Belum Berakhir

Belum Berakhir
Bab. 19. Kemarahan Leo Carlando Zain Pratama


__ADS_3

Leo berjalan terburu-buru masuk ke dalam rumahnya. Ia tidak peduli dengan apa yang dilakukannya itu. Apakah tetangganya keberatan dengan perbuatannya itu.


Dari raut wajahnya Leo terlihat jelas banyak kemarahan, penyesalan, kebencian, ketakutan, kekhwatiran bercampur aduk menjadi satu bagian di dalam benaknya itu.


"Saya tidak peduli dengan tanggapan orang-orang baik tetangga atau siapapun dengan apa yang aku lakukan sekarang di rumahku sendiri, aku bisa bertindak kasar jika ada yang ikut campur dalam urusan rumah tanggaku ini!" kesal Leo.


Pak RT yang datang pun untuk menegurnya sama sekali tidak dipedulikannya jika memang benar mereka datang gara-gara keributan yang diperbuatnya itu.


Sedang di tempat lain, Adinda berjalan ke arah luar rumahnya setelah memeriksa kondisi rumahnya Aliya lewat jendela kamarnya kamarnya itu. Dia ingin memastikan bahwa apa yang sebenarnya terjadi, di depan pintu masuk rumahnya Aliya setelah mendengar keributan yang terjadi di sana.


"Ya Allah semoga Mbak Aliya dan mas Leo baik-baik saja, saya takut terjadi sesuatu pada keduanya, lindungilah mereka ya Allah," cicit Adinda.


"Aku tidak boleh kehilangan Aliya dan kedua anakku, apapun akan aku lakukan untuk menerima maafnya Aliya, aku juga akan segera menceraikan Adinda," gumamnya Leo yang terus melangkahkan kakinya sambil memperhatikan sekitar rumahnya yang nampak sepi itu.


Leo mendapati kamarnya yang sama sekali tidak ada tanda-tanda jejak Aliya. Yang dia lihat hanya pintu lemari yang terpasang kuncinya di handle pintu lemari itu. Leo segera memegang gagang pintu itu,ia terkejut melihat ada kotak perhiasan emas beludru berwarna merah. Kotak perhiasan yang beberapa tahun lalu diberikan kepada Aliya sebagai hadiah pernikahannya yang ketiga kala itu.


Leo semakin dibuat kaget karena isi dalam kotak perhiasan emas itu lengkap tanpa kekurangan sedikitpun. Cincin, gelang, kalung dengan liontinnya serta sepasang anting-anting.


Leo tersungkur di sudut ranjangnya, ia menyeka wajahnya dengan gusar," ya Allah Aliya, maafkan Mas sayang, ini semua salahku karena aku telah bodoh menikahi perempuan lain, Senja, Jingga maafin papa yah Nak, papa sudah bersalah pada kalian," ratapnya Leo yang terduduk dengan genangan air matanya membasahi pipinya.


Leo tidak menyangka jika hari ini akan datang juga dalam kehidupannya. Seorang istri yang sholeha,baik hati, penyayang, setia,sabar begitu tega dikhianatinya.

__ADS_1


Istri yang tidak pernah menuntut apapun padanya, bahkan diberikan uang belanja bulanan yang kurang dan sedikit, Alia selalu ridho, bersyukur dengan pemberian dari suaminya itu.


Air matanya Leo menyiratkan betapa sedihnya dengan kepergian istri dan kedua anak kembarnya. Kesalahan terbesar dalam hidupnya membuat hancur berkeping-keping perasaan perempuan yang katanya sangat dicintainya itu.


Adinda yang melihat salah satu lampu ruangan yang ada di rumahnya Aliyah menyala segera mempercepat langkahnya, walaupun perutnya sedikit mengalami sakit dan kram, tapi ia tetap berjalan ke arah luar menuju rumahnya Aliah.


"Semoga saja yang datang itu Mbak Aliya,saya akan meminta maaf padanya dan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, aku tidak boleh membiarkan kehidupan rumah tangga mereka hancur berantakan begitu saja, ini semua salahku," cicitnya Adinda yang memegangi perut buncitnya.


Adinda sesekali meringis menahan perihnya bagian telapak kakinya yang langsung terkena batu kerikil aspal. Saking tergesa-gesa meninggalkan rumahnya,ia melupakan memakai sendal rumahannya.


Leo terpuruk, sehancur-hancurnya perasaaan,hati nuraninya itu. Dia sangat menyesal, sedih dan kecewa pada dirinya sendiri. Dia tidak menyangka jika hari ini akan datang juga menyapa kehidupan rumah tangganya yang adem-adem saja.


Leo memeluk boneka putrinya itu dalam dekapannya, air matanya terus menetes membasahi wajahnya itu. Leo tidak memikirkan lagi masalah pekerjaannya yang paling penting adalah menemukan keberadaan Istrinya.


"Aku tidak boleh seperti ini terus, aku harus bergegas untuk bergerak mencari anakku Jingga dan Senja serta istriku Aliyah, aku yakin mereka pergi belum jauh dari sini," gumam Leo yang bangkit dari duduknya.


Penampilannya sungguh kacau, wajahnya memerah, hidungnya sembab, matanya membengkak saking lamanya menangis. Leo keluar dari rumahnya bersamaan dengan kedatangan Adinda di rumahnya. Leo hanya menatap ke arah Adinda dengan tatapan matanya yang sulit diartikan itu.


"Mas Leo, apa Mbak Aliya ada?" Tanyanya Adinda yang berbicara pelan dan lembut karena takut jika perkataannya menyinggung perasaannya Leo.


Leo tersenyum tipis," Aliya istriku sudah pergi jauh meninggalkanku, ini semua gara-gara kamu! Jika malam itu kamu tidak mendekatiku disaat aku mabuk pasti semua ini tidak akan terjadi! Aku sungguh sangat menyesali perbuatanku,pilihanku dan keputusanku untuk menikahimu! Jujur saja hal yang tidak ingin aku lakukan adalah melihatmu!" Sarkasnya Leo yang menumpahkan segala kekesalannya terhadap istri keduanya yang dinikahinya secara siri itu.

__ADS_1


Adinda sungguh terkejut mendengar perkataan dari mulut suaminya itu, Ia tidak menyangka jika pria yang sangat dicintainya itu dengan teganya menghinanya dan menumpahkan segala kesalahan padanya.


Adinda berusaha sekuat tenaga menahan laju air matanya itu, "Mas ini semua kesalahannya saya, saya meminta maaf kepada Mas, saya tidak ingin melihat mas dan Mbak Aliya seperti ini," lirih Adinda.


"Hahaha! Kenapa bukan sedari awal kamu tidak memaksa dan menuntutku untuk menikahimu, lagian aku berasa jika aku saat itu tidak menyentuhmu sedikitpun, aku masih ingat dengan jelas ketika aku mabuk berat kamu tiba-tiba datang memapahku, andaikan kau tidak muncul saat itu, aku yakin aku masih bisa hidup bahagia dengan istriku dan kedua anak-ku, tapi semuanya hancur ketika kamu hadir dalam hidupku, apa kamu tahu jika kehadiranmu adalah malapetaka bagiku dan kau dan anakmu itu pembawa sial bagiku!" Geramnya Leo yang akhirnya mengeluarkan semua hal-hal yang selama ini tersimpan di dalam hati dan pikirannya itu.


Adinda yang mendengar perkataan kasar yang penuh dengan hinaan itu menohok jantung hatinya. Lidahnya keluh seketika mendengar hinaan dari pria yang sangat dicintainya itu. Air matanya menetes membasahi pipinya itu saking tidak kuasanya lagi menahan kepedihan dan kesedihan hatinya.


Leo memegang dengan kuat lengannya Adinda, "Andaikan kau tidak menjebak ku pasti aku dan Aliya masih baik-baik saja, jujur saja aku tidak menduga jika adik dari sahabatku sendiri dengan begitu teganya menghancurkan kehidupan rumah tangga sahabat dari kakaknya sendiri, Adinda dimana kamu taruh hati nuranimu ha!! Apa kamu patung benda tak hidup yang sama sekali tidak punya harga diri sehingga dengan mudahnya kamu menghancurkan hidupku!!" Bentaknya Leo.


Adinda semakin hancur sehancur-hancurnya karena melihat betapa besar kemarahannya Leo yang ditumpahkan padanya. Ia meringis menahan perihnya tajamnya kukunya Leo di atas kulitnya yang mampu menggores kulit tangannya itu ketika Leo mencengkeram kuat genggaman tangannya di lengannya tersebut.


"Auh sakit!" Keluh Adinda.


Leo hanya menatap nyalang dan tanpa perasaan kepada Adinda, ia tidak menggubris rintihnya Adinda.


"Kamu itu perempuan tapi,kamu lupa siapa yang melahirkanmu! Kamu itu terlahir dari rahim seorang wanita, tapi tanpa perasaan dan rasa iba kamu menghancurkan kehidupan wanita lain! Aku tidak menyangka dalam kehidupanku bisa bertemu dan mengenal perempuan jahat seperti kamu!" Sinisnya Leo.


"Mas Leo Carlando Zain Pratama saya minta maaf," cicit Adinda yang terisak dalam tangisannya itu.


"Andai saja saya bisa memutar waktu, saya ingin sekali dalam hidupku itu tidak mengenal kamu, bahkan aku akan melakukan apapun agar aku tidak bertemu dengan perempuan lucknut,jahat dan yang hatinya terbuat dari batu!"

__ADS_1


__ADS_2