
"Tenanglah Sen, anak-anakmu pasti baik-baik saja, lagian mereka berpamitan sama kamu kan," bujuknya Jingga yang melihat adiknya tidak tenang mondar-mandir ke sana kemari seperti setrikaan saja.
Senja menghentikan langkahnya ketika mendengar perkataan dari kakaknya.
Senja berjalan ke arah dimana teman dan saudara-saudarinya berada,"Tapi, Mbak sudah hampir jam sepuluh malam mereka belum pulang juga, aku sangat mencemaskan keadaan mereka."
"Tante Apa nomor ponselnya mereka sudah dihubungi?" Tanya Giska Inayah yang berbicara dengan Senja tapi tatapan matanya tertuju pada Ocean Skala Pratama.
"Iya Aunty, mungkin bisa saja mereka terkena macet," timpalnya Raisa Andriana.
Gibran yang menuruni tangga pun keheranan melihat orang-orang yang di jam begini belum ada yang beristirahat di dalam kamarnya.
"Ada apa dengan kalian, kok belum ada yang beristirahat?" Tanyanya Gibran yang sebenarnya sedang menelepon seseorang melalui lewat telpon tapi, karena keheranan sampai-sampai melupakan keberadaan telponnya itu.
"Jihan dan Jinan belum pulang, itulah yang membuat Mommy kamu resah dan khawatir," jawab Hana Aerin.
"Moms tidak perlu kuatir dengan mereka karena mereka berpamitan padaku kok Mind. Lagian mereka bukan anak kecil lagi mereka juga dibekali bela diri jadi, tidak perlu seperti juga," tukasnya Gibran yang segera meninggalkan ruangan tengah tempat berkumpulnya keluarga besar mereka.
"Kalau gitu kalian tidurlah, aku saja dan Giska yang menunggu kepulangan mereka. Ingat besok pagi kita pasti akan sibuk. Alif kamu masuk saja persiapkan mental kamu untuk akad nikah kau besok," titahnya Ocean.
"Iya, ada aku yang akan menunggui mereka sampai pulang. Kami juga ada kerjaan dikit. Iya kan kak Oce," ucapnya Giska yang mengedipkan matanya ke arah Ocean untuk mengajaknya bekerja sama.
"Baiklah, kalau begitu Aunty naik dulu. Ingat jangan lupa kunci rapat pintunya yah," ucap Senja.
Satu persatu mereka pun meninggalkan tempat tersebut dan masuk ke dalam kamar masing-masing. Ocean dan Giska tersenyum sumringah karena akhirnya punya waktu luang untuk berbicara berdua saja.
"Hari ini cukup melelahkan, aku masih sering tidak percaya dengan apa yang akan terjadi esok hari, putraku akan menikah dan tidak lama lagi aku akan mendapatkan cucu, ini sungguh luar biasa," ujarnya Icha Khaerunisa.
__ADS_1
"Hahaha, aku yang pengen anakku cepat nikah malah belum mau, alasan belum punya kekasih. Kan ini namanya aneh," dengusnya Hana Aerin..
"Hahaha kamu kan punya dua anak cowok, kenapa enggak suruh Iqbal saja duluan nikahnya. Kalau Asril mana mau dianya nikah muda," usulnya Zania Mirzani.
"Kalau anak-anak kalian gimana, apa mereka ingin menikah setelah usianya tua dulu bagkotan hampir kadaluarsa baru mau nikah!" Gerutu Vania Larissa.
"Hahaha sabar dong bestie, akan ada saatnya mereka minta nikah kok." Cercanya Zania Mirzani.
"Aku juga sejujurnya pengen anakku menikah tahun depan. Aku terlalu takut dengan keadaan pergaulan anak jaman now sekarang. Kan sudah ada contohnya maaf yah mbak Icha bukannya apa-apa tapi aku mencemaskan masa depan mereka." Ucapnya sendu Hana.
"Kalau gitu kalian melakukan pendekatan kepada anak-anak kalian dan tanyakan pada mereka kapan mereka berencana untuk mengakhiri masa lajangnya, supaya kalian bisa lebih tenang," tuturnya Jingga yang memberikan alasan kepada sahabat dan sepupunya itu.
Para emak-emak itu berjalan beriringan sambil berbincang-bincang santai hingga ke depan kama masing-masing. Rumah yang cukup besar bayangkan ada sembilan kepala keluarga yang sementara waktu mengisi setiap kamar ditambah anak-anak mereka.
Ada Raisa dengan Jihan, Giska dengan Delila satu kamar. Dania dengan Jinan serta Iqbal, Alif, Gibran, Ocean, Asriel kamar mereka berbeda ditambah khusus untuk kamar maid mereka yang bekerja di kediaman Septa Danu Triadji.
"Hahaha berarti bakal ada yang besanan. Kalau aku sudah pasti kekasih mereka bukan keluarga kita sendiri," sahutnya Senja.
"Terserah mereka saja sukanya siapa dan mau nikah dengan siapapun itu terserah. Asalkan tidak jadi pelakor ataupun pebinor itu sudah cukup. Benar gak apa kataku?" Imbuhnya Ica.
Semua orang sudah masuk ke kamar pribadi masing-masing. Memang fasiltas penunjang kamar mereka berbeda, tapi itu tidak mengurangi kekompakan mereka bersama.
Tuan Besar Septa adalah papi mertuanya Senja sehingga otomatis kamarnya Senja dan Kabir cukup luas dan lebih bagus. Serta kamar Jingga, Hana day Vania kualitas nomor dua mengingat mereka dan suami-suami mereka keponakannya Bu Hanin Mazaya bundanya Kabir.
Sedangkan para suami-suami bijak dan ganteng itu berada di kantor untuk mengurus pekerjaan mereka sebelum lima hari kedepannya mereka akan balik ke tanah air Indonesia Jakarta.
Di belahan kota lainnya, tepatnya di wahana permainan London Eyes.
__ADS_1
Jihan sama sekali tidak pernah berfikir ataupun membayangkan, jika kisah cinta mereka akan seperti ini jadinya. Pria yang begitu disayang, dicintainya dan disanjungnya ternyata seorang penipu dan pembohong.
Jihan kembali duduk dengan tenang ke atas kursinya itu dan mesin perlahan berputar dan membawa semua pengunjung menikmati keindahan alam kota London malam itu.
"Air matamu itu terlalu berharga untuk seorang pria brengsek yang katanya mencintaimu setulus hatinya, tapi bertopeng kepalsuan dan kebohongan besar,"
"Kamu bego terus menerus menetes air mata untuk pria luknut bernama Gamaliel Audrey Jun. Seperti tidak ada pemuda lain saja di dunia ini,"
Seolah ada dua orang yang berbicara lantang padanya langsung di depan matanya untuk mengingatkan kesalahan yang telah diperbuat oleh Gamal.
"Tidak!! Pergi dari sini! Aku tidak akan mencintai bang Gamal lagi! Jadi tolong kalian berdua pergilah!" Teriak Jihan yang mengusir keduanya yang terus mengolok-oloknya.
Kedua alisnya Faiaz saling bertaut melihat apa yang dilakukan gadis cantik di depannya itu.
"Kalau berteriak kencang bisa meredakan kegalauan dan kegundahan hatimu. Maka berteriaklah sekencangnya."sarannya Faiaz Albar Wilson.
Jihan yang mendengarnya langsung tertunduk malu, karena dirinya nampak kacau di depan orang asing yang sama sekali tidak dikenalnya. Hanya bertemu dua kali tanpa sengaja saja.
"Bukan hanya kamu yang pernah patah hati, aku pun pernah merasakannya. Kamu mungkin hanya diselingkuhi dengan kekasihmu menikahi perempuan lain, tapi aku di depan mataku langsung kekasihku menikah dengan selingkuhannya. Tapi aku lambat laun berfikir, hidupku terlalu berharga untuk meratapi dan menangisi orang yang tidak tepat." Nasehatnya Faiaz.
"Benar juga apa yang dikatakannya barusan. Di dunia bukan hanya satu cowok. Tapi banyak, lagian aku tidak jelek aku yakin akan banyak laki-laki yang akan jatuh cinta padaku." Terangnya Jihan.
"Syukur alhamdulilah akhirnya kamu tersadar juga, hidup memang seperti ini kata orang kalau tidak mau patah hati jangan coba-coba berani untuk membuka hatimu untuk mencintai orang lain begitu saja, hidup ini simpel jangan dibuat menjadi ribet," Faiaz berucap lagi.
Kamu memang sengat cantik sehingga aku jatuh cinta dalam pesonamu dan aku tidak mungkin bisa berpaling darimu.
"Makasih banyak, sepertinya sudah waktunya untuk turun sudah larut malam juga," Jihan berbicara menggunakan bahasa Indonesia saja karena lawan bicaranya cukup fasih berbahasa Indonesia hanya wajahnya yang tidak seperti orang pribumi asli Jakarta.
__ADS_1