
Kepergian kedua orang tuanya menimbulkan rasa sedih dari kedua putri kembarnya itu. Senja dan Jingga sangat sedih melihat dan melepaskan kepergian kedua orang tuanya ke Mekkah tanah suci.
Leo Carlando dan Aliyah Azizah pergi ke Mekah tanah Arab Saudi untuk melaksanakan umroh untuk pertama kalinya bersama dengan pasangan hidupnya.
Kabir merangkul tubuhnya Senja dari arah samping," kamu tidak boleh sedih dan banyak pikiran seperti ini, kamu tadi kan merasa tidak enak badan jadi kalau semakin sedih seperti ini bisa-bisa…" ucapannya Kabir terpotong dan belum sanggup diselesaikannya Senja tiba-tiba tubuhnya luruh.
Untungnya Kabir sigap dan cepat tanggap sebelum Senja terjatuh ke atas lantai keramik lobi bandara internasional Soekarno Hatta.
"Senja!! Apa yang terjadi padamu sayang!" Teriaknya Kabir.
Guntur dan Jingga yang baru saja berputar arah, langkahnya terhenti ketika mendengar suara teriakannya Senja. Guntur dan Jingga pun segera berlari cepat ke arah dua pasangan suami istri itu.
"Kabir apa yang terjadi pada adikku?" Tanyanya Jingga.
__ADS_1
Kabir belum menjawab pertanyaan dari kakak iparnya karena segera menggelar tubuh istrinya itu.
"A-nu a-ku juga tidak tahu kenapa bisa Senja pingsan," ucapnya Kabir yang berjalan cepat sambil menggendong ala bridal style oleh Kabir.
Guntur dan Jingga berjalan mengikuti kemana perginya Kabir yang membawa Senja dalam gendongannya. Orang-orang yang kebetulan ada di sekitar tempat itu, melihat apa yang dilakukan oleh Kabir.
"Bang kamu yang nyetir mobilnya," teriak Kabir sambil melempar sebuah kunci ke arahnya Guntur.
Guntur segera menangkap lemparan kunci itu dari tangannya Kabir adik sepupunya. Guntur dan Jingga bergegas berjalan lebih duluan dari Kabir.
Peluh keringat bercucuran membasahi sekujur tubuhnya Kabir. Wajahnya mengkilap terkena paparan pantulan cahaya akibat peluh keringat membasahi pipinya.
"Ya Allah apa yang terjadi pada istriku, kenapa sudah dua kali hari ini pingsan, semoga istriku tidak mengalami masalah yang serius, aku sangat takut dan mencemaskan keadaannya, aku tidak terjadi sesuatu pada istriku," lirihnya Kabir yang terus menggendong Senja walau ada rasa lelah pastinya.
__ADS_1
Orang-orang semakin memperhatikan apa yang dilakukan keempat orang itu, terutama Kabir yang tidak henti-hentinya dan tak lelah sedikitpun menggendong tubuh sang istri.
Berselang beberapa menit kemudian, suara deru mesin mobil terdengar di telinga semua orang yang berlalu lalang di sekitar Kabir. Hiruk pikuk di bandara sama sekali tidak membuat Kabir risih atau terganggu dengan apa yang dilakukan oleh Kabir. Bahkan semakin banyak mata yang menatap mereka.
"Ya ampun Pria ini so sweet banget memperlakukan wanitanya," ucapnya seorang perempuan muda.
"Aku yakin perempuan cantik yang digendongnya adalah istrinya," tebak salah satu wanita yang ada di dekatnya perempuan yang pertama kali berbicara.
"Kalau saya yang digendong pasti sangat bahagia menikahi pria yang begitu penyayang dan pengertian seperti pria ganteng itu, dan aku yakin pria itu orang sultan lihat saja dari semua pakaian yang dipakainya," pujinya seorang gadis yang mendorong troli barangnya yang cukup banyak.
"Bermimpi lah supaya kamu ikut ketiban durian runtuh dan dapat suami yang melebihi dari pria itu," cibirnya seorang wanita yang sudah cukup tua.
"Cepat naikkan tubuhnya kakak ipar, sebelum terlambat," perintahnya Guntur.
__ADS_1
"Iya Kabir sebelum terlambat, aku takut sekali melihat adikku seperti ini," imbuhnya Jingga yang mulai khawatir melihat adiknya raut wajahnya yang pucat pasi.