
"Kita langsung ke rumahnya Nenek atau mungkin akan singgah ke suatu tempat yang ingin kamu datangi?" Tanyanya Kabir sambil memasang seat belt ke tubuhnya.
Senja bukannya memakai seatbelt malah melingkarkan kedua tangannya ke lehernya Kabir.
"Abang, apa suamiku tidak akan pergi lagi sesudah hari ini?" Tanyanya Senja yang menatap intens ke arah kedalam bola matanya Kabir suaminya.
Kabir tersenyum smirk melihat sikapnya Senja yang sungguh berbeda dengan biasanya.
Kabir menoel hidungnya Senja yang mancung nan bangir, "Tergantung dari sikap kamu, kalau tidak bisa bahagiain abang mungkin saya akan balik ke New York lagi untuk setahun atau mungkin lebih," ujarnya Kabir.
Senja terkejut mendengar perkataan dari mulut suaminya langsung, tapi dia segera menyembunyikan perasaannya yang kecewa mendengar perkataannya Kabir.
"Maksudnya tergantung! Hemph, tergantung apanya bang?" Tanyanya balik Senja.
Kabir bukannya langsung menjawab rasa penasaran istrinya itu malah semakin mempermainkan Senja saja. Kabir segera menangkupkan tangannya ke leher jenjangnya Senja yang tertutupi hijab berwarna merah muda itu.
"Tergantung kamulah apa sanggup membahagiakan suamimu ini atau kah enggak, kalau tidak bisa bahagiakan aku pasti aku akan memilih untuk pergi lagi dan mungkin kali ini bakalan lama," ujarnya Kabir yang tersenyum penuh arti.
Senja menggenggam kedua tangannya Kabir sambil sesekali dikecupnya punggung tangan itu, "Abang mungkin selama ini aku sudah banyak salah sama abang, aku meminta maaf yang sebesar-besarnya kepada abang atas salah dan khilafku, karena keegoisanku untuk memilih meminum pil KB sehingga kita terlambat memiliki anak, ini semua keputusan aku yang paling bodoh,dan konyol serta keliru besar, jadi aku mohon maafkan aku sayang," ucapnya sendu Senja Starla.
"Kalau kamu sanggup bahagiakan aku kamu sudah pasti lolos dalam tahap ujian awal membuktikan padaku jika kamu sudah berubah tidak seperti dulu lagi, aku bisa mengetahui apa kamu mencintaiku atau hanya di mulut doang," ujarnya Kabir.
Senja tanpa ragu segera mendekatkan wajahnya ke hadapannya Senja tanpa ada sekat dan pembatas lagi. Senja tanpa banyak pikir langsung mee luuu maaat bibir seksinya Kabir yang merah seperti bibir perempuan saja.
Kabir sedikit tersentak terkejut ketika Senja melakukan hal-hal yang sama sekali tidak pernah dilakukannya itu selama pernikahannya yang sudah hampir setahun.
Kabir awalnya enggan untuk membalas apa yang dilakukan oleh Senja, karena ingin melihat apa yang dilakukan oleh Senja selanjutnya. Tapi,lama kelamaan ikut terpengaruh juga dan terbawa suasana dalam permainan yang diciptakan oleh Senja.
Aku akan melihat sejauh mana kamu akan membahagiakanku, tapi maaf saja mungkin aku harus jual mahal terlebih dahulu.
Agar aku bisa melihat kesungguhan hatimu untuk membuatku terus bertahan dan berdiri di sampingmu.
__ADS_1
Kabir malah tertantang dengan apa yang dilakukan oleh Senja, sehingga awalnya tidak berniat berakhir dengan membalas perlakuan lembutnya Senja.
Aku tidak boleh memperlihatkan langsung di depannya, jika aku suami yang tidak bisa hidup tanpa dirinya disisiku.
Aku harus berpura-pura untuk tidak menunjukkan langsung kepadanya, rasa cintaku padanya terlalu besar.
Sehingga aku yang memutuskan untuk meninggalkannya bahkan berencana untuk meninggalkannya sampai dia melahirkan, tapi buktinya aku sangat tersiksa hidup tanpa mendengar suaranya, tak bisa melihat lagi senyumannya.
Ya Allah aku terlalu jatuh dalam cintanya sehingga aku tidak sanggup untuk bangkit lagi. Saking aku berusaha untuk menjauh semakin hati ini tersiksa dan membuatku hancur.
Kabir semakin memperdalam ciumannya itu tanpa disadarinya dia sendiri takluk dan bertekuk lutut dalam permainan istrinya sendiri.
Sudut bibirnya Senja terangkat ke atas saking bahagianya, karena suaminya membalas ciumannya itu. Keduanya saling membelit lidah masing-masing. Bertukar saliva, hingga saling menyalurkan rasa rindu yang sangat mendalam dalam penyatuan kedua bibir mereka.
Tangannya Kabir pun sudah tidak terkendali dan menjalar kemana-mana. Tangannya perlahan mengekspansi semua daerah yang mampu dijangkaunya. Senja yang mendapatkan perlakuan seperti itu dari suaminya, tidak menolak, melawan ataupun menghentikan apa yang dilakukan oleh Kabir.
Augh!!
Hemph!!
Senja pasrah dengan apa yang dilakukan oleh Kabir, dia sama sekali tidak menghalangi suaminya bertindak lebih dari apa yang sedang dilakukan oleh Kabir.
Kabir segera mengunci rapat semua jendela mobilnya dan mengatur jok mobilnya dengan baik agar Senja lebih nyaman dan kegiatan keduanya tidak terganggu.
"Sen, mana ponselmu?" Pintanya Kabir yang sudah berada di atasnya Senja.
Senja hanya menunjuk ke arah handbadnya, karena dia menyimpan hpnya di dalam tasnya.
"Tapi kenapa dan ada apa dengan hpku bang?" Tanyanya Senja yang tidak mengerti kenapa suaminya meminta ponselnya itu.
Kabir hanya menunjukkan kehadapannya Senja ponselnya yang sementara ia matikan. Senja pun manggut-manggut saja karena sudah paham dengan apa yang diperbuat oleh suaminya itu.
__ADS_1
Kabir segera menonaktifkan ponselnya Senja setelah hpnya juga dalam keadaan mati total.
"Aku matikan karena aku tidak ingin hari ini aku mendapatkan banyak gangguan dari orang lain, aku ingin sore ini hingga pagi esok hari hanya ada aku dan kamu hanya kita berdua saja tanpa ada orang lain yang akan mengusik ketenangan kita," jelasnya Kabir.
Senja menarik kera bajunya Kabir hingga hampir saja Kabir menekan perut buncitnya Senja, untungnya Kabir segera cepat dan lincah bergerak sehingga tidak menimpuk perut buncitnya Senja.
Senja mengecup sekilas bibirnya Kabir sebelum berbicara, "Tapi, sayang sepertinya kurang nyaman dan enak kalau kita melakukannya disini, sebaiknya kita cari tempat yang lebih baik dari ini," tuturnya Senja yang bernada permintaan itu.
Kabir sangat mengerti dengan apa yang dikatakan oleh istrinya itu," baiklah karena ratuku meminta tempat yang lebih bagus dari ini, aku akan mengabulkannya apapun itu," balasnya Kabir.
Senja bangkit dari posisi baringnya itu sambil memperbaiki letak hijab dan pakaian yang dipakainya itu. Sedangkan Kabir mengaktifkan layar ponselnya kembali.
Senja yang melihat kancing kemeja suaminya masih terbuka segera membantunya. Ia mengancingkan pakaiannya satu persatu. Kabir yang melihat langsung, segera menghentikan kegiatannya itu sambil menikmati apa yang dilakukan oleh Senja.
Entah kenapa aku sama sekali tak mampu untuk membencimu, bahkan aku terlalu mencintaimu sehingga aku mengingkari sendiri ucapan dan janjiku dulu jika aku tidak akan pernah memaafkan atas kesalahan yang pernah kamu lakukan.
Senja akhirnya bernafas lega karena tidak mungkin dia memenuhi tanggung jawab dan kewajibannya sebagai seorang istri di dalam mobil dimana dia sedang berada di area parkiran.
Alhamdulillah suamiku mendengarkan perkataanku, kalau tidak entar orang-orang pada lihat mobil aneh yang bergoyang dan terguncang dengan ulah kami berdua.
Kabir segera menghubungi nomor ponselnya Antoni dan Mike untuk mengurus tempat yang akan dikunjungi bersama dengan istrinya.
Aku berjanji tidak akan ijinkan masalah yang pernah aku perbuat dimasa lalu terulang kembali.
Aku juga tidak akan ijinkan ada perempuan lain yang akan mengusik ataupun menganggu kebahagiaan kami berdua dan calon ketiga anak kembarku.
Tapi, ngomong-ngomong perempuan hamil yang datang bersama bang Kabir di rumah sakit, perempuan itu siapa dan apa hubungannya dengan bang Kabir.
Kenapa bisa aku melupakan hal sangat penting itu, aku tidak akan menganggap remeh masalah ini dan aku harus segera bertanya mengenai siapa wanita hamil itu.
Senja terdiam sesaat dan berfikir mengenai masalah bumil yang sama sekali tidak dikenalnya dan juga bukan anggota keluarga suaminya.
__ADS_1