membantumu," ucap Jingga.


Senja meraih genggaman tangan kakaknya itu," kak Jingga tenang saja, insya Allah aku masih sanggup untuk menjaga keempatnya, kalau memang aku tidak sanggup aku akan meminta tolong bantuannya kakak."


Keduanya berjalan beriringan dengan sesekali berbincang-bincang. Keduanya terkadang bercanda bersama untuk menghilangkan kesedihannya.


Mereka juga saling menguatkan dikala menghadapi cobaan yang datang bertubi-tubi dalam kehidupan mereka dalam beberapa hari terakhir ini.


Beberapa orang melihat kedatangan keduanya, mereka mengangumi kecantikan dari perempuan kembar itu yang sama-sama cantik luar dalam.


Senja dan Jingga setelah bertemu dengan perawat yang ditugaskan oleh Kabir untuk menjaga adiknya itu, keduanya segera berjalan ke arah kamar khusus bayi.

__ADS_1


"Selamat yah Mbak Dede bayinya sudah bisa dibawa pulang," ucapnya perawat yang diminta khusus untuk menjaga Ocean selama berada di rumah sakit.


"Alhamdulillah, Makasih banyak yah Sus sudah membantu kami menjaga adikku, ngomong-ngomong apa gajinya suster Anggita sudah ditransfer ke rekening Mbak?" Tanyanya Senja yang sembari megambil adiknya dalam ranjang box bayinya.


kenapa aku merasa suster ini tatapannya aneh ketika melihat Senja. Aku merasakan ada keanehan dari sorot tatapan matanya perawat satu ini.


Oh ini istrinya pak Kabir, cantik juga tapi kalau dibandingkan dengan saya dia masih kalah.


Aku yakin servis aku diranjang lebih bagusan dan lihai dibanding dengan istrinya.


Aku harus berusaha untuk masuk ke dalam rumahnya tuan muda Kabir, agar semua rencanaku bisa berhasil dengan sempurna.


"Alhamdulillah sudah Bu, sejak kami bekerja sama semuanya pembayaran sudah dilunasi oleh tuan muda Kabir," balasnya Anggita Ansel.


"Kalau gitu kami pamit pulang, sebelum terlalu siang," pamitnya Jingga yang melirik sekilas ke arah perawat dengan tatapan matanya yang sulit diartikan.


"Iya, Makasih banyak yah sekali lagi," ujarnya Senja.


"Bu Senja tidak perlu, selalu mengucap terima kasih kepadaku, karena ini adalah sudah menjadi tanggung jawab kami sebagai perawat, jadi tidak perlu repot-repot untuk mengatakan hal semacam ini padaku," cegahnya Anggita dengan senyuman penuh arti.


"Senja, kasihan Ocean dek, sepertinya tidak baik terlalu membiasakan dede digendong seperti ini," tuturnya Jingga yang segera menarik tangannya Senja untuk segera pergi dari sana.


Senja pun menurut perkataannya dari kakaknya itu," assalamualaikum Mbak Suster, besok-besok kalau kita ketemu tidak perlu memanggil ku dengan sebutan ibu, Senja saja karena sepertinya kita seumuran,"


Anggita tersenyum menanggapi perkataannya Senja yang sudah pergi dengan Jingga.


Ya Allah semoga saja aku salah menduga jika suster Anggi memiliki niat yang buruk.


Bagi gift iklan, vote, gift poin dan koin nya yah... bagi like, komentar tentunya.

__ADS_1


__ADS_2