
Aliya mendengar seksama anaknya berbicara, hatinya terenyuh dan prihatin mendengar penjelasan putri kecilnya itu. Ia spontan terdiam memaknai perkataan anaknya,
"Ya Allah… semoga saja anakku kelak tidak mengalami pmasalah seperti ini, keluarga kami baik-baik saja, tapi aku heran dengan semua Pria di dunia ini apa satu istri saja tidak cukup!? Berani mendua yah tanggung jawab juga dong masa hanya suka sama istri baru saja sedangkan anak dan istri pertama dicampakkan,ini namanya kurang ajar dan lari dari tanggung jawab, kesal aku sama orang tua yang tidak punya hati nurani seperti mereka, tega banget!" Umpatnya Aliya yang murka dengan pria tidak bertanggung jawab seperti itu.
Senja hanya menyaksikan keduanya berbincang-bincang tanpa ada niat untuk menimpali percakapan dari mama dan kakaknya. Senja asyik menyantap bakso bakar dan goreng sekaligus yang menjadi makanan paling disukainya itu.
Mereka makan dengan begitu hikmah dan kedua anaknya sudah melupakan kekesalannya terhadap suaminya Ibrahim Khalid yang belum datang juga. Padahal sudah hampir lima jam mereka menunggu.
Aliya berdiri dari duduknya karena sudah kenyang dengan menu ala kadarnya yaitu bakso dan sosis goreng,serta sosis dan bakso bakar.
"Kalau gitu kalian cepat habiskan makanannya, terus lekas gosok gigi yah Nak sudah larut malam soalnya besok kan mau sekolah, jadi tidak perlu nungguin Papa sampai pulang," ujarnya Aliya setelah membereskan sisa-sisa makanan anaknya itu.
Jingga membersihkan bibirnya dengan tissue yang baru ditaruh Aliya diatas meja makan.
Jingga tersenyum tipis kemudian ikut berdiri dari posisi duduknya semula, "Siap Mamaku yang paling cantik dan paling jago masak," pujinya Jingga.
Kedua anak kembarnya tidak lupa mengecup pipinya Aliya yang sudah menjadi kebiasaan keduanya setiap hari ia lakukan. Aliya membungkukkan sedikit tubuhnya, karena kedua anaknya akan mengecup pipinya sekilas sebelum meninggalkan dapur.
Aliya Azizah Humairah kemudian mengusap satu persatu puncak rambut panjang hitam legam kedua putrinya yang selalu membuatnya merasa bahagia dan bersyukur dengan kehidupannya sekarang. Ia mendudukkan bokongnya ke atas kursi dapur setelah melihat anaknya sudah jauh dari tempatnya.
"Syukur alhamdulillah, makasih banyak ya Allah… anakku bisa mengerti dengan penjelasanku dan tidak lagi mempermasalahkan ketidak hadirannya Mas Ibra, apa aku tanya saja kepada Mas Ibra kalau balik nanti, karena aku yakin pasti ada sebabnya sehingga Mas Leo seperti ini," gumamnya Aliya sembari membereskan meja dapurnya.
__ADS_1
Setelah aktifitas dan rutinitas hariannya selesai, Aliya bergegas mengganti pakaiannya dengan piyama tidur berwarna pink soft, pakaian itu terasa begitu pas dan cocok di tubuhnya.
Seperti biasanya, Aliyah akan duduk di kursi plastik yang ada di sudut pojok kamarnya. Setelah anaknya tidur,ia mulai mengerjakan apa yang sejak dua hari lalu belum dilaksanakannya.
"Bismillahirrahmanirrahim semoga saja apa yang saya lakukan hari ini berhasil dan membawa berkah dan kebaikan untuk saya dan keluargaku,amin ya rabbal alamin," cicitnya Alia.
Aliya mulai membuka salah satu aplikasi novel online hasil rekomendasi dari teman facebooknya itu. Dia bersyukur karena semua teman facebooknya memberikan informasi yang cukup penting baginya untuk memulai kegiatan tambahannya sebagai penulis. Ia juga berharap bisa seperti teman-teman onlinenya yang berhasil di dunia literasi online.
Alia sangat berharap apa yang dilakukannya bisa bermanfaat untuk dirinya terkhusus, bagi anak-anaknya dan juga orang banyak pada umumnya. Aliyah gembira, karena teman onlinenya semuanya tidak ada yang pelit ilmu untuk berbagi resep bagaimana cara menulis novel online yang benar dalam diminati banyak pembaca.
Aliya pun memulai menulis sebuah cerita tentang pengalaman masa remajanya yang pastinya ia tuangkan dalam bentuk tulisan. Ide yang dia tulis mengalir begitu saja dengan perasaan yang santai dan tidak tertekan dalam menjalankan kegiatannya itu. Aliya senang dan bersyukur, karena dalam mengolah kata tidak mengalami kesulitan yang berarti.
Untungnya sejak dia masih duduk di bangku sekolah menengah pertama,ia sering mengarang cerita sehingga dalam menulis novel online sangat terbantu dengan pengalamannya itu. Hingga larut malam, kegiatan barunya cukup menyita waktu dan perhatian. Hingga tengah malam pekerjaannya itu belum selesai juga. Ia asyik dalam menulis cerita sampai-sampai sudah melupakan, jika suaminya belum pulang juga dari tempat kerjanya.
Adinda celingak-celinguk mencari keberadaan seseorang dari dalam rumahnya Aliya, "Assalamualaikum Mbak Aliya," sapanya Adinda perempuan yang sudah tiga bulan lebih itu menjadi tetangga barunya.
Aliya segera menyudahi kegiatannya memetik cabai dan tomat. Ia menyeka keringat bercucuran membasahi pipinya itu.
"Waalaikum salam, maaf ada yang bisa aku bantu?" Tanyanya Aliya yang sama sekali tidak curiga dengan maksud dan kedatangannya Adinda sepagi itu datang ke rumahnya.
"Apa aku bisa meminta waktunya sebentar ada hal penting yang ingin aku bicarakan dengan Mbak," pintanya Adinda.
__ADS_1
Aliya memperhatikan sekitarnya lalu tersenyum tipis," boleh, saya hanya wanita rumah tangga yang hanya berdiam di rumah tidak punya aktifitas atau pekerjaan di luar jadi aku punya banyak waktu luang beda dengan kamu yang wanita karir," imbuhnya Aliya yang entah kenapa ia berbicara seperti itu.
Adinda terkekeh mendengar perkataan dari Aliya," Mbak bisa saja, saya juga sudah santai Mbak suamiku melarang aku kerja lagi karena aku hamil," ucapnya Adinda seraya mengelus punggung puncak perutnya yang buncit itu.
"Syukur Alhamdulillah kalau kamu hamil, berapa bulan sudah?" Tanyanya Aliya seraya membereskan perlengkapan kebunnya itu.
"Sudah jalan lima bulan Mbak, katanya dokter insya Allah anak laki-laki anak pertama kami," jelasnya Adinda yang kelihatan gembira dengan kabar kehamilannya itu.
Aliya terdiam dan teringat dengan suaminya yang pernah mengungkapkan keinginannya untuk memiliki anak laki-laki tapi, sampai saat ini belum lagi dikaruniai dan diberikan kepercayaan oleh Allah SWT untuk kembali hamil, padahal ia sama sekali tidak memakai alat kontrasepsi.
"Ya Allah…andaikan aku juga hamil pasti Mas Leo akan bahagia karena ia sangat menginginkan anak laki-laki," batinnya Aliya.
Adinda tersenyum penuh maksud melihat Aliya terdiam sejenak memikirkan kondisi kesehatannya yang belum hamil juga setelah melahirkan kedua anak kembarnya kurang lebih sembilan tahun lalu.
Adinda menyentuh punggung tangannya Aliya yang terdiam mematung," Mbak Aliya apa kamu baik-baik saja?" Tanya Adinda yang berusaha untuk menyadarkan Aliya dari lamunannya itu.
Aliya tersentak mendengar suaranya Adinda," ehh maaf saya tadi saya kepikiran saya belum membangunkan suamiku karena katanya hari ini hari pertama ia masuk kerja," elaknya Aliya yang tidak ingin Adinda mengetahui jika ia bersedih dengan keadaannya.
"Ohh tidak apa-apa, kalau Mbak sibuk silahkan lanjutkan pekerjaannya, aku pamit dulu lain kali kita lanjutkan bincang-bincangnya karena aku tidak ingin mengganggu aktivitasnya Mbak," ujar Adinda yang berpamitan kepada Aliya.
Aliya segera meraih bakul sayur dan buah-buahannya kemudian berjalan cepat ke arah dalam rumahnya itu.
__ADS_1
"Setiap hari mulai detik ini saya akan datang untuk membuat kamu menyesali ketidakberdayaanmu sebagai seorang istri yang tidak mampu memberikan anak laki-laki untuk mas Leo," Adinda menatap penuh misteri ue arah punggung Aliya yang semakin tidak kelihatan.