
"Pak Kabir apa ini bercanda atau berpura-pura sekedar untuk melanjutkan aktingnya yah? Ingat disini enggak ada orang lain loh hanya kita berdua saja," ucapnya Senja yang reflek berbicara seperti itu tapi langsung menunduk agar ekspresinya tidak kelihatan oleh dosen sekaligus suaminya itu.
"Aku sungguh…" ucapannya Kabir terpotong karena suara ketukan di pintu yang cukup nyaring.
Kabir mengerang keras saking kesalnya karena sedikit dan selangkah lagi ia sudah bisa mengucapkan dan mengungkapkan perasaannya masing-masing. Tapi,apa boleh buat punya kambing bulat-bulat harus kembali menuai kegagalan lagi.
"Kamu sana bukain pintunya Abang mau berpakaian dulu," pintanya Kabir dengan wajahnya yang sungguh kesal karena moments yang indah harus terganggu dengan orang ketiga.
Senja terkikik melihat raut wajahnya Kabir yang ditekuk," hahaha pak Kabir lucu juga yah kalau marah, tapi ngomong-ngomong pak Kabir tadi akan ngomong apa yah? Ihh jadi penisirin kalau seperti ini," gumam Senja yang memperbaiki pakaian piyama tidurnya sebelum membuka pintu.
"Maaf Non muda saya ganggu," ucap sesal ni Diah sang asisten pembantu rumah tangganya Aliyah.
"Tidak apa-apa kok Bi, memangnya ada apa?" Tanyanya Senja yang masih tersipu malu jika mengingat kembali adegan yang baru terjadi.
"Itu ada teman kerjanya Tuan Muda Kabir Non,katanya ingin bertemu dengan Tuan Kabir malam ini juga," jawab Bi Diah.
"Teman kerja, bukannya pak Kabir paling jengkel kalau ada orang yang bawa kerjaan ke rumah, hemm jadi penasaran siapa orang yang berani ganggu singa Asia itu," cicitnya Senja.
Bi Diah memperhatikan dengan seksama Senja dari atas hingga ujung paling bawahnya Senja.
"Ya Allah seperti kedatangan tuan ganteng itu salah deh dan tidak datang pada waktu yang tepat, waduh saya bisa kena marah kalau Non Jingga tahu masalahnya ini," lirih bi Diah.
"Sen! Katakan pada bibi suruh tunggu aku sebentar saja!" Teriaknya Kabir dari arah dalam kamar mandi yang sedikit dibuka pintunya dan kepalanya Kabir menyembul keluar.
"Kalau gitu saya permisi dulu Non, selamat malam," ucapnya Bu Diah yang segera ngacir dan cabut dari tempat itu dengan tergesa-gesa.
"Siapa yah orang yang mencari pak Kabir, apa aku perlu turun juga lihat siapa orangnya yah," gumam Senja.
Kabir segera menarik tangannya Senja yang hendak keluar kamar kemudian memeluk tubuhnya Senja.
"Sen! Kamu cukup berdiam diri dan duduk manis di dalam kamar nungguin Abang balik," bisiknya Kabir tepat di daun telinganya Senja yang membuat Senja kegelian.
Kabir segera berlalu dari hadapannya Senja tapi ia sempatkan untuk mengecup sekilas bibirnya Senja.
__ADS_1
"Abang akan melanjutkannya nanti,kamu harus bersiap yah jangan sampai lupa kalau Abang akan minta hakku sebagai suamimu malam ini," ucapnya Kabir dengan memperlihatkan raut wajahnya yang penuh misteri itu.
Apa yang disampaikan oleh Kabir membuat bulu kuduknya meremang dan berdiri.
"Pak Kabir saya akan tunggu bagaimana kamu bisa membahagiakan aku seperti semua perkataanmu itu," gumam Senja kemudian segera berjalan ke arah lemarinya karena mencari sesuatu di dalam laci lemari pakaiannya itu.
Senja juga mencari air untuk segera diminumnya kala itu. Sedangkan Kabir sudah menuruni tangga dan penasaran dengan siapa orang yang mencarinya. Tapi,ia cukup terperangah melihat apa yang terjadi di dalam ruang tamu rumah mertuanya itu.
"Bapak yah datang bertamu ke rumah orang enggak tahu sopan santun! Mentang-mentang bapak orang kaya sehingga tingkah lakunya seperti ini!" Sarkasnya Jingga.
"Ya Allah kamu jadi perempuan judes amat, apa jangan-jangan kamu baru makan cabe atau lagi pms yah, saya hanya duduk seperti ini dan merokok sebatang saja sudah dicap enggak menghargai!" Ketusnya pria itu yang tidak mau kalah.
"Kok kamu tahu kalau aku baru saja makan makanan yang pedes? Jujur saja setelah melihat wajahmu itu aku seperti makan cabe layaknya buatan ibu mertua jahat!" Cibirnya lagi Jingga.
"Hem!" Kabir pun berdehem untuk mengalihkan perhatian kedua orang itu yang tidak tahu akar permasalahan dari perdebatan dan pertengkaran keduanya.
Jingga dan Pria itu segera menolehkan kepalanya ke arah tangga dimana Kabir menuruni undakan anak tangga satu persatu.
"Assalamualaikum Bang Guntur," sapanya Kabir yang tersenyum lebar melihat kedatangan kakak sepupunya itu.
Jingga mengerutkan keningnya melihat sikap kedua Pria itu. Dia tidak menyangka jika orang yang tidak tahu tata krama bertamu itu adalah keluarga dari adik iparnya sendiri.
"Waalaikum salam, hemmph aura pengantin barunya langsung kelihatan nih padahal baru beberapa jam," ucapnya Guntur.
"CEO Guntur Aswin Nasution ini sungguh luar biasa bisa menebak apa yang telah terjadi dengan kehidupan rumah tangga orang, tapi sayangnya anda tidak punya pengalaman jadi jangan asal nebak saja," balasnya Kabir yang memeluk tubuh kakak sepupunya sekaligus teman terbaiknya Kabir yang baru balik dari USA New York Amerika Serikat.
"Alhamdulillah berkat mata seseorang sehingga aku bisa balik lebih cepat dari jadwal prediksi dokter," imbuhnya Guntur.
Perkataan Guntur membuat langkah kakinya Jingga terhenti seketika dan mencuri dengar pembicaraan kedua pria yang sulit untuk memilih siapa yang paling ganteng tampan dan kaya itu.
Guntur Aswin Nasution adalah kakak sepupu dari pihak bundanya Kabir Bu Hanin Mazaya Nasution. Tetapi mereka pernah kuliah di USA sama-sama dengan jurusan yang sama pula yaitu manejemen ekonomi.
"Syukur alhamdulilah bang, untungnya ada orang yang berhati mulia menolong Abang sehingga semua masalah dalam hidup Abang teratasi sudah, hanya menunggu hasil dari pemeriksaan dan penyelidikan kepolisian apakah benar itu murni hanya kecelakaan maut biasa ataukah memang ada oknum yang sengaja melakukan dan merencanakan kecelakaan itu," tuturnya Kabir.
__ADS_1
Kedua pria tampan itu segera duduk di atas sofa ruang tamu. Mereka melanjutkan perbincangan mereka tapi, sama sekali bukanlah masalah pekerjaan di perusahaan masing-masing yang mereka bicarakan tapi masalah orang yang telah berjasa besar menolongnya.
Kabir mengerutkan keningnya melihat tingkah lakunya Guntur, "Ada apa denganmu! sepertinya ada yang mengganjal pikiranmu itu," tebaknya Kabir.
"Ngomong-ngomong apa aku boleh merokok sebatang saja," pintanya Guntur sambil menaikkan bungkusan rokoknya.
Kabir mengetahui secara jelas dan pasti jika Guntur kakaknya itu dalam keadaan merokok pasti menemui masalah yang cukup pelik dan rumit.
Jingga baru hendak menajamkan pendengarannya itu, tapi karena kedatangan mamanya Aliya sehingga ia kembali melanjutkan perjalanannya menuju dapur yang sempat tertunda.
"Kamu memang selalu mengerti dan paham dengan apa yang terjadi padaku, aku tidak tahu harus bagaimana, karena orang yang memberikan kornea matanya padaku sebelum dioperasi berpesan padaku," terang Guntur lagi yang segera menghabiskan rokoknya itu.
"Ngomong-ngomong disini itu dilarang keras orang untuk merokok bagi siapapun," ungkapnya Kabir yang membuat Guntur cukup terkejut dengan pernyataan dari Kabir.
"Pantesan cewek tadi sewot dan marah banget padaku ketika melihat aku membakar sebatang rokok di depannya," cicitnya Guntur.
"Jadi apa yang dikatakan oleh sang penyelamat itu sebelum meninggal dunia?"
Guntur mulai menjelaskan dari awal hingga akhirnya pria itu memberikan matanya dengan sukarela tanpa meminta balasan dan imbalan uang atau semacamnya.
"Pria itu memintaku untuk menikahi calon istrinya karena katanya pria itu sudah bertunangan dengan kekasihnya, tapi karena kondisi kesehatannya yang tiba-tiba drop dengan penyakit yang mematikan sehingga ia tidak sanggup untuk menjelaskan kepada tunangannya itu masalah penyakit disisa usianya itu," ungkapnya Guntur sambil mengusap wajahnya dengan gusar.
"Itu bagus loh dapat perempuan cantik yang akan langsung kamu nikahi tanpa banyak pengorbanan," candanya Kabir.
"Itu tidak mungkin lah Ka, aku sudah punya calon istri sendiri dan kami juga berencana akan menikah, aku tidak mungkin tidak menepati janjiku pada pria penyelamatku tapi disisi lain aku sangat mencintai Tania," keluhnya Guntur.
"Gimana kalau kamu nikahi mereka saja langsung daripada pusing mencari cara untuk jalan keluar terbaik dan menurut aku poligami solusi dari masalahmu bro," imbuh Kabir yang juga rupanya ikut pusing dengan permasalahan kakak sepupunya.
"Apa! Kau sudah gila apa… itu sungguh crazy jika hidupku harus memiliki dua istri sekaligus, apa tidak ada yang solusi yang paling baik kamu berikan selain poligami gitu," ucapnya prustasi.
"Tapi ngomong-ngomong apa kamu pernah bertemu dengan perempuan itu atau sudah mengenalnya mungkin? Kalau aku diposisi kau pasti aku bertanya pada kata hatiku bukan logika atau apa yang aku lihat tapi hatiku berkata apa dan maunya perasaanmu apa, itu jalan keluar terbaik." Usulnya Kabir.
"Rencananya aku akan menemui perempuan itu tapi entah kapan, akupun bingung jadinya, tapi hari minggu ini jenazah pria itu akan dikebumikan kembali di tanah kelahirannya di Bandung jadi mungkin aku bisa bertemu dengan perempuan itu," jelasnya Guntur yang sesekali menghela nafasnya dengan cukup keras.
__ADS_1