
Senja memutuskan untuk memenuhi tanggung jawab dan kewajibannya sebagai seorang istri. Tapi untuk hatinya urusan belakangan. Ia tidak mau terkesan terlalu terburu-buru untuk menyerahkan sepenuhnya hatinya untuk Kabir.
"Untungnya aku sudah minum, jadi aku tidak akan… maafkan aku pak Kabir untuk sementara aku harus melakukan hal ini, karena aku masih ragu pada perasannya Abang padaku, apalagi aku cukup trauma dengan pernikahan mama dan papa yang pernah kandas di tengah jalan gara-gara orang ketiga, aku tidak ingin jika kelak atau esok hari aku mencintai pak Kabir dan menyerahkan sepenuhnya hatiku ini tapi, tiba-tiba pak Kabir berubah malah jatuh cinta pada perempuan lain di luar sana yang lebih cantik dan lebih baik dari diriku segala-galanya,"
Senja pun ikut memejamkan kedua matanya untuk segera menyusul Kabir yang lebih duluan tertidur. Setelah dirasa Senja sudah tertidur pulas barulah Kabir membuka matanya yang sedari tadi hanya berpura-pura tertidur.
Kabir tidur menyamping dengan tangannya bertumpu pada kepalanya sambil mengelus setiap inci dan sudut wajahnya Senja.
"Aku sangat yakin jika kamu itu belum sepenuhnya mencintaiku, dari gerak gerik gestur tubuhmu itu yang membuat aku yakin jika kamu belum sepenuhnya mencintaiku, tapi aku tidak akan menyerah begitu saja untuk membuatmu jatuh cinta padaku cepat atau lambat aku akan pastikan kamu tidak akan bisa hidup tanpaku seperti halnya aku tidak bisa hidup dengan tenang jika tidak bersamamu Senja Starla Airen Zain," Kabir mengecup dari kening, hidung hingga bibirnya yang Senja yang sedikit bengkak akibat ulahnya tadi.
Kedua pasangan suami istri itu pun terlelap dalam buaian mimpi indahnya. Sedangkan di tempat lain seorang pria kesal dengan kelakuan kekasihnya yang mengabarkan kepadanya awalnya untuk segera dijemput di bandara internasional Soekarno Hatta.
Tetapi, berselang beberapa menit kemudian Tania Ivanka Elizabeth segera menelponnya jika menejernya lebih duluan sampai menjemputnya di bandara. Tania beralasan jika Guntur terlalu lambat datang, padahal menurut Guntur baru sekitar lima belas menit menelponnya.
"Tapi sayang kamu itu pergi hampir tiga bulan loh, kalau aku enggak jemput kamu dan bertemu denganmu malam ini aku pasti kedepannya sibuk jadi sulit untuk betrju," jelasnya Guntur yang berusaha untuk membujuk kekasihnya sekaligus tunangannya itu.
"Sayang mohon mengertilah keadaanku, aku harus segera menyelesaikan pemotretan malam ini, agar kita bisa bertemu secepatnya setelah acaraku satu ini," bujuknya Tania yang kegelian ketika berbicara dengan Guntur.
Tania menaruh jari telunjuknya di depan bibirnya, agar orang yang duduk di sampingnya tepat di belakang kemudi mobilnya itu berhenti menggoda dan mengekspansi sebagian tubuhnya dibalik benang berwarna merah itu.
"Kalau memang kamu akan bekerja aku pasti mengerti, kalau gitu aku tutup telponnya," ucapnya Guntur yang segera mematikan sambungan teleponnya itu.
Guntur menghela nafasnya dengan berat karena dia sudah berada di parkiran bandara tapi kedatangannya seperti ditolak oleh Tania. Mobil sedan merah segera meluncur berpapasan dengan mobilnya Guntur.
__ADS_1
Guntur memukuli setir kemudi mobilnya berulang kali," sial padahal tadi aku ingin berbincang-bincang lebih lama dengan Kabir, tapi gara-gara telponnya Tania aku terlalu terburu-buru untuk datang tapi tau-taunya malah seperti ini kejadiannya,"
Guntur tidak mengetahui, jika mobil yang berpapasan dengannya di depan loket parkiran bandara adalah mobil yang dikendarai oleh seorang pria yang sangat dikenalnya berduaan dengan perempuan yang hendak dijemputnya.
"Mungkin aku akan ke apartemennya saja untuk nungguin sampai dia pulang dan memberikan kejutan padanya," cicitnya Guntur yang segera meninggalkan bandara.
Berselang beberapa menit kemudian, Guntur sudah sampai di lobi apartemen, ia hendak ingin keluar dari mobilnya. Tapi, netra hitamnya melihat dua orang berjalan dengan penuh kemesraan, kedua tangan mereka saling melingkar di tubuh masing-masing pasangannya.
Guntur memicingkan matanya agar tidak salah dan keliru melihat dengan jelas siapa orang tersebut. Guntur tidak menyangka jika perempuan yang berangkulan sangat mesranya adalah kekasih sekaligus tunangannya itu.
"Aku pasti salah lihat, aku yakin itu bukan Tania, tapi perempuan lain yang mungkin hanya wajah mereka mirip dari kejauhan," cicitnya Guntur yang masih berusaha untuk meyakinkan bahwa itu bukan perempuan yang sangat dicintainya.
Guntur segera berjalan perlahan di belakang kedua orang itu dan tidak lupa mengambil sebuah topi berwarna hitam untuk dipakainya agar tidak ketahuan jika dia membuntuti Tania dengan pria lain yang menjadi menejernya selama bekerja menjadi model majalah dewasa.
"Sayang kamu memang sangat pintar berbohong untuk menutupi hubungan kita," ucapnya Dion pria yang menjadi menejernya yang selalu menemaninya kemanapun perginya Tania.
"Ini tidak boleh dibiarkan berlarut-larut, aku tidak ingin terus hidup dalam kebohongan dan tipu muslihat perempuan berbahaya itu," geramnya Guntur.
Hingga Guntur memilih terus mengikuti kemanapun perginya kedua pasangan selingkuh itu. Guntur berjalan mengendap-endap menuju lift ketika terbuka lebar dan masuklah banyak orang secara bersamaan sehingga apa yang dilakukan oleh Guntur tidak ketahuan jika dia masuk bersama dengan yang lainnya.
Unit apartemennya Tania itu adalah hadiah pemberian dari Guntur ketika hubungan mereka baru berjalan setahun. Unitnya itu berada di lantai delapan.
"Jika memang kamu benar-benar selingkuh dengan pria itu, aku tidak ingin melihat kamu berada di depan mataku lagi, semua sumber daya yang aku berikan berupa mobil, apartemen dan kartu kredit tanpa batas semuanya aku akan sita dan ambil kembali, masa bodoh dengan tanggapan orang-orang, yang paling penting aku tidak mau dibohongin oleh siapapun di dunia ini," tekadnya Guntur yang berdiri paling sudut di dalam lift tersebut yang cukup sesak karena orang.
__ADS_1
Ting…
Bunyi pintu lift terbuka, Guntur tidak ikut serta ke luar lift. Dia tidak ingin terlalu mencolok dan ketahuan, jika dia memata-matai dan mengikuti kemanapun perginya Tania dengan Dion.
Tania dan Dion masuk ke dalam unit apartemennya itu tanpa mengetahui sedikitpun, apabila mereka diketahui sudah keburukan dan kebusukan keduanya sehingga mereka dengan santainya bermesraan di depan pintu apartemennya sambil menunggu pintu terbuka.
Keduanya berciuman penuh kemesraan beberapa detik hingga suara tepuk tangan seseorang terdengar jelas dari arah belakang punggungnya Dion. Tania terperangah dan kedua matanya melotot saking terkejutnya melihat kedatangan Guntur yang berdiri di depan tembok dengan melipat kedua tangannya ke atas dadanya itu.
"Mas Guntur!" Cicitnya Tania.
Guntur berusaha bertindak dewasa dan tidak mau ikut hasutan emosinya yang hampir meledak-ledak yang sudah berada dipuncak ubun-ubunnya. Ia cukup tenang dan sabar padahal melihat langsung perempuan yang sangat dicintainya itu berciuman dengan Asisten menejernya sendiri.
"Yoi benar sekali saya adalah Guntur Aswin Nasution mantan pacar sekaligus mantan tunangannya Tania Ivanka Elizabeth," ucapnya Guntur sambil mengulurkan tangannya ke arah tepat wajahnya Tania dan Dion yang pucat pasi itu.
Keduanya salah tingkah, kelimpungan, ketakutan karena akhirnya rahasia keduanya terbongkar juga.
"Mak-sudnya apa? Kenapa mengulurkan tangannya Ma" tanyanya Tania yang tidak bisa menyembunyikan rasa gugup dan ketakutannya itu.
"Maksud saya balikin semua yang pernah saya berikan padamu, termasuk kunci apartemen ini, mobil, beberapa kartu ATM dan kredit kalau masalah perhiasan anggap saja saya sudah berdonasi dan menyumbang kepada kalian pasangan miskin yang rela melakukan apapun demi obsesi dan impian kalian!" Sarkasnya Guntur.
Guntur setelah melihat keduanya bermesraan segera mencari tahu apa sebenarnya yang terjadi dengan mengutus salah satu anak buah kepercayaannya untuk menyelidiki apa saja yang diperbuat oleh Tania dan Dion selama ini.
Fakta baru terungkap jika Tania menjadi kekasihnya Guntur sebagai permintaan dari Dion untuk memanfaatkan dan menargetkan agar bisa dijebak dan dimanfaatkan segala kekuasaan, kekuatan dan kejayaan, kekayaan yang dimiliki oleh Guntur dan kelurga besarnya.
__ADS_1
"Cepat berikan sebelum batas kesabaran ku habis!!" Ancamnya Guntur.
Tania berusaha untuk mencari pembelaan dan alasan agar Guntur percaya padanya dan tidak memutuskannya. Tetapi segera dicegah oleh Dion agar masalah tersebut tidak terendus ke media massa