
Jingga meremas bajunya bagian dadanya itu saking sedihnya jika harus kembali mengingat beberapa memory kenangan terindah dalam kehidupan mereka.
Mas Abdil Pramudya insha Allah aku sudah ikhlas, karena aku yakin kamu disana tidak tenang jika aku bersikap seolah selalu berlarut-larut dalam kesedihan. Padahal aku yakin mas sangat tidak menyukai jika aku bersikap seperti ini.
Astaughfirullahaladzim maafkanlah aku yah Allah, aku sudah salah. Mas Abdil semoga kelak kita masih dipertemukan kembali di JannahNya Allah SWT.
Satu persatu benda kesayangannya pemberian dari hadiahnya Abdil yang hampir setiap bulan dia dapatkan spesial dari pria yang begitu tulus mencintainya.
Dia tergugu dalam tangisannya itu, dia semakin terisak hingga suara sesegukan kembali terdengar dari bibir mungilnya Jingga Aurora.
Apa yang dilakukan oleh Jingga tanpa sengaja dilihat langsung oleh mamanya Bu Aliyah. Ia berdiri di balik ambang pintu sambil terus melihat dan mendengarkan apa yang diperbuat putri sulungnya itu.
Ya Allah berikanlah jodoh yang terbaik untuk putriku di dunia ini, Nak Abdil emang sangat baik, laki-laki sholeh dan penuh perhatian bahkan sangat mencintai anakku,tapi mereka sama sekali tidak berjodoh.
Tapi, aku berharap semoga saja Guntur lebih baik dari nak Abdil, karena aku selalu berdoa kepadamu jika Jingga akan hidup dengan pria yang sungguh mencintainya dan menyayangi dengan setulus hati sepenuh jiwa dan raganya.
Aku juga berdoa kepadaMu ya Allah semoga Jingga bisa membalas kebaikan akan cintanya Nak Guntur.
Alia segera meninggalkan kamar putrinya itu, karena tiba-tiba dia meringis kesakitan seraya memegangi kepalanya yang tiba-tiba pusing.
Astauhfirullah aladzim kenapa kepalaku, seperti pusing dan rumah ini berputar-putar yah? Lirihnya Aliah sembari memijit pelipisnya.
Aliyah segera menuruni tangga dengan berjalan sangat pelan sembari berpegangan pada pegangan tangga yang terbuat dari besi itu.
Jingga meraih kotak yang cukup besar yang terbungkus pembungkus kado berwarna ungu itu. Jingga baru teringat ketika melihat benda terakhir yang terletak paling bawah lemarinya.
Ini kan kado yang terakhir diberikan oleh mas Abdil sebelum meninggal dunia. Benda ini sudah lama, tapi belum pernah aku sentuh sedikitpun apa ada rahasia besar dibalik ini.
__ADS_1
Jingga nampak seperti orang yang terburu-buru, karena ada sesuatu hal yang memburunya sehingga ia kelihatan dengan gerakan tangannya yang lincah sambil terus membuka kado itu.
Hingga dia melihat ada sebuah kotak kecil yang berisi jam tangan yang sungguh cantik dengan tulisan namanya Jingga yang terdapat di bagian dalam arloji itu.
Masya Allah cantiknya jam tangan ini sungguh sangat cantik dan serasi aku pakai.
Jingga segera memasang jam tersebut ke pergelangan tangan kanannya Jingga. Dia sungguh bahagia karena mendapatkan hadiah terakhir dari pacarnya yang sudah meninggal dunia.
Sebuah buku harian berwarna biru segera dibuka oleh Jingga yang terduduk di atas lantai keramik kamarnya. Jingga membuka buku harian itu selembar demi selembar.
Jingga pun membaca setiap tulisan huruf, kata kalimat hingga setiap paragrafnya yang terdapat di atas kertas putih itu.
Matanya berkaca-kaca yang kembali akan menangis. Air matanya kembali menetes membasahi pipi glowing sehingga air matanya nampak seperti kilauan bening permata. Hemm… authornya terlalu hiperbola rupanya jangan dibully.
Bibirnya bergetar hebat, hidungnya sudah memerah dan kelopak matanya membengkak saking lamanya sudah menangis dalam kesedihannya, duka nestapa dan kerinduannya yang tidak akan bertepi.
Ya Allah kenapa bang Abdil hatinya begitu mulia, bahkan di sisa usianya yang sudah berada di ujung hela nafas terakhirnya, dia memberikan kornea matanya kepada orang lain.
Jingga baru saja hendak membaca tulisan paling terbawah di dalam kertas itu, tapi teriakan seseorang dari arah lantai bawah menghentikan kegiatannya ingin membaca secara keseluruhan tulisan amanah dari almarhum Abdil Pramudya.
"Aghh to-long!!" Teriaknya seseorang yang terjatuh terguling ke arah bawah.
Jingga yang masih memegangi buku hariannya yang masih banyak tulisan yang belum sempat dibaca olehnya Jingga.
"Astaughfirullahaladzim apa yang terjadi, siapa yang berteriak histeris seperti?" Jingga mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat tersebut.
Hingga suaru teriakan seorang pria mampu membuat Jingga segera bangkit dari posisi duduknya itu. Dia berjalan cepat ke arah pintu kamarnya, sembari membuang ke sembarang arah buku harian peninggalannya Abdil Pramudya yang kebetulan berada di dalam genggamannya.
__ADS_1
"Tidak!! Nyonya Aliyah!" Teriaknya bibi Minah yang melihat majikannya yang sudah terguling-guling dari undakan tangga kedua dari terbawah hingga kepalanya membentur tiang pembatas tangga.
Brak…
Jingga segera mempercepat langkahnya hingga dia kembali membanting pintu kamarnya itu dengan kekuatan penuh saking khawatirnya dengan siapa orang yang telah terjatuh.
"Ya Allah semoga saja itu bukan Senja, jika tidak kasihan dengan calon anak kembarnya itu," cicitnya Jingga yang langkahnya semakin dipercepat.
Setelah sampai di depan tangga, Jingga melihat mamanya sudah terbaring lemah tak berdaya di atas lantai sedangkan bibi Minah tidak tahu harus berbuat apa. Nampak seperti orang yang bingung dan linglung ketika melihat majikannya terjatuh tak sadarkan diri.
Matanya terbelalak melihat kondisi mamanya yang sudah pingsan, ia segera menuruni tangga dengan sangat hati-hati takutnya dia juga bernasib sama seperti mamanya.
"Mama Aliah!" Jeritnya Jingga dengan suaranya yang cukup melengking hingga mampu terdengar jelas ke dalam kamarnya Senja dan Kabir yang kebetulan tidak tertutup rapat.
Senja yang baru mengerjapkan matanya tanpa sengaja mendengar teriakannya Jingga kakak kembarnya.
"Abang Kabir! Bukannya itu suaranya kak Jingga?" Tanyanya Senja yang segera menyibak selimut yang sedari tadi menutupi sebagian tubuhnya.
"Bi Minah apa yang terjadi pada Mama?" Tanyanya Jingga yang sudah panik ketakutan dan mencemaskan keadaannya mamanya itu.
"A-nu i-tu sa-ya melihat Nyonya Besar terjatuh dari tangga hingga seperti ini," jawabnya bi Minah terbata.
"Dimana papa? Kita harus segera memindahkan mama ke dalam kamar, Bi Minah tolong hubungi dokter Talita untuk segera datang memeriksa kondisinya Mama secepatnya!" Perintahnya Jingga yang melihat ke sekelilingnya.
Kabir yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi segera berjalan ke arah istrinya yang hanya memakai handuk yang terlilit di pinggangnya.
"Sayang apa yang terjadi padamu! Ingatlah kamu itu lagi hamil anak kita, jangan bangun terburu-buru seperti ini juga!" Cegahnya Kabir Kasyafani.
__ADS_1
"Aku mendengar suara teriakannya Mama dan kak Jingga suamiku!" Ucapnya Senja dengan sedikit meninggikan volume suaranya itu.
"Kalau gitu kita bersama ke lantai bawah, tapi aku harus berpakaian dulu, kamu bisa menunggu aku kan?" Tanyanya Kabir yang sudah ngacir ke arah kamar ganti.