
Ibu Sita Marsita, Leo Carlando Zain Pratama, Lutfi Khaer, Jingga Aurora Zain, dan Adicandra Bima Satria sudah duduk saling berhadapan di meja makan.
Papa terlalu lemah,bego dan tolol telah menyia-nyiakan istri dan anaknya papa. Kalian harus tumbuh besar tanpa ada Papa mendampingi kalian setiap harinya.
Aku berharap putriku yang satu tidak akan marah padaku yang telah menelantarkan kehidupan mereka dengan menukar kebahagiaan putraku.
Kebetulan Bu Sita neneknya Jingga baru saja selesai masak untuk santap siang mereka. Jingga dan Abrizam Abraham Samad sebenarnya sudah kenyang karena mereka sudah makan di tempat arisan keluarga tapi, karena untuk menghormati neneknya Jingga mau tidak mau harus ikut gabung makan.
Bu Sita tersenyum, "nenek sangat bersyukur karena akhirnya Nenek bisa berjumpa dan berkumpul bersama dengan cucu cantiknya Nenek,dulu hanya cucu cowoknya Nenek yang ganteng ini setiap hari menemani Nenek, apa kamu senang bertemu dengan Nenek Nak?" Tanyanya Bu Sita seraya menatap intens ke arah cucu sulungnya itu.
Jingga pun ikut tersenyum mendengar perkataan dari neneknya,' aku gembira sangat lah nenek, karena sejak aku lahir hingga beberapa detik yang lalu, aku tidak pernah melihat nenek aku kayak gimana, tapi hari ini Alhamdulillah banget bisa bertemu dengan Papa lagi, ada Paman, dedek Chandra dan juga tentunya nenek Sita yang paling cantik," ujarnya Jingga yang selalu tersenyum simpul saking bahagianya dengan kesempatan pertemuan kali ini.
Bu Sita memegangi punggung tangannya Jingga," Nenek bangga padamu, Aliya memang seorang wanita sekaligus ibu yang mampu mendidik anak-anaknya dengan baik tanpa ada suami yang mendampinginya," pujinya Bu Sita.
"Siapa dulu dong Nenek putrinya Mama Aliyah Azizah Khumaira loh," sahutnya Chandra yang tidak mau mengalah dengan pembicaraan orang dewasa yang hanya dia yang anak kecil diantara mereka semua.
"Kalau bicara terus kapan nih kampung tengah diisi, perutku sudah berbunyi bagaikan genderang mau perang saja," candanya Leo sembari mengelus perutnya yang datar itu.
Semua tertawa terbahak-bahak melihat tingkahnya pria yang sudah masuk usia 40 an tapi, masih muda dengan tubuh kekarnya.
__ADS_1
"Iya yah kalau gitu ayok kita makan, semoga saja kalian menyukai masakannya Nenek, kalau Abryz mah dia selalu suka dan doyang dengan apapun masakan yang dimasak Nenek, bahkan kalau datang kesini selalu merequest masakan sama nenek," kelakarnya Bi Sita.
Satu persatu mereka menikmati sajian makanan yang berada di depan mereka masing-masing. Semuanya larut dalam kebahagiaan karena menyantap makanan yang sungguh lezat sambil berbincang santai semakin menambah keakraban dari mereka semua.
"Nenek kok buka kartu segala, padahal aku tidak ingin diketahui oleh gadis tercantik yang ada di dalam sini loh," balasnya Abris dengan bergurau pula.
Lutfi yang kebetulan duduknya berdekatan dengan Abriz segera menautkan tangan kanannya ke lehernya adik dari salah satu sahabat terbaiknya itu, "Awas yah kalau sampai kamu permainkan keponakanku, jika kamu ada niat untuk lukai hati dan perasaannya keponakan tercantikku, kamu akan berurusan dengan ku, ingat itu baik-baik, ini ultimatum untuk kamu kedepannya!" Tegasnya Lutfi.
Semua orang kembali tertawa terpingkal-pingkal melihat Abriz yang diperlakukan seperti itu oleh adiknya Leo. Luthfi dan kakak satu-satunya Abryzan yang bernama Abidal adalah teman kerjanya Lutfi sekaligus teman semasa kuliahnya.
"Saya tidak mau janji apapun, tapi satu hal yang Paman perlu ketahui jika hatiku tulus mencintai Jingga dan jika saya kelak sudah punya masa depan yang baik insha Allah saya dengan papa dan Mama akan melamar Jingga untuk menjadi bidadari surgaku di dunia hingga di akhirat," tegasnya Abrisam dengan penuh kedewasaan.
Candra membantu menepuk punggungnya Jingga dengan tepukan pelan. Jingga menatap jengah pria yang baginya tidak lebih dari musuh setiap harinya di kampus.
Abrizam hanya menaikkan pundaknya dengan senyuman menyeringai lebar ke arahnya gadis yang memang disukainya sejak pertama kali bertemu, tapi sungkan dan gengsi untuk mengutarakan langsung niat dan isi hatinya tersebut.
"Jingga Papa janji akan berusaha sekuat tenaga dan semampunya Papa untuk menaklukkan kembali hati mamamu dan membuktikan kepada Mamamu jika Papa sudah berubah untuk menjadi suami yang lebih baik penuh dengan tanggung jawab," Leo bertekad pada dirinya sendiri jika sesulit apapun untuk mendapatkan kembali cintanya Aliya, Leo akan melakukan segala macam cara untuk merealisasikan rencananya tersebut.
Berselang beberapa menit kemudian, Jingga harus segera berpamitan kepada Papa, nenek dan adiknya karena pamannya sudah kembali ke tempat kerjanya setelah balik ke rumah untuk istirahat.
__ADS_1
Jarak kantor dengan rumahnya terbilang cukup dekat, sehingga jika tidak banyak pekerjaan maka dia akan balik untuk santap siang di rumahnya.
Bu Sita menyerahkan dua kotak mika yang berisi dua jenis kue kering dan basah serta rendang daging sapi asli buatannya sendiri di dalam rantang.
"Sayang ini ada kue dengan rendang asli buatan anak Indonesia Padang untuk mama kamu dan juga Senja semoga mereka menyukai masakannya Nenek, ingat yah kalau ada waktu luang dan kamu senggang datang lah Nak ingat ini rumahnya papa kamu berarti rumah kamu juga," ujarnya Bu Sita yang memeluk tubuh cucunya itu yang tampila feminim hari itu.
"Insya Allah Nek saya dengan Senja pasti akan sering-sering datang kesini, doakan saja semoga Papa segera balikan dengan Mama Alia, Papa ingat jangan mudah menyerah harus tetap semangat, saya akan bantuin papa kok tapi ingat harus usaha, ikhtiar, doa dan juga berserah diri kepada sang khalik sang Maha Pencipta," tuturnya Jingga panjang kali lebar sebelum memakai helmnya untuk bersiap pulang.
"Maafkanlah Papa yang tidak bisa mengantar kamu pulang nak, karena Papa tiba-tiba ada rapat mendadak, jadi Abriz yang akan mengantar kamu pulang, ingat kalau sudah sampai rumah cari tempat khusus untuk nelpon Papa yah," pintanya Leo sembari mengecup keningnya Jingga penuh dengan kasih sayang.
"Tidak apa kok Pa, saya pamit pulang dulu,Nenek makasih banyak dan maaf sudah merepotkan kalian dengan kehadiran kami tanpa pemberitahuan sebelumnya," ucapnya penuh penyesalan dari Jingga.
Jingga satu persatu mengecup punggung tangan kedua orang tua di dalam keluarganya yang terpisah karena kesalahan dari pria yang sering disapa papa itu. Kesalahan terbesar dalam hidupnya adalah berselingkuh dan ketahuan kesalahannya terbesar dalam hidupnya itu.
Sebelum meninggalkan garasi rumah tersebut," assalamualaikum Pa,Nek, Dede Candra harus semangat belajar dan lebih giat lagi supaya nilainya semakin bagus lagi," pamitnya Jingga.
Jingga memasang helm ke atas kepalanya itu seraya memasang pengikat helmnya itu. Senyuman tulus penuh suka cita mengantar kepulangannya Jingga dan Abryzan. Deru mesin sepeda motor tersebut ketika bertolak dari dalam carport menuju jalan raya.
Leo menyeka air matanya yang menetes sejak tadi. Dia bahagia sekaligus sedih, karena banyak waktu yang terbuang selama lebih sepuluh tahun lebih itu tanpa kehadirannya.
__ADS_1
"Ya Allah lancarkan lah semua niat dan usaha kami ini, semoga saya bisa segera kembali bersatu dengan Aliah Aziza Humaira,"