
Berita duka mendalam dirasakan segenap anggota keluarganya dan juga sanak saudara serta kerabat maupun sahabat-sahabatnya. Semua orang bersedih atas kepulangan ke Rahmatullah kedua orang yang dikabarkan tidak pernah terdengar jika dalam kondisi yang sakit atau mengidap penyakit apapun.
"Innalilahi wa innailaihi rojiun, pak Leo, Bu Aliah kami tidak menyangka Anda akan pergi begitu cepat,"
"Iya mereka seperti sudah janjian untuk meninggalkan dunia ini bersama-sama, entah bagaimana dengan kondisi bayinya Bu Aliah kasihan," sahutnya yang satunya.
"Senja dan Jingga katanya pingsan Bu, mereka sudah diperiksa oleh dokter keluarga dan kita bantu mereka dengan doa agar lebih tabah,tegar dan ikhlas menjalani cobaan hidup ini,"
"Amin ya rabbal alamin," sahut semuanya.
Kabir terus berusaha untuk membangunkan Senja agar segera tersadar dari pingsannya, Kabir tidak tahu apa lagi yang harus diperbuatnya agar Senja Starla Airen siuman.
"Istriku, aku mohon sadarlah, lihatlah ke sana anak-anak kita sudah menangis melihat kamu seperti ini," Kabir sudah pasrah melihat kondisinya Senja.
"Mas tenang saja, insha Allah Mbak Senja akan segera siuman kok, setelah aku periksa tekanan darah dan lainnya semuanya normal dan stabil, Mbak Senja hanya shock saja," jelasnya Hana Aerin yang membereskan peralatan medisnya.
"Bagaimana dengan Jingga Dok, apa dia juga baik-baik saja dan calon bayinya gimana?" Tanyanya Zania Mirzani yang mengkhawatirkan juga kondisinya Jingga.
Hana tersenyum sekilas sebelum menjawab pertanyaan dari Zania," Alhamdulillah dia juga baik-baik saja, dan dia sudah sadar tapi sangat trauma dengan berita duka ini," jelasnya Hana dokter keluarga Nasution sekaligus istrinya Gilang Ramadhan Sananta.
"Alhamdulillah kalau dia sudah siuman, tersisa Senja yang masih betah seperti ini," ucapnya sendu Zania.
"Wajarlah Senja seperti ini, siapapun yang berada diposisinya Senja pasti akan shock dan tidak percaya dengan kejadian ini, dalam sehari kehilangan kedua orang tuanya, apalagi mereka memiliki adik bayi, kasihan banget dengan Ocean Skala nasibnya baru lahir sudah menjadi anak yatim piatu," imbuhnya Icha.
Icha Khaerunnisa dan Zania yang sesekali mengusap air matanya menggunakan tissue yang stoknya sudah hampir ludes. Zania dan Icha bergantian dengan baby sitter di kembar untuk menenangkan mereka yang sedikit rewel karena lapar ingin asi.
__ADS_1
Semuanya terdiam dan dalam hati terus merafalkan doa-doa dan kalimat-kalimat tauhid untuk mengagungkan asma Allah SWT didalam sanubari mereka sebagai penguat menghadapi kerasnya cobaan ini.
Hingga suara sirine ambulan semakin terdengar lantang dan nyaring pertanda jenasah almarhum Leo Carlando Zain Pratama sudah tiba di rumah duka.
Bersamaan itu pula, Senja tersadar dari pingsannya.
Semua orang sudah berkerubun dan memenuhi mobil ambulance sudah terparkir tepat di depan pintu garasi. Sirine ambulan pun dimatikan berserta mesin mobilnya. Senja pun segera terbangun dan tanpa aba-aba langsung bangkit dari baringnya.
"Papa, Mama aku ingin pergi melihat mereka bang Kabir," teriaknya Senja.
Kabir segera menenangkan Senja dengan memeluk tubuh istrinya itu," Abang mohon dengan sangat padamu, jangan seperti ini aku mohon sabarlah Senja, lihatlah anak-anak kita mereka sangat butuh momsnya sedangkan kamu menggendong saja mereka kamu enggan," ucapnya Kabir yang sengaja berbicara seperti itu agar istrinya segera tersadar.
Senja menolehkan kepalanya ke arah ketiga buah hatinya yang sedang digendong. Air matanya kembali tumpah ruah membasahi pipinya itu. Kedua bola matanya dan hidungnya sudah memerah sembab dan suaranya sudah parau saking lamanya menangis.
Senja melerai pelukannya dari suaminya itu, dia berjalan ke arah Gibran yang paling keras suara tangisannya itu. Dia berjalan gontai menuju ke tiga anaknya berada.
"Aku ingin berikan ASI, tapi aku enggak mau anak gadisku jadi saudara susu dengan anakmu, pengennya mereka jodoh kelak," candanya Zania yang berusaha untuk menghibur Senja.
Sedangkan Senja hanya melengkungkan bibirnya sepintas lalu kemudian mencari tempat ternyaman untuk meny*sui anak pertamanya itu.
Senja membelai rambutnya Gibran yang semakin tumbuh lebat itu sedangkan Gibran seakan mengerti dengan apa yang terjadi pada mamanya itu dia menyentuh pipinya Senja yang basah dengan jari mungilnya.
"Mom… mommy," ucapnya bayi berusia delapan bulan itu.
Semua orang terenyuh melihat interaksi kedua anak mama itu, mereka semakin sedih dengan sikapnya Gibran yang sangat pengertian terhadap Mamanya. Gibran dan kedua adik kembarnya spontan menghentikan suara tangisannya ketika Senja sudah siuman.
__ADS_1
"Sayang mami Aliya sudah pergi untuk selamanya meninggalkan Mama, Gibran,adek Joanna,dede Jihan juga, kamu harus doakan mami dan papi yah sayang," Senja memainkan jari jemarinya Gibran sambil memberikan asi kepada anak-anaknya nanti secara bergantian.
Senja memang mengajarkan kepada ketiga anaknya itu untuk menyapa dan memanggil mamanya dengan sebutan mami dan papi. Karena katanya Aliah dia masih sangat muda untuk dipanggil nenek, jadi mereka sepakat dan setuju memanggil kedua orang tuanya dengan sebutan mami papi hingga hari ini.
Kabir pun mengendong Joanna yang sedari tadi mengayungkan tangannya ke arah daddynya itu.
"Putrinya Daddy, kamu harus membantu mommy yah sayang, kasihan moms lagi sedih karena mami Aliaya sudah pergi untuk selamanya," ucapnya Kabir yang memangku putrinya yang memeluk bonekanya sedari tadi.
"Anak-anak kamu awalnya rewel mungkin karena mengerti jika Nenek dan kakeknya meninggal dunia, tapi kamu sebagai Mommynya harus pintar-pintar jangan terlalu sering memperlihatkan kesedihanmu di depannya mereka langsung," nasehatnya Bu Hanin Mazaya.
"Iya Nak apa yang dikatakan oleh Mama mertuamu memang benar adanya, semua ini sudah terjadi dan hari ini adalah hari dimana Allah SWT telah menetapkan jika Papa dan Mama kamu akan meninggal dunia dan pergi meninggalkan kita untuk selamanya," sahutnya Bu Aisyah kakak sepupunya Aliah.
Bu Aisyah menyeka air matanya yang sebenarnya rencana kedatangannya ke Jakarta dari Banjarmasin Kalimantan Selatan hanya untuk memberikan kejutan, karena hari ini kebetulan bersamaan dengan hari akad nikahnya Aliaya dan Leo untuk yang kedua kalinya.
"Aliyah adikku,kami sangat kehilangan kamu dek, tetapi Allah SWT lebih mencintai kalian berdua dibandingkan kami saudaranya, kalian tenanglah di alam sana karena kami juga pasti akan mengikhlaskan kepergian kamu untuk selamanya," ucapnya sendu Bu Aisyah orang yang dulu membantunya ketika pindah dari Jakarta ke Banjar.
Aisyah satu-satunya sepupu satu kalinya yang Alia miliki di dunia ini, banyak sanak saudara tapi sudah agak jauh pertalian darahnya.
Mereka bergantian menasehati Senja dan Jingga, mereka tidak ingin karena anak-anaknya belum mengikhlaskan kepergian kedua orang tuanya sehingga perjalanan mereka menjadi terbebani dan mendapatkan siksaan.
"Bibi, Tante, paman, suamimu siapapun itu di dunia ini bahkan dimanapun mereka berada akan mengalami namanya kematian cepat atau lambat. Di dalam setiap jiwa anak cucu Adam yang meninggal dunia banyaknya pesan moral dan nasehat yang ditinggalkan untuk umatnya nabi Muhammad Saw yang masih hidup," timpalnya Bu Karmila sepupu Leo dari pihak bapaknya.
"Iya benar sekali itu Non Senja, siapa saja yang berada di posisi kamu pasti akan berduka cita dan sangat sedih, tapi kita tetap harus wajib sabar dan tawakal kepada Allah SWT mejalani yang namanya ujian kematian," nasehatnya penuh bijaksana bi Minah.
Apa yang mereka katakan memang benar adanya, aku tidak boleh terus berlarut larut dalam kesedihan.
__ADS_1
"Kamu boleh sedih dan menangis, tapi jangan sekali-kali meratap atau pun meraung keras disaat mendapatkan cobaan kematian," timpal pak Abdul Aziz Pamannya Senja suami dari Bu Aisyah.