
"Maafkan bunda Nak, belum saatnya kau tahu rahasia besarnya bunda, cukup kamu hidup bahagia selamanya dengan istrimu pilihan hatimu sendiri, jangan seperti bunda yang menikah dengan papamu mas Abbas tapi, hatiku hingga detik ini masih milik pria yang sangat aku cintai hingga detik ini," Bu Hanin menyeka air matanya itu.
"Siapapun yang melihat fotonya Kabir dan Senja pasti akan kagum dengan ketampanan dan kecantikan alami yang dimiliki keduanya, saya berharap putraku juga segera menikahi tunangannya Tania agar kami segera menimang cucu," ucapnya Bu Yuanita maminya Guntur.
Mereka semua masih berdiri di depan pintu masuk sambil menunggu iringan rombongan pengantin baru itu datang.
"Sepertinya keponakanku yang satu itu akan segera menikah dengan kekasih pilihan hatinya Mbak Yunita,tapi sesuai yang aku ketahui bukan Tania deh calon istrinya Guntur Aswin Nasution," tampiknya Bu Henny Marsha.
Yunita Sahita yang mendengar perkataan dari salah satu adik ipar kembarnya itu segera berjalan ke arah Henny dengan menarik tangannya Henny agak menjauh dari yang lain.
Bu Yunita berbisik di telinganya Henny, "Kenapa kau berkata seperti itu? Bukannya calon istrinya Guntur putraku adalah Tania bukan perempuan lain," tukasnya Bu Yuanita tepat di telinganya Henny.
"Hemp! Mbak bertanya saja pada putranya Mbak enggak enak kalau aku yang berbicara di depan umum tentang apa yang terjadi pada Guntur dan calon istrinya itu.
Henny segera melenggang meninggalkan kakak iparnya itu bersama dengan putri keduanya yaitu Neelam.
"Mama kenapa harus ngomong seperti itu sih di depannya Tante Yuni? Biarkan saja Tante Yuni sendiri yang mengetahui keburukan dan kebusukannya Tania, karena aku kasihan dengan Tante Yuni yang terlalu sayang dan percaya pada ular betina itu,kalau aku lebih memilih gadis kampung yang jelas-jelas tidak punya ambisi dan niat jahat di bandingkan dengan Tania perempuan yang sok suci tau-taunya perempuan matre dan nakal,kalau Kabir menikah dengannya bisa-bisa kita akan ditertawakan oleh relasi bisnisnya papa, dan kakakmu," ungkapnya Neelam.
"Ush jangan keras-keras suaranya, ingat tembok pun memiliki telinga loh apapun yang kamu bicarakan bisa terdengar sampai ke telinga Kabir dan Oma kamu,apa kamu ingin melihat ada perang dingin lagi! Cukup kemarin Bintang berulah kamu cukup jadi anak perempuanku yang penurut," lirihnya Bu Henny.
Para tamu undangan sudah memenuhi semua sudut ruangan, hingga semakin lama acara semakin ramai. Sungguh begitu mewah acara resepsi pernikahan Senja dan Kabir.
Jingga dan Dewi tampil sangat cantik malam ini hingga mereka terlihat seperti adik kakak saja. Berbagai ucapan selamat dan doa tulus datang dari berbagai kalangan jetset, artis papan atas, politis maupun tamu dari mancanegara sudah berdatangan meramaikan acara tersebut.
Senja dan Kabir menjadi ratu dan raja sehari malam ini. Semua orang bersyukur karena acaranya sukses dan berhasil dengan sukses.
Bu Hanin memeluk tubuh anak menantunya itu," Masya Allah kamu sungguh cantik putriku, Kabir sungguh pintar mencari istri," ucapannya Bu Hanin mampu membuat Senja tersipu mendengar perkataan dari ibu mertuanya itu.
"Benar sekali apa yang nyonya Haning katakan, bahwa pengantin wanita sungguh mampu menyita perhatian kita semua, Kabir ingat istrimu ini sungguh cantik tolong dijaga dengan baik," ujarnya Danuarta papinya Guntur.
Kabir spontan memeluk secara posesif istrinya itu di hadapan dan di depan orang banyak.
__ADS_1
"Saya tidak akan biarkan siapapun di dunia ini merebut istriku ataupun menganggu kebahagiaan kami, om tidak perlu khawatir," timpalnya Kabir yang membuat semua orang tersenyum mendengar perkataannya itu.
Senja menatap intens ke arah suaminya itu," ya Allah Pak Kabir kenapa wajahmu dipandang dari sudut ini kok semakin ganteng saja, aura pengantinnya keluar. Hemm mengangumi ketampanan suami sendiri enggak apa-apa kan,"
Senja hanya tersenyum simpul menanggapi segala ucapan dari semua tamu undangan.
Leo Carlando, Lutfi Khaer, Sasmita Larasati, Bu Masitah, Adicandra Bima Satria, dan segenap keluarga besar Aliya dan Leo pun tidak mau kalah dengan kelurga besannya.
Guntur pun sudah datang dia mengedarkan pandangannya mencari keberadaan seseorang yang sejak tadi sore mampu mengusik ketenangan hidupnya.
"Nak mami perhatikan kamu sejak tadi sangat gelisah dan seperti mencari seseorang? Tapi ngomong-ngomong Tania mana kok belum muncul juga?" Tanyanya Bu Yunita.
Kabir hanya menatap nanar maminya itu tanpa berniat untuk menimpali ataupun menjawab pertanyaan dari maminya karena masih kesal dengan ulahnya adiknya Bintang yang bersama dengan mamanya.
"Tidak apa-apa mungkin dia malu untuk datang," ucap Guntur segera berlalu dari hadapan maminya ketika melihat gadis cantik memakai hijab kuning gold.
Bu Yunita sedikit kecewa dengan sikap acuh tak acuh putra tunggalnya itu. Tapi, ia anggap itu masalah kecil mengingat Kabir dari perjalanan Bandung Jakarta hari ini yang memungkinkan dia capek.
"Kenapa montir cantikku seperti menghindari ku, apa salahku padanya?" Segala macam pertanyaan muncul dan terbersit di benaknya Guntur mengenai Jingga yang menurutnya menghindarinya.
Semua bercanda, bersenda gurau sambil berbincang-bincang satu sama lainnya. Aliya Sesekali menyambut kedatangan tamu undangannya bersama dengan Leo suaminya yang baru saja rujuk kembali dengannya.
"Semoga kalian menjadi pasangan suami istri yang selalu dilimpahkan berkah dan kasih sayang dari Allah SWT dan menjadi keluarga yang sakinah mawadah warahmah, cukup kedua orang kalian yang pernah gagal janganlah ulangi kesalahan yang sama seperti mereka Nak," tuturnya Bu Sita Marsita sambil memeluk tubuh cucu keduanya itu.
"Amin ya rabbal alamin, makasih Nenek atas doanya, percayakan Senja padaku Nek insya Allah saya akan berusaha untuk selalu membuat Senja bahagia," imbuhnya Kabir.
"Alhamdulillah nenek sudah bisa tenang mendengar perkataanmu cucu mantu," Bu Sita mengelus lenganmu Kabir.
Semua orang turut berbahagia dengan pernikahan keduanya, hingga larut malam acara semakin ramai saja. Hingga hampir sesak gedung mewah dan megah itu dipadati oleh tamu undangan.
Leo dan Aliya bergandengan tangan melihat anaknya berada di atas panggung altar pengantin.
__ADS_1
"Mereka sungguh pasangan yang serasi dan aku berharap Kabir bisa membahagiakan putri kita Senja istriku," tuturnya Leo sambil mengecup punggung tangannya Aliya.
"Kabir pria yang baik dan bertanggung jawab sayang, aku yakin dia sanggup menjaga, melindungi Senja dengan baik yakinlah kepada mereka," sahutnya Aliya yang kebersamaan dan kemesraan mereka tidak pernah pudar dan luntur selama acara resepsi berlangsung.
"Aku berterima kasih kepada Anda Bu Aliah karena puteraku akhirnya mendapatkan pawangnya yang mampu membuatnya tunduk dan patuh sehingga sifat keras kepalanya perlahan pudar dan runtuh juga," terangnya Bu Haning.
"Besan tidak perlu berbicara seperti itu juga mungkin memang mereka terlahir satu sama lainnya untuk saling menyatu dan mengisi kekurangan masing-masing, kita cukup mengawasi dan membimbing mereka jika suatu saat keliru dalam bertindak dan bersikap," sahutnya Aliya.
"Benar sekali apa yang dikatakan oleh Bu Aliya Nak, kita sebagai orang tuanya tidak perlu terlalu ikut campur dalam kehidupan sehari-hari pengantin baru hanya cukup mengawasi dan mengarahkan mereka ke arah yang baik dan jalan hidup yang lurus seperti itu lah tugas kita sebagai orang tuanya," cercanya Bu Dahlia yang bergabung dengan yang lainnya.
Guntur terus mengawasi gerak-gerik Jingga hingga karena kurang hati-hati hingga Guntur menabrak tubuh seorang. Segelas minuman berwarna merah menodai pakaiannya Guntur. Pria itu menyeringai lebar melihat kepergian Guntur. Ia segera menghubungi salah satu rekannya.
"Maafkan saya pak saya tidak sengaja melakukannya," ucap pria itu.
"Tidak apa-apa kok, tidak perlu meminta seperti ini juga ini hanya masalah sepele," tampik Guntur yang segera berlalu dari hadapannya pelayan yang menyeringai melihat kepergian Guntur.
Guntur sama sekali tidak memperhatikan orang yang ditabraknya itu sehingga ia tidak mempermasalahkan hal tersebut.
"Cepat bertindak mereka berdua sudah masuk ke dalam jebakan yang sudah kita buat, ingat lakukan sedemikian rapi dan bersih jangan biarkan ada kesalahan sedikitpun," seringai licik muncul di sudut bibirnya itu.
Sedangkan di tempat lain, Bu Haning berjalan tergesa-gesa ke arah pintu masuk karena melihat beberapa rekan bisnisnya telah datang. Ia ingin menyambut tamu penting itu yang datang dari luar negeri.
Saking seriusnya berjalan dan tergesa-gesa,ia tidak melihat ada seorang pria yang berdiri di depannya membawa sebuah gelas yang berisi dengan minuman yang siap berbalik arah hingga keduanya saling bertabrakan.
"Aah!" Pakaiannya Bu Haning terkena cipratan noda berwarna merah di atas gaun cantiknya.
Bu Haning segera membersihkan seluruh pakaiannya yang terkena air berwarna itu.
"Maaf saya tidak sengaja Nyonya ini…," ucapannya terpotong karena melihat wajah perempuan yang ditabraknya itu.
Ibu Haning pun terdiam seribu bahasa ketika melihat pria yang kira-kira berusia lima puluhan masih kelihatan muda diusianya yang sudah sepuh itu. Keduanya saling berpandangan satu sama lainnya. Ada banyak arti dan makna dari tatapan keduanya.
__ADS_1
Pembaca sedikit tidak jadi masalah yang paling penting pembaca bisa hargai tulisan orang lain itu lebih bermakna daripada datang dengan komentar pedas dan menjatuhkan.
Bijaklah membaca dan berkomentar.