
Kabir berjalan cepat tak tentu arah saking sakit hatinya mendengar perkataan dari Senja langsung di hadapannya.
Di tengah jalan ia berhenti dan memukul tembok yang kebetulan berdiri kokoh di jalan yang dilewatinya itu.
Bugh!!
Aghh!!
Teriaknya Kabir sambil meninju tembok beberapa kali hingga tangannya memar hingga ada darah menetes membasahi celah tangannya itu.
Kabir menumpukan tangannya ke tembok bekas pukulannya itu, "Senja kenapa kamu seperti in?! Kenapa? Apa salahku padamu! Kenapa bisa kamu bersikap tidak adil padaku!" Jeritnya Kabir yang untungnya koridor lorong rumah sakit yang dilaluinya terbilang cukup sepi sehingga apa yang dilakukannya sama sekali tidak ada yang melihatnya.
Kabir terduduk di atas lantai dengan wajahnya yang kusut, penampilannya cukup berantakan tidak seperti biasanya yang selalu bersih dan rapi dalam balutan pakaian apapun.
Aku akan buktikan kepada Senja jika dia tak akan bisa menceraikan diriku, apapun yang terjadi. Bahkan jika dia meminta cerai padaku, aku akan membuat dia tidak akan bisa melihat seluruh anggota keluarganya!.
__ADS_1
Kabir segera bangkit dari posisi duduknya itu, dan segera pergi menuju parkiran. Dia ingin pergi jauh sementara waktu dari sisi istrinya.
"Andreas katakan pada orang di Amerika Serikat, jika saya akan berangkat ke sana menangani proyek besar perusahaan kita, untuk delapan bulan lamanya," pintanya Kabir kepada sekretarisnya.
"Tapi, Tuan Muda bagaimana dengan Nyonya Muda yang sedang hamil?" Tanyanya balik Andreas yang sedikit protes dengan keputusan atasannya itu.
"Kamu tidak perlu mengurusi semua itu, yang pantas kamu kerjakan kerjakanlah janganlah banyak tanya!" Ketusnya Kabir segera menutup telponnya itu.
Kabir menggenggam ponselnya dengan cengkeraman yang sangat kuat dan kembali melanjutkan perjalanannya ke arah parkiran mobil.
Bu Hanin Mazaya yang melihat putranya pergi dengan terburu-buru hendak mencegah kepergian Kabir. Ia pun segera berjalan cepat menuju putranya itu sambil berteriak.
"Kabir! Hey kamu mau kemana Nak?" Jeritnya Bu Hanin bundanya Kabir.
Pak Abbas Khaer segera menarik tangan mantan istrinya itu, "Hanin, hentikan! Kamu jangan buang-buang waktu dan tenaga untuk memanggilnya kembali, karena semua itu percuma saja, anakmu sama sekali tidak mendengar suaramu," cegahnya Pak Abbas.
__ADS_1
Hanin segera menghentikan apa yang dilakukannya itu, ia menuruti apa yang dikatakan oleh Abbas papa sambungnya Kabir Kasyafani Sanders.
"Aku sangat bahagia akhirnya Kabir akan mendapatkan anak dan penerus keluarga besar Nasution dan Sanders," ucapnya bbu Claudia neneknya Kabir ibundanya Pak Abbas.
"Amin, Alhamdulillah saya juga sangat bahagia Ma, karena putraku akan segera memiliki anak," ujarnya Hanin.
Jingga duduk di sampingnya Senja dengan terus memandangi adiknya yang sebenarnya dalam tidak baik-baik saja. Jingga memegangi tangan kanannya adiknya itu.
"Sen, aku yakin ada yang terjadi antara kamu dan suamimu dan aku tidak ingin mencampuri urusan kalian berdua, tapi aku sebagai kakak hanya mampu memberikan nasehat sekaligus masukan kepada adikku ini," tuturnya Jingga.
Senja segera menyandarkan kepalanya ke headboard ranjang bangkar perawatan rumah sakit. Ia berusaha keras untuk tersenyum padahal hatinya terluka dan sakit melihat suaminya sendiri marah padanya untuk pertama kalinya dalam pernikahannya yang sudah berjalan setengah tahun itu.
Ya Allah bagaimana caranya aku mengatakan kepada mereka jika aku sedang... cukup aku lah yang mengetahui kenapa aku bersikap seperti ini.
Maafkan aku Pak Kabir, rasa cintaku padamu harus aku kubur dalam-dalam dan mungkin ini yang terbaik untuk kita berdua.
__ADS_1